Lelaki di Jogging Track

Kralingse Bos di penghujung musim gugur. Sepi. Tidak banyak warga Rotterdam yang berminat menghabiskan waktu di taman kota ini pada suhu udara 5 derajat celcius. Rasanya memang lebih baik menghabiskan sore di rumah, bercengkrama dengan keluarga, ditemani segelas coklat hangat.

Kecuali aku. Dan lelaki itu.

Sore yang dingin, dan gelap yang lebih cepat datang, tidak menyurutkan hobiku duduk-duduk di kursi kayu, mendengarkan ipod sembari memandang kosong ke danau buatan. Rindu Rumah. Rindu Indonesia. Hampa.

Lalu lelaki itu? Rasanya kegiatan dia lebih produktif dibanding kegiatan bengongku. Biasanya dia jogging selama 30menit. Memutari lintasan sekitar taman dengan pakaian olahraga tertutup rapat, untuk menghalau dingin.

Sepertinya sudah satu bulan aku melihatnya di Jogging Track ini. Tidak setiap hari, dia datang hanya pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Perhatian sekali ya aku. Untuk lelaki setampan dia, rasanya layak aku memberi perhatian.

Kadang aku berkhayal, aku berani melakukan kegiatan bodoh agar bisa berkenalan dengannya. Misalnya berpura-pura ikut jogging, lalu tersandung dan jatuh di dekatnya.

Atau kadang aku berharap, handuk yang tergantung di lehernya terjatuh, sehingga bisa kupungut, kukembalikan, lalu kami berkenalan.

Kadang aku berharap angin bertiup kencang, meniup buku yang kubawa, terbang kearahnya, dipungutnya, dikembalikan padaku, lalu kami berkenalan. Dan begitu seterusnya. Baru sekedar khayalan.

Faktanya adalah, aku tidak berani menyapa, bahkan tidak berani sekedar tersenyum saat dia melintas di dekat kursi kayuku. Seandainya saja aku lebih berani.

Sore ini lengang dan sepi. Kubulatkan tekad untuk menyapanya. Atau setidaknya tersenyum padanya. Harus! Karena ramalan cuaca menyebutkan besok akan mulai turun salju. Jika itu terjadi, maka ini hari terakhirku bisa melihatnya jogging. (Kecuali jika dia punya kesaktian untuk jogging di udara terbuka bersuhu rata-rata minus 10 derajat celcius).

Hari mulai semakin gelap. Yang kutunggu belum juga datang. Kecewa menyelinap di hati. Mungkin keputusanku terlambat, jangan-jangan dua hari lalu adalah hari terakhirnya jogging di taman, mengingat suhu semakin dingin.

Hei, tunggu dulu. Kutunda kecewaku.

Yap itu dia muncul. Lelaki tegap dengan mata biru dan rambut coklat tua. Sesuai rencana, aku berpura-pura Jogging. Lari pelan, dengan harapan akan tersusul olehnya, lalu kami bisa saling tersenyum dan menyapa.

Hap. Hap. Hap. Aku menyemangati diri. Kudengar langkahnya semakin mendekat. Aku menengok ke belakang. Yaaa, dia ada di dekatku. Kami hanya berjarak satu meter. Kulemparkan senyum terbaikku. Dan, Tuhan.. Lelaki itu membalas senyumku. Ah, jika kutahu dia seramah itu, pasti sudah kusenyumi sejak pertama aku melihatnya.

Aku berlari pelan, dan dia mulai menjejeri langkahku. Baru hendak kubuka mulutku memulai percakapan, tiba-tiba kudengar suara berisik di belakang.

“Wees voorzichtig!” Hati-hati! begitulah kudengar suara orang berteriak. Diucapkan berkali-kali dengan keras, seperti ditujukan kepadaku. Aku celingukan mencari sumber suara. Lelaki di sebelahku tetap melakukan aktivitas jogingnya seolah tidak mendengar apa-apa.

“Wees voorzichtig!” Suara teriakan semakin jelas. Tak berapa lama, kulihat dibelakangku seorang lelaki dikejar oleh dua orang berseragam polisi.

“Geef je pistool!” Polisi-polisi itu berlari mengejar sembari berteriak-teriak. Memberi peringatan pada orang-orang yang mereka lewati.

Orang yang dikejar mengarah ke lintasan jogging kami. Refleks aku minggir melombati semak pembatas, menuju ke dekat pohon-pohon. Lelaki tampan didekatku ternyata masih asyik berlari di lintasan. Kuteriaki dia agar minggir. Namun dia tidak mengindahkan teriakanku.

Hitungan 5 detik, rombongan kejar-kejaran itu mendekat. Dari arah depan kulihat rombongan polisi lainnya datang. Lelaki tampan itu melihat kedatangan rombongan dari arah depan, dan sepertinya baru menyadari kekacauan yang terjadi.

Dia berhenti berlari, menengok ke kanan dan ke kiri. Ke depan dan kebelakang. Pandangannya tertumbuk padaku yang kini berlindung di balik sebuah pohon di sebelah kanannya.

“Kom ‘ s hier!” Teriakku padanya sambil melambaikan tangan agar dia mendekat.

Namun terlambat. Tidak beberapa lama suara tembakan berbunyi. Lelaki yang dikejar polisi menodongkan pistol ke arah lelaki tampanku. Dengan ringan ditembaknya lelaki tampan itu. Darah mengalir. Kepalaku pusing, lalu gelap, efek tidak tahan melihat darah.

– – – –

Kralingse Bos di musim salju. Dingin sekali di luar sini. Hanya ada aku dan Ray yang dengan dodolnya duduk berdua dikursi kayu, memandangi danau buatan yang membeku.

Ray, lelaki tampan yang sering kulihat jogging. Yang sering kukhayalkan bisa berkenalan dengannya. Ray tunarungu. Itulah sebabnya dia tidak mendengar teriakan-teriakan peringatan dari polisi dan aku. Hingga akhirnya dia tertembak perampok bersenjata yang sedang dikejar polisi. Untunglah tembakan itu tidak mengenai organ vital. Dan yang terpenting, aku bisa berkenalan dengannya. Dengan cara yang ternyata lebih dramatis, melampaui khayalanku. Hehehe…

Advertisements

2 thoughts on “Lelaki di Jogging Track

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s