Senyum Jumat Telah Lewat

Jumat pagi, dan seperti biasa aku akan mengisi jumat pagi dengan berkutat di kebun mungil. Sudut hening di halaman rumah. Tempat hijau yang penuh pengertian, setia mendengar, tanpa menghakimi.

Aku selalu suka hari Jumat, hari liburku. Setelah satu minggu menjadi mahluk mekanis, maka hari jumat adalah jatahku untuk kembali jadi mahluk ber-asa. Akan kutenggelamkan diri dalam khayal, sembari mencangkuli kebun kecilku. Membisikkan satu dua keluh jiwa. Kadang bernyanyi kecil. Kadang juga berpuisi lirih. Jiwa pujangga di balik aktivitas harian yang penat.

Hari ini rumpun tomat ceri-ku siap panen. Gerumbulan bulat kecil-kecil, warnanya merah dan oranye sungguh menyegarkan mata. Di sebelahnya ada rumpun terong ungu, satu terong menyeruak matang, minta dipetik. Panjangnya seruas pergelangan tanganku. Terong obesitas nampaknya hihi. Ah hari ini aku bisa makan tumis terong tomat hasil kebun sendiri. Nikmat.

Dan satu lagi yang kutunggu di hari Jumat adalah kehadirannya…

“Selamat Hari Jumat, Kakaaaak..” Jreeeng…

Demikian lelaki kecil yang kutunggu akan menyapaku dari balik pagar. Lalu dia akan melantunkan tiga lagu. Dahulu pertama kali datang, dia hanya akan bernyanyi satu lagu. Suaranya enak, pilihan lagunya juga menyenangkan. Tidak melankolis. Maka pada kedatangan berikutnya kuminta dia menyanyikan tiga lagu. Dan begitulah seterusnya. Empat bulan sudah aku mengenalnya. Setiap Jumat pengamen cilik itu akan menyapa dan bernyanyi untukku, menemaniku mencangkul dan menyirami kebun kecil. Lalu kami akan bercengkerama ringan. Jika sedang panen, akan kubekali dia segenggam atau dua genggam cabe rawit. Kadang juga pepaya atau labu air. Kubilang, untuk Ibunya. Lalu dia akan tersenyum lebar. Kadang sembari melambaikan uang sepuluh ribu yang biasa kuberikan padanya di setiap kedatangan.

Jumat ini agak layu, mendung bergelayut. Sudah pukul delapan pagi namun masih terasa kelabu dan dingin. Belum turun hujan namun sudah suram. Lelaki kecil itu datang, seperti biasa menyapaku.

“Selamat Hari Jumat, Kakaaaaak….” Lalu dia bernyanyi. Kali ini lagunya agak sendu. Tapi karena cuaca juga abu-abu, tidak kuprotes pilihan lagunya. Aku tenggelam dalam khayalku, ditemani suara dan genjrengan gitarnya.

Salah satu lagunya membuatku tercenung. Ungu. “Andai kutahu, kapan tiba ajalku.. ku akan memohon, Tuhan tolong panjangkan umurku… dan seterusnya.

Akmal – lelaki kecil itu, bernyanyi dengan sepenuh hati. Ah aku jadi ingat, aktivitas rutin selain membuatku menjadi mekanis seperti robot, aku juga terkadang lupa akan Tuhan. Sibuk dengan kegiatan harian, sholatku kadang terlambat, diakhir waktu. Padahal kalau aku berdoa, minta selalu ingin terkabul cepat. Manusia.

Akmal. Ada-ada saja caranya mengingatkanku. Kadang dia datang dengan membawa satu dua cerita lucu, lalu kita tertawa bersama, lepas. Humor segar tanpa muatan politik, tanpa agenda tersembunyi. Murni cerminan kepolosan kanak-kanaknya. Kadang juga dia bercerita tentang ibunya yang sedang sakit, namun tetap rajin bekerja sebagai tukang cuci. Kisah sederhana yang membuatku bersyukur masih diberi kesehatan dan pekerjaan layak. Kadang tentang teman sekolahnya yang mulai berpacar-pacaran. Ah anak kelas tiga SD sudah mengenal pacaran rupanya.

Akmal sudah selesai bernyanyi, lalu tersenyum lucu seperti biasanya.

“Kakak, aku buru-buru hari ini. Selamat berkebun, selamat beraktivitas ya. Aku akan kangen kakak.” Katanya ringan. Lalu dia melangkah pergi sembari melambaikan kantong plastik dariku, berisi terong ungu yang barusan kupanen. Gitar dipunggung terlihat terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Aku tersenyum dalam hati, menggelengkan kepala, tak habis pikir bagaimana anak kecil itu sudah mengerti konsep ‘kangen. Dan aku meneruskan berkebun.

– – – – –

Pukul sepuluh, hujan mulai turun. Kuhentikan kegiatan berkebun. Berdiri di pagar rumah terlindung hujan oleh kanopi, lelaki paruh baya berpakaian sederhana. Tidak kukenal namun terlihat familiar. Mungkin tamu untuk ayahku. Aku tersenyum pada lelaki itu, kupersilahkan dia masuk ke teras dan kupanggilkan mbak Yah, pembantu kami untuk menemui lelaki tersebut. Aku sibuk merapihkan peralatan berkebun. Mbak Yah belum muncul, lelaki itu masih memandangiku. Aku jengah. Demi sopan santun, lalu kusempatkan bertanya, hendak bertemu siapa.

“Mbak Iza ada?” Tanyanya.

“Saya Iza, Pak. Ada apa?”

“Saya hendak menyerahkan titipan untuk Mbak Iza.” Lelaki itu menyerahkan sebuah gulungan kertas.

Aku menerima gulungan kertas itu, membukanya dan terhenyak.

Sketsa diriku, sedang berkebun.

Kupandangi lelaki itu, agak ciut nyaliku, takutnya dia penguntit yang sering memata-matai lalu menggambarku. Ih.

“Itu buatan putra saya, mbak. Akmal. Mungkin mbak Iza kenal.”

“Oh iyaaaa, Akmal. Hahaha..” Aku tertawa tergelak. Lega, karena ternyata lelaki ini bukan penguntit. “Sangat kenal, Pak. Setiap hari Jumat Akmal ke sini, dia pintar bernyanyi dan main gitar. Tadi pagi juga kesini.” Jawabku ramah.

Wajah lelaki di depanku berubah muram.

“Tidak mungkin Akmal tadi kesini, mbak. Akmal meninggal hari Rabu. Ada tawuran warga di kampung kami. Akmal terkena clurit yang entah di lempar siapa. Saya baru sempat merapihkan barang-barangnya. Ada sketsa wajah mbak dikamarnya. Dia sering cerita tentang mbak. Saya juga tahu tentang rumah ini dari cerita Akmal. Saya hanya ingin menyerahkan gambar ini, mungkin demikian yang dia mau. Kami sekeluarga mewakili Akmal mohon maaf, jika ada kesalahan ucap yang pernah Akmal lakukan. Sekaligus ucapan terimakasih, mbak sudah bersedia memperhatikan Akmal. Kadang memberinya buku dan pakaian, hal mewah untuk keluarga kami.”

“Tapi Pak.. tadi dia kesini.” Jawabku. Tidak terima bahwa Akmal tiada.

“Ya sudah mbak, mungkin Almarhum hanya ingin bertemu mbak untuk terakhir kali. Tapi Akmal sudah tiada. Makamnya di karet karya.” Kemudian lelaki itu menunduk, mungkin menahan rasa. Aku tidak kuasa berkata, bahkan tidak mampu berucap turut berduka cita. Lidahku kelu. Tak berapa lama lelaki itu mengangkat wajahnya lagi, menganggukkan kepala lalu berlalu dari hadapku.

Hujan dan sunyi. Kupalingkan wajah pada kebun kecilku di pojok halaman depan. Sedih mengetuk hati. Aku akan merasa sangat kehilangan. Begitupun kebun kecilku. Aku akan merindukan sapaannya “Selamat Hari Jumat, kakaaaak.” Aku akan merindukan senyumannya juga. Kuberjanji akan mengunjungi makamnya hari ini.

Akmal, senyuman jumat darimu sudah lewat. Kurasa aku yang akan kangen kamu. Terimakasih sudah menyempatkan diri menemuiku untuk terakhir kali. Semoga kamu bahagia di sana. Amiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s