Human Capital

Ini postingan iseng-iseng aja ya. Jangan diseriusin, apalagi di cc ke pihak-pihak berwajib :p

Jadi konon kata teman-teman, mantan kantor saya suasananya sedang tidak enak. Saya pribadi mengakui. Selepas kepemimpinan AM, mantan kantor seperti hilang arah. Think tank-nya hilang. Mencoba untuk terus bertumbuh dan beat the competitor, tapi seperti bingung mau garap apa.

Jadilah banyak proyek tumpang tindih. Belakangan sebelum saya resign, KPI yang dulu sempat rapih, ada mirroring dan berbasis profit, kembali jadi tumpang tindih. Alih-alih aliansi, yang ada justru muncul silo-silo antar grup. Tidak sinkron dengan tujuan akhir: Peningkatan kinerja perusahaan, khususnya laba.

Okay, tidak punya grand strategy untuk tumbuh pesat, tumbuh non-organik juga sulit (ga punya duit untuk akuisisi) lalu apa yang bisa dilakukan agar profit dan tumbuh? Cost cutting. Mhmmmm..

Disinilah penderitaan dimulai. Diawali dari pergantian plan Asuransi kesehatan. Plan asuransi yang baru konon kurang oke. Sebelum ada plan asuransi, berapapun biaya RS akan diganti 90%nya. Ga pake ribet. Hamil dan melahirkan ditempat mahal hingga puluhan juta, akan dicover kantor. Sayapun sempat merasakan operasi gigi geraham (impaksi) yang biayanya Rp 15juta dibayarin kantor ga pake ribet. Kalau sekarang katanya boro-boro belasan-puluhan juta karena plafond rawat inap sangat kecil (ga tau berapa plafondnya, mungkin cuma 6 juta).

Ya tidak ada juga sih yang kepingin sakit hingga menghabiskan puluhan juta, tapi kalau plafond rawat jalan dan rawat inapnya kecil, lalu dapat jatah kamar yang juga ga oke (kalo dulu biasanya jatah kamar kelas 1), sekarang katanya cuma kelas 2, rasanya jadi ga dianggap manusiawi ya. Padahal kerjanya sampe lembur-lembur gitu, jadi banyak yang sakit.

Kemudian ada juga pengiritan labor cost dalam hal gaji. Caranya, jenjang kepangkatan dibikin bertingkat dan berliku. Jadi sulit untuk seseorang bisa naik ke grade yang lebih tinggi, tentunya harapan manajemen agar grade orang-orang tetap kecil, jadi bayar gaji juga kecil.

Kalo jaman dulu, lulus ODP otomatis dapet grade asisten manager, lalu setahun kemudian otomatis naik jadi manager, setahun kemudian otomatis senior manajer, serba otomatis mengikuti job grade yang disandang. Tidak ada istilah senioritas, tidak juga perlu usulan bla bla bla, otomatis aja ngikutin kandang. Jadi kalo misalnya diassign sebagai wealth manager, lalu wealth manager itu ternyata di struktur organisasi memiliki job grade D4 (senior manager), maka otomatis gradenya akan ikut jadi senior manager.

Jadi kalo jaman dulu, dalam 3 tahun pertama kerja sangat mungkin gaji naik tiga kali lipat dibanding pertama kali masuk, karena gradenya naik otomatis. (Klo mengandalkan naik gaji krn inflasi kan palingan naik gaji 6% aja, basa-basi ya.)

Tapi kalo sekarang, sepertinya sudah berubah. Untuk dedek2 lulusan ODP, tidak langsung jadi Asmen, harus mangkal dulu di grade officer biasa, lalu kalo perform baru bisa naik jadi asisten manager. Untuk bisa naik pun tidak otomatis seperti dulu. Syaratnya macam-macam, juga harus direkomendasi oleh atasan, dan harus ada kuotanya. Jadi walau direkomendasikan, tapi kuota untuk promosi di tahun itu sudah habis, ya silahkan gigit jari ga bisa promosi. Harus nunggu tahun berikutnya. Kasian ya.

Jaman dulu, sejak lulus ODP ke grade senior manager itu cuma butuh waktu 3 tahun. Untuk dedek2 di bawah saya, mungkin butuh waktu 5-6 tahun untuk bisa jadi senior manager. Jadi ini cara agar orang-orang pada ga naik pangkat ya, juga ga naik gaji significant hehehe. Sungguh menghemat labor cost ya.

Okay, that’s the burden.

Banyak yang gerah dong? Ho oh. Banyak yang pengen resign dong? Ho oh.

Tiap pagi ada aja teman yang sms/bbm yang isinya curhat, betapa capek hatinya bekerja di mantan kantor itu. Kerja bagus tidak diapresiasi, kerja tidak bagus dihina-hina tidak pakai hati. (Eiya, belakangan ini kalau rapat, para bos jadi gampang banget keluar serapah hewan. Dulu-dulu sih enggak. Ini pasti ajaran dari bosnya si bos kan?)

Capek hati lebih karena tidak ada KPI yang jelas, impak dari grand strategy yang juga tidak jelas. Sibuk mengejar ini itu yang ternyata ga ada hubungannya sama target. Adanya tekanan untuk melakukan ini itu yang ga penting. Misalnya proyek 4dx EDC terpasang (heboh masang EDC, tapi kasih MDR rendah, kemudian juga ga aktif dipake, pengendapan dana ga ada, lalu buat apa sih diunyel2 dipaksa masang, biar aja itu tetap jadi kerjaan Mass Banking/Consumer card sebagai pasangan debit/credit card mereka ya). Pas akhir tahun performance apraisal, kedodoran semua karena yang selama ini dikerjain bukan cerminan KPI. Ternyata penting ya punya leader yang smart dan visioner, ga asal seruduk garap macem-macem yang ternyata ga guna.

Lalu karena capek hati jadi pengen resign dong. Ternyata, untuk resign pun susah sodara-sodara!

Dua tahun belakangan, gelombang resign itu cukup tinggi (untuk ODP angkatan saya, dari 30 orang sudah resign 10. Berdasarkan buku manajemen sumber daya manusia, turnover rate 30% itu tinggi loh!). Manajemen kewalahan, karena yang resign tentu yang bagus-bagus dong. Karyawan yang kualitasnya bagus mah, kalo merasa ga cocok/ ga diperlakukan dengan baik di perusahaan yang sekarang, akan dengan mudah pindah ke perusahaan lain, karena banyak yang bersedia menampung dengan benefit lebih baik. Dengan demikian yang tersisa adalah karyawan-karyawan yang kurang oke. Karyawan yang walaupun mereka udah ga tahan, tapi ga bisa pindah karena ga laku di perusahaan lain.

Kebakaran jenggot dong manajemennya, orang-orang bagusnya pada hengkang. Maka dibuatlah policy baru, kalau ada ODP resign, khususnya talent pool, dan ternyata resignnya karena pindah ke perusahaan pesaing, maka atasan langsung dari karyawan yang resign tersebut akan kena pinalti, performance apraisal si atasan akan dipotong sekian point, karena dianggap tidak bisa membina bawahan. Hohoho…

Kebakaranlah jenggot para atasan yang anak buahnya mau resign.

Saya pribadi mengalami. Surat resign yang tidak kunjung diurus oleh atasan, dengan alasan ‘belum terima.’ Berikutnya saya sampaikan lagi surat resign kedua, saya paksa sekretarisnya pak bos untuk tandatangan di tanda terima, jadi tidak ada alasan bahwa surat resign saya hilang ‘dijalan’. Setelah itu, ya masih panjang sih urusan resignnya. Bla bla bla.. Hingga capek dan beberapa kali nangis, dan nyaris pengen bilang ya sudahlah, ga dapet sk resign ya gapapa. (Padahal saya masih ikut policy 1 month notice). Tapi alhamdulillah, kalau saya sudah happy ending.

Okay, kembali ke pinalti kalo anak buahnya resign. Jadi ada kepentingan atasan untuk membuat anak buahnya tidak jadi resign, banyak cara ditempuh, misalnya coaching, kadang juga promosi. Tapi yang seringnya malah cara-cara licik yang bikin tambah capek hati. Ya seperti belagak belom terima surat resign itu.

Lalu selain pinalti untuk atasan, manajemen juga membuat aturan 3 Month notice. Jika ingin resign, harus menyampaikan surat resign 3 bulan sebelumnya. Hah..

Kalau kita resign karena akan pindah ke perusahaan baru, biasanya perusahaan baru akan maklum dan bersedia untuk menunggu satu bulan, karena yang berlaku umum adalah 1 month notice. Tapi kalau 3 bulan bok, mana ada perusahaan baru yang mau menunggu selama itu!

Lalu, kalau sebelum 3 bulan kita kabur duluan gimana?

Maka tidak akan mendapat SK resign. Padahal SK resign itu fungsinya sangat besar. Sebagai syarat pencairan jamsostek dan uang pensiun. Uang pensiun dan jamsostek itu kan sebagian dipotong dari uang gaji kita. Sayang banget kan kalau sampai hak itu tidak bisa dinikmati karena resign tanpa SK. Jumlahnya lumayan banget, klo kroco yang kerja lima tahun ya bisalah beli xenia dari uang pensiun itu.

Mungkin itu juga bentuk penghematan yang dilakukan manajemen kali yaa. Sukur2 pada resign kabur2an ga nunggu SK keluar, jadi perusahaan ga perlu bayar uang pensiun mereka. Mungkin..

Ya demikian sekelumit kisah. Pengen aja sih ditulis, soalnya lama-lama eneg juga dicurhatin hal yang sama tiap hari. Ganti2 pula orangnya. Jadi ya gantian, saya yang akhirnya curhat di sini. (Kalo yg curhat cuma satu org, mungkin gw mengira itu orang lebay atau lembek. Tapi ini yg curhat banyak. Jadi ya must be something wrong with the company).

Sayang ya. Kadang miris melihat bagaimana negara ini dikelola. Bagaimana BUMN di negara ini beroperasi. Missmanagement yang menurun. Diturunkan dari leader yang salah urus negara juga. Bilangnya Human capital, tapi ga diperlakukan seperti capital 🙂

Gitu aja sih. Thx

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s