Baca!

Baiklah, semester ini saya dedikasikan sebagai semester paling sibuk!

Dengan textbook setebal bantal yang harus disummary setiap minggunya, dengan jurnal setebal kerupuk kriting yang harus disummary dan dipresentasikan setiap minggunya.

Mata kuliahnya cuma empat, tapi tiap matkul textbooknya dua, dan jurnalnya 4 (jadi ada 16jurnal setiap minggunya yang harus disummary dan dipresentasikan), mabok!

Kalo kelar semester ini, toefl saya ga apgred ke angka 700, itu brarti sia-sia berhari-hari mabok vocab management.

Risiko semester ini dapat dosen dengan titel profesor semua kali yak. Tuntutannya tinggi.

Jangan dibayangkan profesor dengan kepala botak dan renta, nope. Mereka profesor muda. Jadi kebayang ya, idealisme akademis berpadu dengan jiwa muda dan energi yang masih membara. Berasa kegencet deh mahasiswanya (eh saya doang kali ya).

Kirain aja summary dan critical questions bisa digarap seadanya, ternyata kaga. Mereka hapal setiap konten jurnalnya, jadi sekejap mata langsung tau mana yang bikin tugasnya ngasal.

Padahal waktu s1 ya dosennya beliau-beliau juga. Salah satunya ya pembimbing skripsi saya, dan yang dua lagi dosen penguji skripsi dan pendadaran saya. Tapi mengapa rasanya penat banget ya!

Akhirnya saya legowo, menyebutnya sebagai faktor umur. Aku sudah tuaaa. Hiksss. Begadang semalaman harus diganjar bobo cantik dua hari. Ga balik modal deh.

Apalagi jaman dulu belom ada social media yak. Belajar aja gitu yang fokus. Ga sebentar2 ngetwit, atau apdet blog karena ada proyek nulis. *hela nafas*

Sisi lain lagi, mungkin juga karena saya sudah pernah bekerja dan juga (sedikit) berwiraswasta. Jadi teori-teori yang diajarkan textbook, sedikit banyak sudah pernah ditemui di dunia nyata. Dan tahukah kamu, hal itu membuat saya bosan.

As an entrepeneur, I have to be innovative, see the future, build the strategy. But as a master student, I learn about historical data. Ummm.. Kisah sukses merger a, promosi b, cross culture c, semua sudah terjadi. Bahkan kadang sudah lewat lama sekali.

Menginspirasi? Enggak juga, karena skalanya beda. Contoh-contoh dalam textbook, biasanya perusahaan besar, multinational comp. Lah usaha saya, masih rekiplik gitu, ga kompatibel.

Sebagai entrepeneur, saya ngerasanya butuh hal yang lebih konkrit, tidak sekedar teori dan wacana atau data lampau, seperti yang ditemui di sekolah ini. Tapi ya gimana dong hehehe (kaga ada mata kuliah kewirausahaan sih). Ya positive thinking aja, kelak usaha saya sebesar contoh2 di textbook, jadi ilmunya bisa dipake gitu.

Kenapa gue jadi pesimis yak!

Mbuh, ini kenapa rasa idealisme mendadak muncul. Kalo pas lagi diajar, rasanya pengen bilang: aduh pak dosen, ga usah banyak teori ah.

Kalo pas lagi ngajar (tutor), rasanya pengen bilang: aduh adek2, jangan terlalu dipantengin yak textbooknya, maen2 aja yang banyak. Di dunia luar kampus ini, banyak hal yang solusinya pake hati, ga pake otak, apalagi nyontek di textbook dan jurnal. Mhmmm..

Ini gue lagi sindrom apadeh 😦

*lalu saya baca shincan dulu aja deh, biar sinkron otaknya, ga kiri mulu yang dipake.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s