Muka Lempeng

“Selamat Ulang Tahun.” Katanya padaku. Senyum manis dan hangat menghiasai wajah tampannya. Tangan kukuhnya merengkuh kepalaku menuju bibirnya. Dahiku dia cium, lembut. Aku menghindar pelan. Senyumnya tetap terpasang disana, meski baru saja menerima sebuah penolakan.

“Aku tahu, suatu saat nanti kamu akan memperbolehkan aku masuk ke hatimu.” Ucapnya lagi. Kali ini seraya melingkarkan sebuah kalung di leherku. “Happy Birthday ya. Sampai ketemu besok.Aku mengangguk, seraya bersiap keluar dari mobilnya.

“Selain anggukan, bisakah kamu beri aku sebuah senyum?” Dia mulai merengek. Aku tidak suka lelaki cengeng.

Kuukir sebuah senyuman di wajahku. Tipis saja.

Dia tersenyum gembira, seperti anak kecil kehujanan permen. Ekspresi wajahnya lucu. Kali ini aku tersenyum lagi, tulus, karena melihat keluguannya. Dia melihat senyumku barusan, wajahnya menjadi lebih cerah lagi.

Aku melangkah keluar mobil diiringi pandangannya yang pasti berbinar-binar menaruh banyak harapan.

– – – – – –

Aku cantik. Semua orang tahu itu. Aku hangat dan baik hati. Semua orang tahu itu. Otakku encer, maka lontarkan satu topik pembicaraan, akan dengan mudah kutanggapi. Membuat lawan bicara terbengong-bengong terhisap kharismaku. Dengan kualitas yang kumiliki, sangat mudah membuat lawan jenis jatuh hati. Mudah.

Namun semua kehangatan itu hanya kutunjukkan kepada mereka yang tidak (belum) memiliki tendensi apapun padaku. Seperti tarik ulur bermain layangan, fase ini adalah fase tarik. Membuat agar mereka mendekat padaku.

And after he’s been hooked,

I’ll play the one that’s on his heart.

Jika kelak hubungan ini mulai memiliki tendensi, jika kelak lelaki-lelaki itu mulai memutuskan untuk mencoba mendekatiku, janganlah berharap akan menemukan kehangatan dan kebaikan hati yang biasa diterima ketika hanya menjadi teman atau rekan kerja.

Jika kurasa tendensi mereka terhadapku berubah, maka situasi berada pada fase ulur. Aku akan mulai membangun batas, bercakap secukupnya, bereaksi seadanya. Ekspresi wajah? Selayaknya pemain poker kawakan, akan kupasang mimik wajah tanpa emosi berlebih. Cukup manis untuk membuat mereka termotivasi mendekati aku, namun tidak berlebihan yang bisa mengakibatkan mereka salah sangka. Lempeng saja.

Lalu, apakah mereka akan menjauhiku?Tentu tidak. Mereka justru akan semakin penasaran.

Hold it down, take it slow, dont let all your magic girl, leave him something to desire. ~

Lelaki, sejatinya mereka adalah penakluk. Hal yang sulit ditaklukkan, akan memberi ruang bagi ego mereka untuk tumbuh dan membesar. Semakin sulit, mereka akan semakin tertantang. Hal ini natural, sebagai bagian dari piramida tertinggi Maslow; Aktualisasi diri.

Lihatlah hasil permainan muka lempengku, semakin aku dingin, semakin mereka akan berjuang menjadi yang terbaik. Tidak hanya mereka tunjukkan lewat kata dan tindakan, benda-benda cantik dan fasilitas mewah dengan mudah akan mereka berikan untuk menaklukkan aku. Cukup kusebutkan petunjuk tersamar, maka yang aku inginkan akan segera berada di tanganku.

Sentuhan fisik? emmm tentu tidak. Jangan samakan aku dengan wanita matrealistis atau pelacur. Aku tidak menjual jasa seksual, tidak.Muka lempeng saja, itu sudah cukup membuatku memiliki segalanya.Tentu hingga lelaki-lelaki itu merasa bosan berjuang, menyerah dan mundur perlahan.

Tenang saja, patah tumbuh, hilang berganti.

– – – – – –

Telepon selularku berbunyi, pertanda sebuah pesan masuk.

Hai Ara, aku di depan rumahmu. Tolong buka pintu ya.

*Hai, Hilwan. Maaf aku diluar kota. Ada apa?

Just wanna greet you a happy birthday. That’s Ok. Aku titip bingkisan ke penjaga rumahmu saja. See you soon.

*Ukay

Dan tak lama Mbok Rahayu mengetuk pintu kamarku, mengantar sebuah bingkisan dari Hilwan. Sesuai perkiraan, berisi Cambridge Satchel warna Ungu, tas paling trendy saat ini. Berarti Hilwan cukup peka terhadap petunjuk tersamarku.

I’m not lying
I’m just stunnin’
With my love-glue-gunning

Tidak hanya Hilwan, malam itu aku mendapat lagi tiga SMS. Kujawab juga serupa, ‘sedang di luar kota’, dan tak lama bingkisan diantar kekamarku oleh Mbok Rahayu.

Kalung, Ipad terbaru, Sepasang Manolo Blahnik, dan Voucher Bvlgari Resort Bali.

Aku memandangi kekayaanku yang bertambah malam ini.

“Selamat Ulang Tahun, Aku.”

– – – –

Malam mulai larut, kurasa sudah tidak ada lagi yang akan mengirimi aku bingkisan. Perlahan kucoba memejamkan mata. Merasa masih ada yang kurang di hari ulang tahun ini.

Hai Tiara Sayang. Selamat Ulang Tahun ya. Maaf tidak bisa menemani di Hari Ulang Tahunmu. Semua doa yang terbaik untukmu yaa. Peluk dan cium jauh.

Sebuah pesan singkat masuk lagi ke telepon selularku. Hatiku bergetar. Tidak ada kado mewah, tidak ada kata-kata romantis, tidak ada kecupan lembut di dahi.

Tapi sepenuh hatiku mencintainya. Sayangnya dia tidak tahu. Dan dia tidak boleh tahu. Dia yang selalu menjaga dan memperlakukanku dengan lembut dan penuh tanggungjawab, semenjak aku kecil.

Namun baginya aku hanya sebatas adik. Dia, Kakak tiriku.

Padanya, juga kupakai topeng muka lempengku. Bukan, bukan untuk menjebaknya agar tertarik padaku, namun untuk menyembunyikan perasaan ku yang semakin mencintainya.

Can’t read my, can’t read my.
No he can’t read my poker face
(She’s got to love nobody)

– – – –

*Inspired by Poker Face – Lady Gaga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s