karaoke

Aku senang bersenandung. Terlepas dari kenyataan bahwa suaraku dibawah standar ‘layak’, aku tetap senang bersenandung.

“Pernahkah kamu tidak bersenandung, seharian misalnya?” Tanyamu kala itu.

“Tidak. Senandungku semacam autopilot. Senang, sedih, lagu bagus, lagu jelek, tiba-tiba saja sering terlantun sendiri. Apalagi kalau kudengar lagu yang aku kenal diputar diradio atau media lainnya, kadang tak sadar aku bersenandung secara keras, berisik deh. Jangan kaget ya.” Jawabku.

Demikianlah percakapan ketika kita baru saling mengenal. Aku ingat ketika kamu tertawa ketika pertama kali mendengarku otomatis bersenandung mengikuti lagu ‘don’t speak’ yang terlantun di radio mobilmu.

“Kalau begitu kapan-kapan kita karaoke?” Ajakmu.

“Ndak mau. Tidak suka karaoke. Suaraku jelek. Kalau karaoke jadi serius nyanyinya, tidak lagi untuk kesenangan belaka. Ga usah karaoke-karaokean deh. Kamu aja mulai sekarang latihan tabah, akan sering kena polusi suara.”

“Ah pokoknya kamu harus aku ajak karaoke. Harus mau. Pemaksaan.”

Dan begitulah jadinya, kemudian kamu kerap mengagendakan karaoke sebagai acara pacaran kita.

Suaraku jelek, suaramu.. lebih jelek lagi hahaha. Suaramu sumbang namun tetap kamu pede bernyanyi. Lama-kelamaan aku tertular kamu, jadi ikut pede bernyanyi. Kastaku naik, tidak sekedar senandung dan berdesis fals di kamar mandi, aku mulai berani bernyanyi menggunakan microphone. Karena jasamu, karaoke tidak lagi terasa mengintimidasi. Kamu menyembuhkan phobiaku terhadap karaoke.

Lalu tentang kamu. Kamu tidak suka bersenandung. Setidaknya jarang kulihat kamu bersenandung mengikuti musik yang sedang mengudara. Kulihat koleksi CD musikmu didominasi genre Jazz dan Instrumen. Membosankan menurutku. Berkali-kali kucoba cekoki kamu dengan lagu melayu kesukaanku, seperti milik Siti Nurhaliza dan ST12, tapi kamu tetap setia pada selera ‘musik rumit’ mu.

– – – –

“Selamat ulang tahun ya cantik.” Pagi-pagi kamu sudah muncul di teras rumahku, mengucapkan selamat ulang tahun. Tanganmu menyodorkan kado yang terbungkus manis.

“Makasih ya. Mmmhhhmmm apa isi kadonya?” Tanyaku penasaran.

“Coba dibuka.”

Tanganku membuka kado dengan cekatan. Sebuah surat tertulis rapih, tulisan tanganmu:

Dear Ulil, selamat ulang tahun. Semoga Allah selalu melindungi kamu, orang yang aku cintai. Amiin.

Kado ini, spesial untuk kamu. Kamu boleh senandung sekerasnya mengikuti lagu-lagu disini.

Love, Raka

Aku tersenyum padamu usai membaca surat. Dan aaaah ternyata kado ini berisi CD.

Tiga buah CD….  Accoustic Alchemy (salah satu grup favoritmu).

“Rakaaaaaaaaa… Gimana aku mau karaokean kalo lagunya instrumen gini! Kamu niat kasih kado atau nyela aku sih !!” Aku berteriak kecewa, spontan berdiri hendak mencubit pinggangmu.

Kamu waspada menghindar, tertawa terbahak-bahak melihat wajah manyunku. Gerakanku meleset, kamu memelukku.

“Selamat ulang tahun, sayang.” Bisikmu sambil tetap memelukku erat.

Tak lama pelukanmu merenggang. Tanganmu melingkari leherku. Sebentuk kalung berliontin simbol tangga nada G, kau pakaikan padaku.

“Tetaplah bersenandung. Kapanpun saat bersamaku. Aku menyukainya. Accoustic alchemy ini kamu simpan. Setiap kamu rindu aku, dengarkan CD ini. Terasa seperti aku yang petik gitarnya hehehe. Love you.” Bisikmu lembut, tetap memelukku.

Aku mencium pipimu lembut. “Terima kasih menerima kebiasaan berisikku bersenandung. Terima kasih juga, karena kau mencintaiku. Love you too.”

– – – – –

Akmani 2012. ~ ketika lobby hotel ini terus-menerus memutar album Accoustic Alchemy.

*Rindu. Kamu.

-First published @ 5Feb2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s