the future over the city lights

20120825-103051 PM.jpg

Let’s talk about the (future) life, over the city lights.

—– —- —–

Hari-hari terakhir di Semarang.

Mungkin beginilah rasanya seandainya kita tahu dengan pasti kapan akan mati. Kita akan berbuat yang baik-baik, berbuat yang terbaik, sehingga yang tertinggal adalah kesan yang indah.

Demikianlah saya mencoba menganalogikan situasi dan kondisi saya saat ini.

Secara sudah tahu akan segera pindah dari Semarang, maka saya dan suami meluangkan waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi Semarang dan sekitarnya (hehehe telat yak, dulu-dulu kemana aja!)

Kepantai-pantai yang belum sempat dikunjungi, taman, museum, tempat makan, tempat nongkrong, jalan tol, jalan lingkar. Hahaha semua kami coba jelajahi.

Makan di tempat kere hore, makan di tempat mahal, resto deket, resto jauh, hayuk aja dijabanin satu-satu, setiap hari selama satu bulan terakhir ini, demi memiliki memori yang banyak dan indah tentang Semarang.

Belum tahu apakah akan kembali ke Semarang lagi kelak. Tapi saya tahu, kota ini memberi kenangan indah.

Kebetulan tempat tinggal kami di Semarang atas, berbatasan dengan Ungaran. Konturnya berbukit naik turun, karena berada di kaki bukit Ungaran, cantik. Udaranya terhitung sejuk berangin, tidak sepanas dan sekering semarang kota (apalagi kota tua dan pelabuhan, uuuhhh panaaasss).

Jika pagi tiba, maka dari teras atas akan nampak Bukit Ungaran yang masih berkabut. Jika malam tiba lalu kami berjalan sedikit ke arah Gombel, maka akan nampak pemandangan kota di bawah sana, lengkap dengan kelap-kelip lampunya.

Luangkan waktu sejenak untuk nongkrong-nongkrong cantik di d’hills (dining resto di dekat rumah), letaknya dipinggir tebing, maka jadilah makan malam romantis, candle light dinner dengan pemandangan kerlip kota (seperti foto di atas).

Kebetulan juga tempat tinggal kami dekat dengan kampus Undip, jadi banyaaaak sekali tempat ngopi2 cantik dengan wifi supercepat. dan menu makan minum berharga superhemat ala mahasiswa.

Tidak punya pembantu? Tenaang, urusan cuci mencuci bisa ditangani oleh londri kiloan. Berapakah cuci setrika perkilonya? 2500/kg, sodara-sodara! Muraaaahhh. Bandingkan dengan Jakarta yang 8000/Kg ummmm hahahaha.

Tapi untuk perihal fashion, ummm Semarang ketinggalan lah ya hahaha. Dibandingkan dengan Jogja (yang sama-sama dekat dengan kampus), tidak banyak distro atau butik harga mahasiswa di Semarang. Jadi selama di Semarang, tetap andalan saya adalah belanja via onlineshop hohoho.

Bicara tentang lalulintas, tidak seperti Surabaya yang mulai terinfeksi virus macet, lalu lintas Semarang masih sangat bersahabat. Tidak macet dan kotanya juga kecil, membuat mol/swalayan/bioskop/pusat elektronik/tokobuku/sekolah/bank/dll bisa diakses dengan mudah (letaknya juga berdekatan). Tiga atau empat urusan di beberapa tempat berbeda, bisa selesai dalam satu hari. Bandingkan dengan Jakarta, bisa pergi ke dua tempat dalam satu hari adalah hal yang sangat fantastis (misal, dalam satu hari: kondangan lalu nonton bioskop, lalu belanja bulanan kemudian berenang di waterpark. Mustahil! Isunya pasti macet dan sulit cari parkir.)

Maka, dengan senang hati saya berkata; Semarang menyenangkan. Semoga bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebiiihhh baik. Amiin. (Soalnya ngidam punya rumah di Raflles Hills Semarang, cantik di pinggir tebing) hehehe. Amiin..

Bandung, Here we come. Bismillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s