Titik Paling Barat

#CerpenMerahPutih


Angin bertiup sunyi. Pukul 6 pagi, aku duduk di hamparan pasir pantai yang mengelilingi Pulau Weh.  Air laut jernih hijau kebiruan, pohon kelapa dan bakau bertautan. Matahari bersinar lembut, di titik paling barat Indonesia, Sabang – Pulau Weh.

Sembilan tahun berlalu, pulau ini masih cantik, nyaris tidak tersentuh kemajuan. Tidak ada resort mewah, hanya beberapa penginapan sederhana. Pelabuhan juga  seadanya, sekedar menghubungkan pulau Weh dan Banda Aceh.  Mungkin rekonstruksi tsunami tidak mencapai wilayah ini, pun tidak menjadi prioritas pengembangan objek wisata. Tapi biarlah pantai ini tertinggal, biarlah pelabuhannya tidak canggih, aku malah bersyukur bahwa tangan-tangan pemerintah tidak sampai ke sini. Jika pembangunan hadir di sini, bisa jadi malah Pulau Weh akan menjadi komoditas wisata yang jorok penuh sampah. Sebut saja Karangbolong, Anyer, Ancol, pantai-pantai yang dulu indah, sekarang berubah menjadi mnyedihkan karena tersentuh pembangunan dan komersialisasi. Sebagian menjadi sangat kotor, sebagian lagi menjadi obyek wisata yang tidak bernuansa alam,  dieksploitasi namun tidak dilestarikan. Kasihan.

Aku datang kesini untuk bernostalgia. Merangkum ingatan masa kecil, yang mulai pudar dijajah sang waktu. Bertahun-tahun yang lalu, pantai ini adalah tempat favoritku dan ayah untuk berenang. Semenjak aku kecil, ayah sudah mengajariku berenang dan menyelam, sebagaimana yang dilakukan anak kecil lain di pulau ini. Sejak kecil aku dan teman-temanku terbiasa berkejaran di pantai. Bosan berkejaran di pantai, kami akan berenang, main petak umpet bersembunyi di antara terumbu karang, sesekali memanen rumput laut untuk dimasak orangtua kami. Jika sedang beruntung, kami akan berteriak kegelian ketika kawanan ikan Bulan datang. Ikan kecil-kecil yang sering mengelamuti jari-jari kaki kami. Kelak, bertahun-tahun kemudian aku baru sadar bahwa kegelian karena jari-jari kami dikecupi ikan Bulan, memiliki istilah keren: Fish Spa.

Konon, orang-orang di Jakarta harus membayar enampuluhribu rupiah per jam untuk bisa menikmati kegelian ketika kakinya digigiti lembut ikan Bulan (mereka menyebutnya ikan Drupa), katanya untuk menghilangkan kulit mati, melancarkan peredaran darah, serta menyembuhkan penyakit kutu air. Berarti alangkah bahagianya aku dan teman-temanku kala itu, terapi mahal bisa kami nikmati gratis. Pantaslah jari kaki kami, anak-anak pulau Weh semua bersih dan sehat, tidak mengenal istilah kutu air.

Namun ada kalanya Ayah marah padaku, kesal karena aku terus-menerus bermain di pantai, tidak belajar dan mengerjakan PR.  Ayah khawatir pelajaran sekolahku terlupa jika terus bermain di pantai.

“Ayah, jangan khawatir. Berenang dan menyelam akan membuatku jadi terkenal. Ayah pegang kata-kataku.” Jawabku lantang, kesalku pada ayah memuncak.

Aku  memang bandel, kadang berani membantah kata-kata ayah, termasuk perihal larangannya bermain di pantai. Jika demikian, aku harus bersiap menanggung akibatnya, dikurung di kamar tidak boleh main keluar hingga aku minta maaf pada ayah. Ah hubunganku dengan ayah memang terkadang kusut, antara benci dan cinta. Dibesarkan sebagai anak tunggal, menjadikanku besar kepala dan egois, berani membantah orangtua. Namun kali ini kutegaskan, aku mencintai ayahku. Pertengkaran kecil kami dahulu, janganlah dianggap benci, mari kita sebut saja sebagai letupan emosi anak kecil labil. Yang pasti, ayah tidak pernah menghukumku secara fisik.

Pernah suatu ketika, ayah dan aku sedang duduk-duduk di Pantai. Ayah selesai mengecat perahunya dengan warna merah-putih.

“Kenapa dicat Merah-Putih, Yah?” Tanyaku.

“Menyambut kemerdekaan Indonesia, Meutia.”

“Apa itu merdeka, Ayah?” Pertanyaanku sebagai anak kelas dua SD.

“Merdeka, artinya kita tidak lagi dijajah oleh bangsa lain. Jaman dahulu, ketika kita masih dijajah, bangsa ini sangat miskin. Banyak anak tidak bisa sekolah, kelaparan, orang tua mereka dihukum kerja paksa, sedihlah.”

“Tapi sekarangpun ada temanku yang tidak sekolah, Ayah.”  Jawabku, teringat Ahmad teman sebelah rumah yang tidak bersekolah.

“Iya, Ahmad memiliki banyak kakak dan adik yang harus disekolahkan. Mungkin tahun depan, jika tabungan orangtuanya sudah terkumpul, Ahmad bisa sekolah.” Jelas ayah. Kulihat ayah menerawang, memandangi pantai dan lautan. “Ayah yakin, suatu saat nanti pemerintah kita akan serius mengurusi pendidikan putra-putri bangsa ini, akan ada sekolah gratis untuk semua anak bangsa. Makanya kamu seharusnya bersyukur bisa sekolah, janganlah malas.”

“Tapi ayah, kata teman-temanku, di Malaysia lebih bagus daripada Indonesia. Di sana jalanannya bersih. Saudaranya Teguh ada yang bersekolah di Malaysia, katanya gedung sekolahnya bagus, tidak atap batang kelapa seperti kita.”

“Iya.”

“kenapa kita tidak tinggal di Malaysia saja, Ayah?”

“Kita lahir di Indonesia, Meutia. Kita harus cintai Indonesia ini, harus kita bela dan majukan. Bukan apa yang sudah diberikan negara kepada kita, tapi apa yang bisa kita berikan kepada negara. Ayah tunggu janjimu, jadi terkenal karena berenang dan menyelam. Jangan lupa sebut nama Indonesia jika kamu kelak terkenal.”

Aku merasa kurang paham sebagian perkataan ayah, namun panggilan teman-teman mengalihkan perhatian dari percakapanku dengan ayah, aku berlari meninggalkan ayah.  Ayah geleng-geleng kepala melihat tingkahku, lalu dia kembali melanjutkan aktivitasnya mengecat perahu.

Kelak percakapan itu akan terekam dalam ingatanku, bertahun-tahun kemudian baru akan bisa kupahami sebagian perkataan ayah. Ayah sangat mencintai negara ini, atau setidaknya demikianlah yang kuketahui. Sayangnya cinta itu bertepuk sebelah tangan.

Sembilan tahun berlalu, ada kenangan yang tetap terasa menyakitkan meskipun sudah terjadi lama sekali. Aku mengusap air mata yang mengalir karena mengenang hari ketika aku dan Ibu pergi dari Indonesia, dan tidak pernah melihat ayah lagi. Biar kucoba mengurai kisahnya.

Selepas tengah malam, tanggal 18 Mei 2003, Ibu presiden yang saat itu berkuasa memberikan izin operasi militer melawan anggota separatis, Gerakan Aceh Merdeka. Sejak itu situasi di aceh menjadi hiruk pikuk. Saat itu aku tidak merasakan apapun, namun  orang dewasa dapat merasakan situasi mencekam akibat darurat militer enam bulan tersebut. Tigapuluh ribu tentara dan belasan ribu polisi menduduki Aceh. Menyisir semua daerah bahkan tempat terpencil sekalipun, untuk menangkap para pemberontak. Berita menjadi simpang-siur, kabar tipu dan muslihat di sebarluaskan, yang mana pemberontak, yang mana warga sipil, semua menjadi baur dan bias. Tidak hanya pemberontak yang tertangkap dan dibunuh, sebagian warga sipil tidak bersalahpun ikut kena ciduk.

Bulan-bulan berlalu, Operasi merambah ke Pulau Weh. Entah dari mana asalnya, berhembus isu bahwa ayahku anggota GAM. Tentunya  hal itu mustahil (menurutku), karena ayah selalu bercerita tentang kecintaannya pada Indonesia. Keluarga kami menjadi sasaran operasi. Untunglah Ayah sudah sempat meminta Ibu meninggalkan Malaysia. Kami tinggal bersama saudara kami yang sudah lebih dulu berdiam di Malaysia. Setelah itu tidak lagi terdengar kabar dari ayah, tidak kunjung datang perintah dari ayah yang meminta kami kembali ke Indonesia. Dan tsunami muncul, meluluhlantakkan pulau kecil kami, juga bagian Aceh lainnya. Memupuskan harapan Ibu untuk bisa kembali ke Indonesia dan mencari Ayah. Sejak tsunami terjadi, aku dan Ibu sepakat mengikhlaskan ayah. Mungkin ayah sudah tiada, entah karena korban fitnah operasi militer atau karena tersapu tsunami, entahlah. Kami seterusnya tinggal di negara tetangga itu, meneruskan hidup kami, berusaha berdamai dengan luka hati.

– – – – –

Langit mulai cerah, matahari tidak lagi malu-malu menampakkan diri. Rekan-rekanku sudah bersiap dalam pakaian selamnya, begitupun diriku. Kupandangi lagi hamparan pasir dan laut Pulau Weh.

Ayah, sembilan tahun berlalu sejak kita terakhir kali bercakap mengenai kemerdekaan. Aku tahu ayah cinta Indonesia.

Ayah, sudah kutunaikan janjiku pada ayah, menjadi terkenal melalui menyelam dan berenang (setidaknya begitulah menurutku). Aku menjadi fotografer, ayah. Spesialisasiku foto-foto keindahan bawah laut. Meskipun semua teknik fotografi ini kupelajari di negara lain, aku ingat bahwa pelajaran pertamaku tentang bawah laut kudapat dari sini, Pulau Weh, Indonesia.

Ayah, foto-fotoku terpajang di berbagai majalah dan jurnal Internasional. Hasil karyaku menghuni galeri-galeri seni di Luar Negeri. Mungkin tidak semua fotoku memotret keindahan bawah laut Indonesia,beberapa merupakan pemandangan negara lain,  tapi ayah pada setiap hasil karyaku, selalu kuberi catatan kaki sesuai pesanmu:

Meutia Indonesia.

Ingat kan Ayah, dirimu pernah berkata: “Jangan lupa sebut nama Indonesia jika kamu kelak terkenal.”

Sudah kutunaikan pesanmu Ayah, nama Indonesia selalu mengikuti namaku. Semoga negeri ini semakin maju ya Ayah. Aku yakin berjuta rakyat negeri ini, seperti juga ayah dan aku, berharap negeri ini akan memiliki pemimpin yang akan memajukan.Pemimpin yang tidak meminta dari negeri ini, namun pemimpin yang memberi sesuatu bagi negeri ini.

Ayah, dirgahayu Indonesia ke 67. Merdeka!

– – — – – –

Renungan nostalgiaku usai. Aku mengangguk memberi kode kepada teman-teman. Sebagian mereka adalah penyelam dari negara lain. Kami naik ke atas perahu, menuju titik selam yang sudah disepakati.

Hari ini 17 Agustus 2012, Sebagai bentuk kecintaan kami pada negeri ini, dari perairan paling barat Indonesia, kami kibarkan bendera merah putih di dasar laut.

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s