selamat ulang tahun

“Untuk orang istimewa, hadiahkan dia buku.” ~ Tere Liye

Kalimat itu terus berdengung di kepala. Otakku terus berputar, menggali ide perihal buku apa yang akan kuberikan untuknya.

Ulang tahunnya minggu depan. Sudah tak sabar rasanya ingin memberi sesuatu yang spesial untuknya. Wanita adalah mahluk misterius penuh teka-teki, utamanya bagiku yang terhitung kurang pergaulan. Akses persahabatan yang dia buka untukku, telah membangkitkan rasa percaya diri. Ingin rasanya membuktikan pada dunia, bahwa aku yang kuper ini bisa menaklukkan wanita. Pembuktian itu akan kumulai dari dirinya. Aku yakin, sikap baik hati dan penolongku selama ini, telah menorehkan simpati dihatinya. Sebuah pernyataan cinta dariku, kurasa tidak akan berani dia tolak.

Ah aku memang seorang pejuang cinta yang sedang berada dalam rentang waktu keberuntungan. Bisa mengenalnya ketika sedang tertimpa banyak masalah. Perkara kantor telah menyita waktu dan pikirannya belakangan ini. Aku adalah orang yang selalu menemaninya di kala dia menyelesaikan semua pekerjaan kantor hingga larut malam.

“Akuilah bahwa belakangan ini aku adalah pundak bagimu untuk berkeluh kesah. Aku selalu hadir setiap kamu membutuhkan pertolongan.” Batinku mendesis sembari berpikir nyalang teringat senyumnya.

– – – – –

Hari spesial itu tiba. Pukul tujuh pagi dia sudah tiba di kantor. Kupastikan aku menjadi orang pertama di kantor ini yang memberinya selamat. Hatiku buncah penuh harap.

Kuketuk pintu ruangnya, tanpa menunggu jawaban, aku langsung menyeruak masuk ke dalam ruangannya. Jangan sebut diriku tak sopan, aku sudah terbiasa masuk ke ruangnya walau belum dipersilahkan, bukankah aku dan dia sudah berteman akrab belakangan ini.

Dia sedang berdiri sembari membaca sebuah laporan, tersenyum melihat kedatanganku.

“Hai.” Sapaku, mendadak gugup.
“Hai juga. Pagi sekali sudah ada di kantor, biasanya kamu tiba pukul 10 kan?” Jawabnya ringan.

Aku hanya tersenyum, tidak menggubris pertanyaannya tentang kehadiranku yang terlalu pagi. Ini hari spesial, siapa saja boleh datang lebih pagi demi sebuah momen istimewa.

“Selamat ulang tahun ya.” Aku terbata mengucap kalimat yang sudah kulatih semalaman. Tanganku gemetar, menyodorkan sebuah bingkisan yang terbungkus rapih, hasilku memikirkan hingga pening kado apa yang layak dan akan selalu dirinya kenang.

“Wah, repot-repot. Makasih banyak ya.” Senyummu cantik. “Boleh tahu isinya apa? Aku mau buka di rumah saja.”

Dia selalu menggunakan bahasa informal dan ringan kepadaku. Pemicu rasa percaya diri bagiku.

“Buku.” Jawabku singkat.

“Ah.. Aku suka membaca..”

Lalu percakapan kami terputus. Pintu ruangannya terbuka. Sosok tampan tinggi masuk ke dalam ruangan, memeluknya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Pria itu tidak menggubris keberadaanku di ruangan ini. Tidak sopan.

Aku ternganga melihat adegan yang tidak pernah terlintas dibenak. Siapa yang pernah berpikir akan ada pria lain di saat aku hendak menyatakan cinta. Ah sial!

“Hei, kamu demonstratif sekali, ga enak dilihat orang lain hehehe..” Dia menegur sikap lelaki itu, mencairkan suasana yang sudah terlanjur jengah bagiku.

Lalu dia menoleh hangat kepadaku lagi. Ah, masih ada harapan untukku, pria itu mungkin bukan siapa-siapanya.

“Dundi, tolong buatkan teh hangat satu ya untuk tunangan saya. Mas Hanif, kenalkan ini Dundi OB paling cekatan. Seumuran denganku, jadinya paling tahu selera makan dan minumku. Kalau pesan makan siang aku ga perlu pusing, Dundi sudah tau harus beli apa.” Kalimatnya panjang lebar tentang diriku. Eh ada bagian yang sulit kucerna, tunangan..

“Lalu aku apa?” Bisikku dalam hati.
“Delusi!” Bisik hatiku yang lain.

Aku tersadar, terlempar pada kenyataan, bahwa aku memang bukan siapa-siapa, hanya seorang Office Boy dengan kegeeran tingkat tinggi, yang mengira kebaikan hati dan keramahan seorang bos perempuannya sebagai kode cinta. Ah, delusi.

Khayalan ini setinggi-tingginya
Seindah-indahnya
Tepat ku memikirkannya

Bila kudapat kusimpan wajahnya
Memegang indahnya
Berpura memilikinya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s