Metamorfosa

Kapan terakhir kali kita bertemu? Tahun lalu, bulan lalu, minggu lalu? Aku tidak ingat.

Ketika kamu berkata pada Ibuku, “saya akan menikahi anak ibu.” Kapankah itu? Tahun lalu, bulan lalu, minggu lalu? Aku tidak ingat.

Dan waktu terus berlalu. Jam berganti. Hari berganti. Minggu berganti. Bulan berganti. Tahun berganti. Aku tidak peduli rotasi bumi, pun revolusi bumi. Aku hanya tahu, kamu tetap seperti pelabuhan bagi diri. Kemanapun aku pergi, ketika letih, kamu yang akan aku cari.

“Pergilah, lihatlah yang ingin dilihat. Rasakan yang ingin dirasa. Ketika penat, kamu tahu harus pulang kemana.” Katamu kala itu, ketika aku ingin pergi, dan menunda rencana pernikahan kita.

Dan aku selalu percaya katamu. Sehingga hati ini selalu kujaga untukmu.

maafkan jika kau kusayangi, dan bila ku menanti…

– – – – – –

Cibeusi, jam enam pagi. Mestinya mentari mulai mengintip, namun pagi ini dia masih bersembunyi di balik semburat awan putih berulir abu-abu.

Kulayangkan pandang pada sekeliling. Tempat ini masih sama, rumah kontrakan yang kamu tempati bersama teman-temanmu sejak pertama kuliah di Jatinangor, hingga kamu lulus, kuliah lagi dan menjadi dosen di Jatinangor. Kamu penghuni terlama (dan tertua) di rumah ini.

Hatiku berdetak tak sabar, sekian lama tidak bertemu kamu. Kamu sibuk, aku sibuk. Jarak memisahkan kita. Kecanggihan alat komunikasi ternyata tidak bisa menggantikan hangatnya pelukan, bukan?

Kemudian kulihat kamu di teras. Dahimu berkerut, serius membaca sebuah buku. Kupanggil pelan namamu. Kamu menoleh, kaget memandangku. Ya, kedatangan ini tidak kurencanakan, tidak juga sempat juga kuberitakan kepadamu. Sekian tahun tidak bertemu, maka hari ini kuputuskan menyerah pada keegoisanku, memberimu kejutan, aku datang, aku pulang, kepadamu.

maafkan jika kau kusayangi.. dan bila kumenanti..

———-

Kamu berdiri menyambutku, kita berdiri berhadapan. Ternyata aku memendam rindu. Refleks mataku terasa berbinar ketika melihatmu.

Aku tersenyum. Kamu menunduk, sopan.

Lalu aku berkata riang dan nyaring, mengungkapkan betapa aku merindukanmu, dari tiap dinding gua yang kususuri, perut bumi yang kuhinggapi, stalaktit dan stalakmit yang kudekapi, dari Gua-Gua di parangkusumo, Kalikuning, Soon Dong Vietnam, Red Flute Cina, Eisriesenwelt Ice Austria, dan banyak lagi lokasi susur gua obsesiku, semua sepakat menghadirkan gambar rindu tentangmu. Itulah sebabnya aku memutuskan pulang padamu.

takkan hilang cintaku ini, hingga saat kau tlah kembali.. Kan kupendam di hati saja…

Aku tersenyum.

“Mari wujudkan rencana pernikahan kita yang tertunda, aku sudah tidak akan pergi-pergi lagi.” Kataku riang.

Kamu menunduk.

“Kamu, maukah berhijab?” Tanyamu pelan.

Aku membeku. Sesaat tidak paham arah pertanyaanmu. Lalu kupandang lama dirimu, cara berpakaianmu, sadarlah aku bahwa kamu, aku, kita, telah bermetamorfosa.

pernahkan engkau coba mengerti… lihatlah ku di sini..

– – – –

Jarak dan waktu.

Dua besaran fisika, paling kejam yang pernah kutahu.

Mungkin kita masing-masing saling menjaga hati. Senantiasa menempatkan orang tersayang pada tempat istimewa, tidak tergantikan.

Tapi ketika jarak dan waktu ikut ambil peranan, atas nama ‘ruang untuk dewasa dan bertumbuh’, akhirnya kita kehilangan orang – orang tercinta. Bukan karena hati yang ingin berubah, tapi diri yang harus beradaptasi dengan lingkungan.

Serupa ikan yang akhirnya kehilangan rekan-rekannya karena dirinya tumbuh kaki dan kehilangan sirip, berevolusi demi bertahan hidup di rawa yang mengering. Mungkin hatinya masih tetap merasa ikan. Namun kerabat ikannya di rawa berair, tidak lagi melihatnya sama. Yang satu berkaki, yang satu bersirip, metamorfosis membuat mereka tidak sama lagi, tidak bisa bersama lagi.

Angin menyeruak. Kupeluk diriku yang berbalut celana pendek dan kaos tanpa lengan. “Dingin.” Aku membatin.

Dan hari ini kita bertemu, kamu menyadari, aku menyadari, kita menjadi berbeda, kita tumbuh dalam dunia yang berbeda.

Aku tenggelam dalam canduku tentang gua. Kamu menemukan kedamaianmu dalam pelajaran agama.

Aku menggelengkan kepala, berusaha mencari kalimat terbaik untuk menjawab pertanyaanmu tentang hijab.

Kamu memandangku, tepat ketika aku sedang menggeleng.

Kamu menunduk lagi.

“Jika demikian, Aku tidak bisa bersamamu lagi. Maafkan.” Katamu. Pendek, singkat, tidak memandangku. Dan kamu berlalu, sebelum aku sempat berkata.

takkan lelah aku menanti.. takkan hilang cintaku ini..

Dalam janggut panjang yang kau pelihara, juga peci yang sempat lepas diterbangkan angin. Dahimu berwarna gelap, karena sujud-sujud panjangmu. Dan gamis yang berkibar (atau baju koko panjang, atau entahlah aku tak tahu namanya), memperlihatkan mata kakimu. Kamu berjalan menjauh dariku.

“Ya, saat ini kita berbeda.” Bisikku menenangkan hati. Kutinggalkan tempat kita tadi berdiri. Kemudian angin tidak lagi berhembus sendiri, hujan datang menemaninya, meluruhkan air mataku yang sempat tertahan.

“Ya, kita berubah. Aku Ikhlas.” Bisikku menguatkan hati.

takkan lelah aku menanti.. takkan hilang cintaku ini.. hingga saat kau tlah kembali kan kupendam di hati saja..

Waktu yang telah membuat kita berubah, mungkin waktu jua yang bisa mengembalikan kebersamaan kita.. Aku akan berusaha.. menyebrang ke duniamu.

..kau telah tinggalkan hati yang terdalam.. hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s