Berita

Sejak jaman dahulu, saya tidak terlalu suka nonton berita. Awalnya karena sisa-sisa trauma rezim orde baru yang memaksa saya harus nonton berita agar hapal nama menteri ABCD pada kabinet pembangunan XYZ.. Mmmfffhh.

Etapi rezim orde baru tepatnya berakhir kapan ya? Karena seingat saya ketika SMP sudah tidak pernah lagi ada cerdas-cermat yang pertanyaannya, siapakah nama menteri penerangan? (Default: Harmoko, ga ganti-ganti.). Demikianlah rezim berganti, berakhir pulalah kewajiban saya menonton dunia dalam berita demi menghapal nama menteri dan nama ibukota negara tetangga.

Saya sempat suka dan sukarela menonton berita. Kala itu seputar indonesia yang masih dibawakan desi anwar, tza tza yuharyaya (lupa euy namanya), terus siapa gitu, penyiar berita RCTI generasi pertama. Seputar Indonesia saat itu seakan memutus pakem siaran berita ala TVRI yang kaku. Seputar Indonesia dibawakan dengan ringan, pilihan topik berita yang luas (dari kuliner hingga politik), dan sesekali menghadirkan narasumber. Penyiar dan narasumber berbincang dengan bahasa sopan, tanpa tendensi menghakimi. Kemasannya bersih, tidak banyak tumpangan politik, tidak banyak iklan.

Lalu kemudian Desi Anwar hengkang dari kancah news anchor, dan entah bagaimana saya juga melihat langgam berita TV perlahan berubah pula. Porsi berita kriminal menjadi semakin banyak. Jika dahulu dalam satu jam, berita kriminal hanya ada satu atau dua, belakangan berita kriminal mendominasi hampir seluruh slot berita.

Capeklah yah nontonnya. Apalagi kemudian tayangan kriminal ditampilkan dengan vulgar (saya lupa tahun berapa). Ada masanya stasiun tv sangat bangga jika bisa menyajikan berita kriminal lengkap dengan gambar darah atau mayat (telanjang sekalipun) tanpa sensor. Ishhhh penyajian berita yang menurut saya sangat tidak elegan. Baru belakangan sepertinya mulai sopan, mungkin banyak kritikan seputar etika pemberitaan, sehingga bagian tertentu di blur, bagian berdarah-darah akhirnya berkurang.

Saya semakin kehilangan minat menonton segmen berita, ketika kiblat pemberitaan mengalami perubahan lagi. Setelah puas dengan berita kriminal vulgar, saat ini acara berita menjadi sarana pembentukan citra partai politik. Banyak kisah diplintir demi kepentingan si A si B si C, dst. Satu nilai peristiwa, bisa memiliki sudut pandang sangat berbeda, tergantung disiarkan di stasiun televisi mana. Ditambah lagi adanya kecendrungan penyiar berita masa kini ‘berusaha sangat keras untuk terlihat pintar dan menguasai wacana.’ Adakalanya, siaran berita tidak lagi menjadi sekedar siaran berita untuk berbagi informasi mencerdaskan penontonnya, namun menjadi ajang penghakiman dan bully terstruktur. Penyiar dan narasumber adakalanya hanya berdebat kosong, sia-sia.

Capek, eneg. *pindahin ke KBS channel*

Dahulu saya sempat minder dengan kenyataan bahwa saya tidak suka nonton berita. Bahkan sempat seorang teman sangat peduli dengan ketidaksukaan saya menonton berita (mungkin dia bete kali ya, tiap ngajak ngobrol saya banyakan ga updatenya). Berulang kali teman saya menghimbau agar saya menonton berita atau setidaknya membaca headline suratkabar. Pertimbangannya kepada saya, “karena pekerjaan kamu mengharuskan bertemu banyak orang, setidaknya tahu garis besar peristiwa yang terjadi, kalau tidak suka menonton/membaca berita, minimal bacalah headline surat kabar.”

Akhirnya setelah menimbang bahwa apa yang dikatakannya adalah baik, maka saya mulai membaca koran, pilah-pilah artikel yang dibaca, sebisa mungkin memilih artikel yang judulnya terlihat menyenangkan, sisanya hanya baca headline saja, sekedar tahu berita besar terkini. Ya anjuran teman tersebut akhirnya membentuk habit, hingga kini saya terbiasa membaca headline koran pagi hari.

Hingga suatu saat, saya berkesempatan mengikuti seminar Gede Prama. Salah satu sarannya adalah waktu hening sebagai sarana detoksifikasi jiwa, tidak membaca koran atau menonton berita, karena mayoritas isi berita adalah racun bagi jiwa. Kesedihan, konflik, politik, dan sejenisnya.

Ah yes, akhirnya saya mendapat penjelasan logis kenapa saya tidak menyukai berita. Selain karena trauma sisa rezim menghapal nama menteri, juga karena sejak awal alam bawah sadar saya mengetahui bahwa berita-berita itu isinya mayoritas hanya racun dan sampah. Dan ya, akhirnya saya tidak minder lagi dengan keadaan saya yang tidak suka berita. Tidak ada hubungannya dengan intelektualitas atau tingkat kegaulan, sungguh. Sesuai perkataan Bapak Gede Prama, ini hanya usaha untuk memberi asupan positif bagi jiwa.

-Fin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s