modal (II)

Setiap kejadian sukses, biasanya akan membuka pintu lain, pintu menuju sukses lainnya.

Jika tidak sukses, sabar aja, itu hanya tempaan agar kita lebih siap menghadapi sukses yang akan segera datang. Amiin.

Cerita tentang modal.. (Lanjutan)

Jadi pada masanya, sejak pertama kali bekerja dan memiliki penghasilan, saya termasuk yang tidak terlalu suka kongkow-kongkow. Orang rumahan yang kalau selesai jam kantor ya pengennya langsung pulang, sekedar leyeh-leyeh di kasur sembari nonton dvd korea. Jika weekend, ketimbang nongkrong di kafe sana sini, sebagai anak kost saya lebih pilih pulang ke rumah ayah emak (sejatinya numpang tidur, karena fisik dan jiwa terlalu letih diperas kantor selama weekday).

Efeknya? Alhamdulillah uang gaji relatif utuh. Sekedar habis untuk ongkos dan makan seadanya ala anak kost zaman kuliah. Dua tahun kerja, tabungannya bisa jadi DP rumah (agak maksa sih, tabungan dua tahun tetap ga cukup untuk DP rumah, jadi beli rumah pakai tabungan+KTA+KPR, awal2 nyicilnya ngehe, berat banget. Lama-lama terbiasa, karena gaji juga relatif naik tiap tahunnya).

Lalu hidup seadanya tetap berlanjut dong, iseng juga ikut nyobain usaha ini itu yang gampang-gampang dan tanpa modal, oriflame, tupperware, sophiemartin. Modalnya cuma tambeng dan pede aja nawarin ke temen-temen kantor. Alhamdulillah rejeki dateng terus, mungkin juga doa orang tua (makanya kalo gajian jangan lupa belanjain orangtua, biar mereka seneng dan kasih doa yang bagus-bagus), tabungannya bisa nambah untuk modal usaha lain.

Maka bimbingan belajar adalah usaha pertama saya yang membutuhkan modal relatif besar. Kongsi dengan beberapa teman, jadilah juga bimbel itu. Alhamdulillah, terhitung sukses, walau pontang-panting juga ngerjainnya, membagi waktu antara jam kantor yang kusut dan idealisme pengen punya usaha sendiri.

Ketagihanlah bikin usaha lain, setelah bimbel maka lahir ide membuat wafel. Terpikir karena di depan lokasi bimbel tidak ada jajanan, maka dari itu lahirlah ide membuat jajanan wafel. Melihat wafelnya laris, lalu Si Abang wafel (yang adalah OB di bimbel) mengajukan diri untuk memperluas pasar, jualan keliling komplek atau mangkal di sekolah-sekolah di pagi hari (secara bimbel baru ramai sore hari), responnya cukup baik. Maka abang wafel dinobatkan sebagai OB, merangkap tukang wafel parttime, juga ojeg antar jemput siswa bimbel. Salut juga dengan kerjakerasnya OB bimbelku itu demi mencukupi nafkah keluarganya. (kelak akan ada gerobak-gerobak baru yang dibawa abang wafel fulltime yang jualan dari pagi hingga malam).

Okay, bimbel untuk SD dan wafel terbilang sukses, lancar. Alhamdulillah. Walau skalanya masih jauh dari Sampoerna Grup (ya mimpi kali ya, sampoerna grup dirintisnya berapa generasi cobaak :D). Lalu macam-macam tawaran usaha lain berdatangan.

Masih seputar bimbel, karena dirasa bimbel untuk SD cukup laku di lokasi tersebut, maka datanglah pihak lain menawarkan kerja sama, bimbel sejenis untuk usia TK. Sejatinya mereka ingin berbagi tempat dengan bimbel SD saya, namun mereka menawarkan sistem mitra ketimbang sewa tempat. Sistemnya bagi hasil, dan saya tidak perlu mengeluarkan modal apapun. Bahkan setelah bernegosiasi, dengan skema tertentu biaya operasional bimbel SD jadi ditanggung bersama dengan bimbel TK.

Alhamdulillah, skema kemitraan ini juga berjalan lancar.

Lalu masih seputar bimbel, muncul lagi tawaran usaha lain, percetakan. Sistemnya juga kemitraan, saya tidak perlu mengeluarkan modal apapun, dan mendapat bagi hasil dari setiap order yang masuk. Bimbel saya memiliki jaringan luas ke sekolah-sekolah, merchant, diknas, dan beberapa instasi lain, hal ini membuat rekan saya yang bergerak dibidang percetakan tertarik menjadikan bimbel kami sebagai salah satu garda depannya.

Saya merasa hal tersebut tidak mengganggu, dan masih sejalan dengan image bimbel yang ada, maka Jadilah setiap karyawan saya merangkap marketing percetakan. Karyawan bimbel ya senang saja, dalam satu kali jalan ke sekolah-sekolah misalnya, mereka sekalian mempromosikan percetakan. Ada insentif untuk setiap order percetakan yang mereka dapat. Judulnya tambahan penghasilan di luar gaji bimbel. Tambahan penghasilan juga untuk saya hehe. Model bisnis ini juga berhasil. Banyak order titipan dari sekolah-sekolah misal kaos untuk event jambore, Flyer pendaftaran murid baru, spanduk sekolah, lalu belakangan poster parpol. Lumayaan..

Jadi dari satu lokasi bimbel tersebut, telah lahir cucu-cucu unit usaha. Beberapa adalah konsinyasi, yang saya tidak mengeluarkan modal.

Peluang usaha terbaru, patungan proyek listrik untuk BTS-BTS di Jawa timur. Yang ini saya masih belajar skemanya, modalnya ternyata tidak terlalu besar, marginnya lumayan. Mumpung yang ngajak patungan adalah teman yang kompeten dibidangnya (namun kurang modal), rasanya saya akan ambil proyek ini.

Demikianlah satu kesuksesan, membuka pintu sukses lainnya. Tinggal bagaimana kejelian kita menangkap peluang.

Jadi kembali ke PR pertama, ketimbang untuk hura-hura, lebih baik waktu dan uang yang ada digunakan untuk membangun aset dan usaha. Mungkin dua tahun pertama terasa sakit. Teman-teman hidupnya terlihat mewah dan senang-senang, sementara kita tidak. Tapi percayalah, saat mereka baru sadar harus beli rumah, atau apartemen (yang harganya sudah naik tiap tahun, tetap tidak terjangkau uang gaji), kita sudah memilikinya. Itu lebih keren ketimbang gaji yang cuma sedikit dipakai untuk upgrade gadget (yang fiturnya tidak dibutuhkan) atau beli mobil sekedar gegayaan. Karena gadget dan mobil nilainya turun, beda dengan rumah atau tanah. Kalau motor, masih okelah karena biaya perawatan dan bensinnya relatif murah, terbukti menghemat ongkos.

Yuk..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s