(Takkan) Ada Lagi

“Aku mencintaimu.” Bisikku padamu pelan. Kamu menganggukkan kepala,  mendekapku lebih erat.

Mataku dan kamu terpana menikmati pemandangan indah Raja Ampat. Pasir putih yang lembut, gugus terumbu karang yang indah, dan sesekali gerombolan ikan Gobbie melintasi terumbu karang, memberi warna kuning hijau abu-abu. Semua terlihat jelas, bahkan tanpa perlu menyelam.

“Sangat indah.” Bisikku lagi. Kupejamkan mata sesaat, memberi waktu pada daya ingat untuk merekam semua yang terlihat saat ini.

Desember, angin muson barat bertiup kencang. Bersemilir melewati Waigeo, Misool, Salawati dan Batanta, empat pulau besar di Raja Ampat. Sedang musim hujan di sini.

Dari pagi hari hingga sore menjelang, aku dan kamu masih terpana tidak ingin pergi beranjak dari Raja Ampat. Aku dan kamu terus berpelukan erat, bertahan melawan hembusan angin yang kian kencang di sore hari. Dingin. Hanya pelukanmu dan sesekali bisikan bahwa kamu mencintaikulah yang membuatku bertahan melawan dingin.

“Bisakah kita tetap di sini?” Tanyaku padamu.

Kulihat kamu menggeleng pelan. “Kamu tahu bahwa cepat atau lambat kita harus pergi dari sini. Tidak peduli seberapa indahnya suatu tempat, kehidupan kita harus tetap berjalan, bukan begitu?” Jawabmu pelan, sembari tersenyum.

Tetiba kurasakan sesak, mengingat bagian kalimatmu, bahwa kehidupan harus tetap berjalan.

“Aku dan kamu, apakah kita berjodoh?” Tanyaku lagi, bodoh.

Kamu kembali tersenyum, menatapku lembut dengan sabar. “Mungkin kita berjodoh, mungkin juga tidak. Kita hanya bisa berusaha menjalani dengan sebaik-baiknya. Hanya Sang Pencipta yang tahu apakah kita berjodoh atau tidak, setidaknya kita sudah mencoba.”

“Jika kita berjodoh, apakah kita akan tetap terpisah?” Tanyaku lagi, semakin putus asa.

“Kita tidak pernah tahu, Sayang. Jikapun kita berjodoh, siapa bisa menjamin bahwa jodoh datang untuk selamanya? Siapa berani jamin bahwa jodoh tidak memiliki masa kadaluarsa? Yang pasti aku cinta kau saat ini.”

Aku menggugu dalam pelukmu. Merasa diperlakukan tidak adil oleh dunia.

Angin bertiup semakin kencang, meniupmu bergerak semakin ke atas. Kita menuju atmosfer yang lebih tinggi. Udara semakin dingin. Kamu berkondensasi, memadat menjadi awan yang semakin gelap. Tubuhmu semakin berat digelayuti pelukanku. Aku yang semula hanya uap air kini berubah menjadi es. Aku tahu, kebersamaan kita hanya tinggal sementara. Akan tiba saat ketika kamu tidak lagi kuat memelukku. Akan tiba saat ketika aku tidak lagi kuat bergelayut padamu,

Sore semakin pekat, tubuhku semakin berat. Aku tahu waktuku sudah tiba. Perlahan kulepas pelukanku dari tubuhmu. Aku meluncur turun meninggalkanmu. Raja Ampat menjadi syahdu. Denting hujan yang ditingkahi desau angin, menjadikan perairan ini bisu. Mungkin mereka turut merasakan kesedihanku, si hujan yang terpisah dari awan yang dicintainya.

Warnamu tidak lagi gelap. Kamu melembut, menjadi kembali ringan dan putih. Angin yang semula susah payah menerbangkanmu, kini bisa memindahkanmu hanya dengan tiupan ringannya. Kamu berarak, berjalan menjauh dari langit Raja Ampat.

“Selamat tinggal.” Bisikmu padaku.

Kehidupan harus terus berjalan. Hari ini aku takkan ada lagi, sudah luruh ke pangkuan bumi. Tapi mungkin esok atau lusa akan kualami kembali siklus hujanku. Semoga aku dipertemukan lagi dengan awan yang kucintai, satu diantara jutaan awan yang berarak di langit Raja Ampat. Pada saat itu, aku akan menantinya melintasi Raja Ampat. Jika dia lewat, aku akan terbang, lalu kupeluk dirinya, hingga tiba waktuku untuk kembali jatuh lagi ke bumi sebagai hujan.  Demikianlah cinta aku dan kamu. Begitu, selalu.

—-

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” – Sapardi Djoko D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s