Standard

Sasirangan

Muara sungai kuin pagi hari. Pukul setengah enam, pagi masih muda, matahari bersinar masih malas. Udara masih dingin, segar. Perahu berjajar memenuhi sungai. Penjual dan pembeli bertemu memenuhi kebutuhan masing-masing. Mengingatkanku pada filler salah satu stasiun TV, mengambil lokasi pasar terapung ini, lalu seorang ibu mengacungkan jempolnya, Okeee!

Kudorong kursi roda menuju titik terdekat pasar terapung. Tidak banyak jukung berada di sana, hanya sekitar 30 jukung. Semakin lama pasar terapung ini semakin sepi. Tidak lagi ramai oleh jukung yang lalulalang. Aku khawatir, kelamaan artefak nyata kebudayaan barter ini akan hilang.

Aku menundukkan kepalaku mendekati kepalamu dari belakang.

“Dinginkah?” Tanyaku di telingamu. Kamu hanya diam, matamu lurus menatap pasar terapung. Kuteruskan mendorong kursi rodamu, berkeliling sekitar muara sungai. Lalu aku berhenti pada tempat yang menurutku memberi pemandangan terbaik pasar terapung.

Aku berjongkok di sebelah kursi rodamu, kugenggam tanganmu erat. Putaran kenangan mengambang di benakku.

“Ayo kita ke pasar terapung!” Ajakmu hari itu.

Namun sabtu itu aku terlalu sibuk, ada rapat yang harus kuhadiri pagi-pagi. Maka kamu pamit padaku akan berangkat seorang diri. Aku setuju, tentu dengan panjang lebar pesan agar kamu berhati-hati. Baru seminggu kita menikah kala itu. Pengantin baru. Kamu tinggalkan pekerjaanmu di Jakarta, ikut denganku yang mendapat penempatan dinas di Banjarmasin. Katamu tak apa meninggalkan karirmu yang sudah dibangun di Jakarta, demi bakti pada suami. Aku tersenyum mendengarnya. Hatiku makin buncah oleh cintaku kepadamu.

Tapi kamu tidak pernah tiba di pasar terapung. Perahu motor yang kamu tumpangi membelah sungai martapura dalam kecepatan tinggi, lalu malangnya terbalik di dekat rumah-rumah penduduk. Kepalamu terantuk tiang rumah panggung. Kamu selamat, tidak ada luka sedikitmu di tubuhmu. Namun jiwamu, mendadak kosong. Semenjak kecelakaan itu kamu diam, tidak pernah berkata-kata lagi. Dokter berkata, mungkin gegar otak ringan.

Setahun sudah kamu tenggelam dalam diam. “Aku merindukanmu, istriku.” Bisikku padamu yang masih khusu’ memandangi pasar terapung. “Hari ini sudah kutunaikan janjiku mengajakmu ke pasar terapung. Kembalilah padaku. Kembalilah jiwamu.” Kuselipkan ketelingamu anak rambut yang menutupi sebagian wajahmu.

Hari mulai siang, pasar terapung semakin sepi. Jukung-jukung mulai meninggalkan muara sungai. Aku berdiri, keram juga kakiku jongkok terlalu lama. Hendak kudorong lagi kursi rodamu, mengajakmu pulang kerumah.

Seorang nenek tua, berdiri di dekatku. Aku membungkuk, tanda memberi hormat pada orang yang lebih tua. Nenek tua mendekat, lalu memandangmu lekat-lekat. Bahkan terlalu dekat. Hidungmu dan hidungnya nyaris beradu. Kamu tetap memandang kosong.

“Sakit pingitan.” Ucap nenek tua itu pelan.

“Maaf, kenapa Nek?” Tanyaku tidak paham.

Yang kutanya hanya diam. Dia keluarkan sejumput kain dari kantong kreseknya. Kain Sasirangan. Dipakaikannya kain itu melingkari punggung istriku.

“Istrimu sakit pingitan, dikenal penduduk sini sebagai tulah dari Putri Buih Junjungan. Mungkin karena kecantikannya dianggap Putri Buih Junjungan bisa menyainginya.”

“Lalu?”

“Sudah kupakaikan kain Langgundi ini ditubuhnya, tunggulah sesaat. Semoga bisa menangkal tulahnya.”

Lalu kulihat mulut nenek tua komat kamit di depan wajah istriku. Tangan istriku mengejang, ekspresinya seperti menahan sakit. Aku hendak menarik nenek tua itu menjauh dari istriku, tapi kakiku tak kuasa beranjak, seperti terpaku di tanah.

“Sudah selesai. Lain kali berhati-hati jika melewati sungai-sungai di sini. Semua tempat memiliki tuah, jangan berkata dan bertindak tidak sopan.” Nenek tua itu berlalu.

Kakiku bisa bergerak lagi. Kudekati istriku yang masih tak sadar. Dengan panik kupukul-pukul pipinya, berusaha menyadarkannya.

“Aa…” Istriku tiba-tiba sadar dan memanggil namaku.

“Aisyah…” Aku kaget, refleks memeluk dan memanggil namanya. Sekian lama tidak kudengar suaranya. “Kamu bisa berkata-kata lagi Aisyah. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.”

Nenek tua tadi sudah tidak ada. Bahkan aku belum sempat mengucap terimakasih. Kain sasirangan, kain langgundi, nenek tua, sakit pingitan, atau apalah itu, aku tidak mengerti. Mungkin memang benar adanya, ada mahluk lain yang hidup di dunia ini, berdampingan dengan kita, namun  tidak terlihat. Entahlah..

———-

Kain Langgundi: Kain tenun berwarna kuning, cikal bakal kain sasirangan.

Putri buih junjungan: Calon permaisuri Raja Lambung mangkurat, mengajukan syarat dibuatkan kain langgundi ketika akan dinikahi. Pasca Putri Buih Junjungan mengenakan kain Langgundi, maka masyarakat awam tidak lagi menggunakan kain serupa, sejak itulah kain langgundi digunakan terbatas di kalangan bangsawan, terkadang digunakan sebagai alat penyembuh.

Sakit pingitan: Sakit yang konon dikirimkan oleh leluhur yang sudah meninggal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s