Ramai

Serial Ninda – #7

Siang yang terik di Yogjakarta. Kupasang kacamata hitam, melangkah keluar dari Ramai Mall. Mal legendaris kebanggaan warga Jogja, beroperasi sejak tahun 1957. Bagiku Ramai Mall identik dengan pempek palembang. Berderet sepanjang jalan di samping Ramai Mall adalah warung-warung pempek lezat tiada tara. Tidak peduli warung pempek mana yang kamu masuki, selama itu ada di deretan samping Ramai Mall, sudah dapat kupastikan enak. Demikianlah darah Palembang dan Yogyakarta mengalir di diri, walau berada di Yogyakarta untuk ziarah makam Ibu, yang kucari pertama kali tetap pempek.

Yogyakarta di Bulan Juni – Juli, rasanya tidak seperti Yogyakarta yang alon asal kelakon. Di masa libur seperti ini, Yogyakarta menjadi menyeramkan. Ramai turis dari berbagai tempat, macet di mana-mana. Kulayangkan pandang ke sekeliling Malioboro. Mobil berjalan pelan-pelan, lebih mirip parkir di sepanjang jalan. Terkadang aku bersyukur menjadi tuna rungu, hanya mataku yang letih melihat ramainya hari ini. Telingaku, aman tidak didesingi berbagai suara. Hidupku sunyi, aku suka.

Aku tidak berlibur seperti mereka. Selain rindu Ibu, lebih tepatnya aku melarikan diri. Melarikan diri dari apa, aku tidak tahu. Hanya naluri. Naluri menyelamatkan diri, yang biasanya sangat peka bagi orang-orang dengan kebutuhan khusus sepertiku.

Ayahku ditahan sejak empat bulan lalu. Konon tuduhan korupsi. Hingga hari ini persidangannya belum juga selesai. Persetan dengan politik. Beliau manusia paling jujur yang pernah kutahu. Siang malam aku berdoa, agar kasus ayah segera tuntas. Aku tidak tahan melihat kesedihan di mata Ninda, adikku. Ayah adalah poros dunia bagi Ninda. Tempat Ninda bermanja dan berkeluh kesah. Ibu sudah tiada sejak Ninda berumur setahun. Dalam situasi seperti ini, mestinya Ninda dikuatkan oleh Ibu. Namun Ninda harus berjuang sendiri, mengatasi perasaannya. Sedangkan aku rasanya tidak dapat berbuat banyak untuk menghiburnya.

Alih-alih menjaga Ninda, aku malah kerap mendapat teror. Entah siapa berkali-kali mengirimiku SMS, isinya meminta agar aku membujuk ayah untuk mengakui  semua tuntutan Jaksa. Awalnya sopan, lama kelamaan menjadi bar-bar. SMS itu tidak lagi berisi permintaan, sekarang mulai diikuti ancaman. Kucoba mencari tahu apakah Ninda mengalami hal serupa, namun sepertinya dia tidak diganggu. Ku cek HP Ninda, bersih tidak ada teror serupa dengan milikku.

Kudiskusikan hal ini dengan Wak Yasa. Menurutnya perbuatan amatir. Asam garam yang sudah dirasakan Wak Yasa, membuatnya tahu mana ancaman yang harus diperhatikan, mana yang harus diabaikan. Menurutnya ancaman ini tidak penting. Juga hanya aku yang dipilih untuk diteror, menurut Wak Yasa karena mereka menganggap aku yang tuna rungu akan merasa tidak berdaya, lalu ketidakberdayaanku akan dengan mudah mempengaruhi ayah. Meskipun ancaman ini dirasa tidak membahayakan, Wak Yasa meminta  agar jangan sampai terdengar Ninda dan Ayah. Wak Yasa tidak ingin beban pikiran Ayah dan Ninda bertambah berat.

Maka kubuatlah skenario berlibur. Pada ayah kubilang aku akan mengajak Ninda berlibur. Ayah setuju karena menurutnya Ninda membutuhkan penyegaran. Aku tahu Ninda tidak akan ikut, jika kukatakan berlibur. Maka kubuat diriku ‘kabur dari rumah’. Sesuai perkiraan, Ninda panik dan mencariku kemana-mana. Sebagai petunjuk, kubuatlah foto Jam Gadang, dengan alamat Yayasan Melati.  Hanya dengan Wak Yasa aku senantiasa memberitahu keberadaanku. Nomor ponsel kuganti, agar jejak tidak terdeteksi peneror. Sampai sini rencanaku masih berhasil. Ninda menyusulku.

Dua hari sebelum Ninda datang ke Bukit Tinggi, Candra tiba lebih dulu. Cerita Wak Yasa tentang keadaan ayah membuatnya kembali dari Norwegia. Dia mencemaskan aku dan Ninda. Aku beryukur. Candra, putra Wak Yasa. Orang kedua selain Wak Yasa yang dapat kupercaya. Kehadirannya terasa sangat melegakanku. Apalagi ketika Candra berkenan menemaniku kabur atau liburan atau apalah terserah dia menyebutnya.

Aku dan Candra pergi dari Yayasan Melati. Adalah konspirasiku dengan Andri, sahabatku sekaligus pendiri yayasan tersebut, agar membuat Ninda sibuk di Yayasan, sehingga melupakan niatnya mencariku. Ninda terbiasa berkomunikasi denganku yang tuna rungu, sehingga adalah hal mudah baginya beradaptasi selama tinggal di yayasan. Yayasan kurasa lebih aman dibanding Ninda tetap di Jakarta, sendirian di rumah.

Kesalahanku adalah mengirimi Ninda foto-foto dari tempat yang kusinggahi. Maksudku sebagai penanda bahwa aku baik-baik dan sedang bersenang-senang, Ninda jangan khawatir. Ternyata adikku itu nekat luar biasa. Dia mencariku hanya berbekal foto tanpa alamat. Keberuntungan menyertai kami, Ninda bertemu Candra di Palembang.

Getaran ponsel menyela lamunanku yang sedang memandangi keramaian Malioboro.

GIA 465. 12.30 WIB. See you there soon.

Pesan singkat dari Candra. Aku tersenyum, senang akan segera bertemu Ninda. Rindu juga dengan adikku yang cerewet itu. Hampir tiga bulan tidak bertemu dengannya.

Kuketik pesan balasan kepada Candra.

sip!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s