Standard

Biru, Jatuh Hati

Serial Ninda – #6

Aku terbangun di rumah panggung mendiang Nenekmu. Hari sudah siang. Udara segar pinggiran kota Palembang menerobos paru-paruku. Kuhirup udara segarnya dengan rakus. Melalui jendela, kulihat rumpun tebu bergoyang ditiup angin. Rumpun tebu penuh kenangan bersamamu dan Mas Raka.

Kusampirkan hoodie merah milikmu ke kursi, aroma parfummu tertinggal di tubuhku, menentramkan. Aku melihat sekeliling kamar, berusaha merangkai kenangan masa kecil kita. Mataku tertumbuk pada sebuah foto di dinding kamarmu. Pantai Pangandaran. Mhmm foto ini terhitung baru. Ingatanku melayang pada kejadian tiga tahun lalu.

19 Juli 2008, Festival Layang-layang Pangandaran. Hari masih pagi, matahari masih bersinar redup. Bahkan acara belum dibuka secara resmi oleh pemerintah setempat, namun ratusan layang-layang sudah serempak mengudara. Warna-warni memanjakan mata.

Adalah idemu ke Pangandaran. Katamu dalam rangka pesta perpisahan. Usulan penelitianmu telah disetujui pihak sponsor. Kamu direncanakan berangkat satu minggu lagi.

Norwegian University of Science and Technology. Sedih, itu sudah pasti. Norwegia tidak sedekat Bandung. Tidak akan terjadi lagi kisah aku mengetok pintu kostmu pagi-pagi dengan alasan ‘Inspeksi mendadak, mewakili Wak Yasa’. Sedih, itu sudah pasti. Norwegia tidak sedekat Bandung. Tidak akan terjadi lagi kisahmu yang tiap jumat malam pulang ke Jakarta, lalu duduk di teras rumahku, menanti pria yang akan menjemputku kencan hari Sabtu. Panjang lebar kamu akan ngobrol dengan pria itu, konon memberi mereka berbagai macam wejangan agar tidak mempermainkan hatiku. Sedih, itu sudah pasti. Penelitianmu diperkirakan akan dikembangkan ke tingkat desertasi. Kamu akan berada di Norwegia untuk lima, bahkan sepuluh tahun. Sungguh waktu yang sangat panjang.

Semakin siang, pantai semakin ramai. Layang-layang terbang semakin marak. Mas Raka masih khusu’ menerbangkan layang-layang, larut dalam dunianya. Kamu juga sibuk dengan duniamu, membidik kameramu ke berbagai arah. Sesekali tersenyum ke arahku. Tak lama kemudian kamu duduk di sampingku. Sinar matahari menerpa wajahmu, membuatnya terlihat bersinar. Aduhai kakakku, seandainya kamu tahu, hari ini aku merasa sangat melankolis teringat kamu akan pergi cukup jauh.

“Kalau aku belajar dengan rajin, mungkinkah aku bisa bersekolah di sana juga,  bersamamu?” Tanyaku bodoh, refleksi keputusasaan.

Kamu tertawa terbahak. “Ya, bisa. Semua hal bisa terjadi di dunia ini.” Begitulah jawabmu. Berusaha menghiburku meskipun kamu tahu, aku tidak akan kemana-mana. Ada Mas Raka dan Ayah yang membutuhkanku. Kuliah bersamamu di luar negeri, akan membuatku merasa seperti anak dan adik durhaka, meninggalkan ayah dan Mas Raka.

“Hai, sudahlah jangan melankolis. Seperti yang aku bilang, kita kesini untuk pesta perpisahan. Ingat, Pesta! Bukan muhasabah, jadi jangan meratap seolah besok kiamat. Kamu tetap adikku, Aku tetap kakakmu,  menyayangimu.” Lalu kamu mengusap kepalaku hangat, jarimu menunjuk-nunjuk ragam layangan yang menurutmu akan menarik perhatianku. Berusaha mengalihkan kesedihanku.

Kamu tetap adikku, Aku tetap kakakmu.

Kata-kata penghiburanmu justru menghujam hatiku, perih.

Langit biru berwarna-warni, Laut biru berombak cantik. Biru, aku jatuh hati.

Pada seseorang yang senantiasa menyayangiku sebagai adik. Pada seseorang yang mengenal seluruh sisi hidupku. Pada seseorang yang bahkan tahu bagaimana rupaku ketika masih ingusan, bermain dengannya hanya dengan menggunakan kaos kutang dan celana dalam bau ompol. Biru, adakah saat dalam hidupnya, ketika aku terlihat sebagai wanita yang layak disayangi sebagai kekasih, bukan sekedar adik?

Biru, aku jatuh cinta pada Candra. Mungkinkah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s