Standard

Sepanjang Jalan Braga

Serial Ninda – #5

 

 

Setiap orang pernah mengalami moment of truth, kejadian untuk pertama kali, kadang menjadi titik awal suatu keputusan atau pembentukan persepsi. Tentangmu, akupun mengalaminya.

Aku dan kamu. Pada satu pagi di masa awal kuliahku, masih bangga-bangganya menjadi mahasiswa baru di Bandung, kamu dan Raka tiba-tiba muncul di pintu kostku. Inspeksi mendadak atas perintah Wak Yasa, katamu. Ingin memastikan bahwa aku benar-benar kuliah, tidak sekedar menyembunyikan wanita di kamar kost. Halah.

Karena tidak mungkin kamar kapal pecahku menampungmu, kocar-kacir kutelepon beberapa hotel, melakukan reservasi. Maka menginaplah kamu di Kedaton, dengan pertimbangan hanya di sana yang masih tersedia. Tempat lain penuh.

Kamu mengoceh protes, karena kamu tahu lingkungan sekitar Kedaton rawan di malam hari. Banyak ‘ayam’ berseliweran.

Kita berjalan kaki dari hotel, menyusuri Suniaraja menuju Braga, mencari makan malam. Kamu mengoceh lucu sepanjang perjalanan. Kamu melambaikan tangan pada beberapa orang yang ternyata kamu kenal. Bah, kemanapun aku pergi denganmu, ada orang yang mengenalmu. Bahkan malam hari kala gelap, masih ada saja yang mengenalmu. Aku jadi bertanya-tanya, pergaulan anak SMA macam apa yang kamu jalani, membuatmu terkenal begini, bahkan di kota lain.

Mengingat sekolah Ninda di kawasan Blok M, tak urung pikirku mengelana pada adegan-adegan Jakarta Undercover. Tentang pelajar-pelajar SMA di kawasan bulungan yang bisa ‘dipesan’, menjadikanmu terkenal. Ninda menjitak kepalaku, ketika kuungkapkan pemikiran tersebut.

“Otakmu memang kotor ya kak. Teganya membayangkan adik sendiri jadi ayam seperti itu.” Lidahmu menjulur. “Kakaknya temanku, anggota Bandung Heritage Society, aku sempat ikut penelitian mereka tentang revitalisasi Jalan Braga. Bulan lalu puncaknya, dua minggu aku menginap di rumah temanku di Setiabudi, lalu tiap pagi kami ke Braga mengumpulkan bahan penelitian. Makanya aku masih kenal sebagian penjual lukisan dan orang-orang di komunitas seputar Braga. Dua minggu cukup intens aku mengganggu mereka, hehehe..” Kamu menjelaskan dengan mata berbinar penuh minat.

“Lalu apa hasilnya penelitianmu? Jangan-jangan hanya alasan agar bisa keluyuran di Bandung tanpa prasangka Om Bahri?” Tuduhku usil, mengendorse nama Ayahmu.

“Ah. Suudzon kali kakak ini. Makanya tempo hari itu jangan terlalu sibuk SNMPTN, urusi adikmu ini sekali-sekali. Proposal kami tentang Revitaliasasi Fasade bangunan. Agar lebih rapih, seharusnya tidak ada Billboard di sekitar Braga. Tulisan nama-nama toko, harusnya di buat kecil-kecil. Jadi murni tampak depan bangunan yang ditonjolkan. Seperti kalau kita jalan-jalan di kota-kota tua seperti Venezia.  Dua minggu di sini, aku sibuk mendokumentasi  sekaligus membuat rekomendasi tampilan depan tiap gedung. Tapi ya entahlah, apakah akan di implementasikan dengan serius. Tahu sendiri kan, hangat-hangat tahi ayam pemerintah kita. Kadang juga hanya proyek mercu suar, gemanya kencang, hasil tidak ada.”

Aku menghela nafas. Bangga, semuda dirimu yang baru saja naik kelas dua SMA kala itu sudah terpikir revitalisasi suatu kawasan. Sementara mungkin teman seumurmu hanya sibuk menghabiskan liburan kenaikan kelas dengan tawaf dari mal ke mal. Fasade bangunan, ide yang menarik untuk digali. Fasade cantik bangunan kuno selalu menggelitik ketertarikanku dalam fotografi lansekap. Dan Braga adalah gudangnya Fasade bangunan cantik, jika digali serius sebagai cagar budaya. Darahmu mengalir kepiawaian arsitek Om Bahri, Ninda.

Di depan sebuah kafe di Braga, seorang pria menepuk pundakmu. Kamu memekik senang melihat pria tersebut. Kalian bersalaman, kulihat sekilas gerak tubuh pria itu mencondong hendak mengecup pipimu. Kamu menghindar sopan. Hatiku geram melihat gerak gerik pria sok kenal itu.

“Kak Candra, ini Tommy. Ini kakaknya temanku, yang kuceritakan mengajakku proyek Fasade itu. Dia satu kampus dengan kakak loh, tapi angkatannya dua tahun lebih tua ya. Jurusan arsitek. Kak Tommy, ini Kak Candra kakakku. Dia Teknik Penerbangan, baru masuk tahun ini. Dan ini Kak Raka, kakakku juga.” Ninda memperkenalkan kami. Aku menjabat tangannya keras, sebagai sinyal agar berhati-hati denganku. Merasa tidak diinginkan keberadaannya, Tommy berlalu dengan cepat. Aku lega.

“Ninda, mulai sekarang kalau kamu pacaran, kenalkan dulu pacarmu padaku.” Perintahku otoriter. Ninda menatapku bingung, namun mengangguk patuh.

Setelah itu, di sepanjang Jalan Braga kugandeng tanganmu erat untuk pertama kalinya. Berdalih sebagai kakak, namun sebenarnya bukan. Kugandeng tanganmu sebagai seorang lelaki yang cemburu dan ingin melindungi kekasihnya.

– – – – –

Malam berganti dini hari, menuju pagi. Kamu tertidur pulas di kamar masa kecilku. Kurapihkan selimut yang kamu pakai. Hoodie merah milikku masih hangat memeluk tubuhmu. Itulah moment of truthku, Ninda. Sepanjang Braga, delapan tahun yang lalu, pertama kali aku menyadari: tidak ingin melihatmu bersama lelaki lain.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s