Standard

Kerudung Merah

-Ninda: #4

Kamu gadis nekat, batinku dalam hati. Kupikir kamu masih aman berada di Yayasan Melati, sesuai rencanaku dan Raka. Ternyata kamu melencer hingga ke Palembang, bahkan nyaris mengikuti kami ke Belitong. Nekat.

Setelah terkaget-kaget bertemu denganmu di Pempek Pak Jo, kamu memaksa ikut denganku menginap di rumah panggung milik mendiang nenekku, tempat tinggalku dulu.

Angin malam menggoyang-goyang rumpun tebu. Kamu masih ingin duduk di teras rumah. Menikmati kenangan masa kecil, katamu. Lalu kita bercerita tentang setan putih di kebun tebu nenek. Malam hari sepulang mengaji, aku dan kamu melangkah cepat-cepat, aku tersaruk-saruk sarung, kamu tersandung-sandung mukenah. Ayahku melihat kegaduhan kita dari jauh.

Dengan gagap ketakutan, kamu berkata pada ayahku: “Wak.. Ya.. ya..sa.. Nin nin.. da liat liat putih-putih di kebun Nenek. Ayo wak ayo diusir..” Kamu mendorong-dorong ayahku, agar beliau menuju kebun tebu.

Ayah pergi ke kebun tebu sebelah rumah. Kembali dengan segulungan selimut garis-garis. “Anakku, bukan setan putih. Nenek lupa mengangkat jemurannya. Wak antar pulang ya.” Ayahku mengusap kepalamu. Melampiaskan rasa sayang pada anak perempuan yang tak kunjung dimilikinya. Aku mengikuti ayah di belakang, ikut mengantarmu. Rumah kita bersebelahan. Ayahmu dan Raka sudah menanti di teras rumah panggung. Kamu mencium tanganku dan ayah, mengucap terimakasih, lalu pamit ke dalam. Esok paginya kita berdua tertawa terbahak-bahak mengingat kebodohan kita lari tunggang-langgang karena melihat ‘hantu jemuran’.

Kita tidak terhubung pertalian darah. Pertemanan ayahmu dan ayahku yang menjadikan kita layaknya saudara kandung. Juga kesamaan bahwa kita tidak lagi mempunyai ibu, merekatkan naluri kita untuk saling menjaga. Aku dan Raka, menjagamu. Aku menjaga Raka.

“Kenapa pulang ke Indonesia, Kak?” Tanyamu padaku. Melompat dari percakapan tentang masa kecil.

“Ada data yang harus diambil di Indonesia.” Jawabku pelan. “Karena mengkhawatirkanmu dan Raka.” kataku dalam hati.

“Sampai kapan di Indonesia?”

“Sampai pengumpulan datanya selesai, mungkin 4 bulan lagi. Itulah enaknya jadi mahasiswa doctoral, bisa sering pulang kampung dengan alasan ambil data, dibayarin sponsor pula.” Aku berusaha melucu. “Setidaknya hingga kamu dan Raka kuyakini dalam kondisi aman.” Hatiku berdesis lagi.

“Issshh pencinta gratisan!” Ledekmu. “Kuliahmu apa? Cybernetics Engineering? Ilmunya tidak bisa untuk tanam padi, Kak. Kenapa harus jauh-jauh kuliah ke Norwegia untuk sesuatu yang tidak bisa diterapkan di Indonesia.” Pelan, namun terasa pedas komentarmu.

Benar. IPTN sudah tidak berproduksi. Risetku tentang compressor surge control and load sharing sudah pasti tidak bisa terpakai untuk industri pesawat terbang Indonesia. “Semoga ketika dua tahun lagi risetku selesai, IPTN sudah beroperasi lagi ya, Nin.” Jawabku.

“Semoga kak. Karena kalau disini tidak produksi pesawat, pasti Kak Candra akan pergi lagi dari Indonesia, selamanya menetap di luar negeri seperti Pak Habibie. Kasian Wak Yasa sendirian.” Kamu berkata dengan pandangan hampa. “Apalagi sekarang ayah ditahan, mas Raka pergi. Tidak punya lawan main catur lagi dia di rumah.”

“Ha ha ha, kamu dong belajar catur biar bisa temani ayahku.” Tawaku keras-keras, berusaha mencairkan suasana sedih yang tergambar dari suaranya.

Kamu tersenyum. Angin semakin dingin. Kupasangkan jaket hoodie merahku padamu, berikut tudung kepalanya. Wajahmu terlihat lucu.

“Jadi seperti The little red riding hood.” Kataku memandangmu gemas, mengusap kepalamu.

“Iya, aku gadis kerudung merahnya. Kakak serigala jahatnya.” Balasmu, menyebut tokoh jahat dalam dongeng yang sering diceritakan ayahmu pada kita.

“Kak, sebenarnya kamu bersama Mas Raka kan, di bukittinggi?” Tanyamu tiba-tiba. Aku mengangguk tidak kuasa berbohong. “Lalu, kenapa kalian terpisah?”

“Ada hal yang harus kuselesaikan di sini. Sementara Raka meneruskan perjalanannya.”

“Apa yang ada di benak Mas Raka, disaat sulit seperti ini dia malah keliling Indonesia. Jadi mas Raka dimana?”

Aku tidak menanggapi pertanyaannya tentang benak Raka. Kutunjukkan foto danau toba, mengalihkan perhatiannya.

“Aku janjian bertemu Raka setelah urusannya di Sumatera Utara selesai. Bersabarlah, mungkin dua hari lagi kita berangkat.”

“Ke Danau Toba?” Tanyamu.

“Bukan. Tujuannya berikutnya, yang tak kalah cantik dengan Danau Toba.”

Kamu tersenyum, penuh harapan akan segera bertemu Raka.

Duhai gadis berkerudung merahku. Adakah waktu ketika kamu tidak melihatku seperti kamu melihat Raka? Melihatku bukan sebagai kakak?

Kenapa harus jauh ke Norwegia? Tidak melulu karena aku gila ilmu aerodinamika dan aerospace. Aku tidak tahan harus berada disisimu sebagai kakak, tinggal bersebelahan rumah, setiap hari melihatmu. Agar bisa menata hati, maka menjauh adalah solusi.

Seperti serigala dalam dongeng itu, aku lelaki yang berpura baik hati, memperlakukanmu seolah adik sendiri. Padahal tidak lagi seperti itu yang aku rasakan. Tapi apa kata Raka, Ayahku, Ayahmu. “Kita semua bersaudara.” Ah, saudara.

Aku mencintaimu, Ninda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s