Standard

Jingga di Ujung Senja

– Ninda: #3

Langit jingga di ujung senja, menaungi Jembatan Ampera berwarna merah. Kendaraan lalu-lalang di jembatan. Perahu dan rakit mengalir pelan di bawah jembatan, mengikuti arus sungai musi yang semakin lemah, kalah oleh sampah.

Aku duduk terpekur pada salah satu sudut di bawah Jembatan Ampera. ‘Sudut Pempek Bakar’, begitulah aku, Ayah, dan Mas Raka menyebutnya. Lima belas tahun berlalu sejak kami pindah dari Palembang. Pempek Bakar Pak Jo masih eksis.  Berbeda dengan pempek goreng yang berkuah cuko, pempek bakar terbuat dari adonan cilok. Jika sudah dibakar, Pak Jo akan membelah pempek tersebut, mengisinya dengan sambal hijau, udang rebon dan kecap. Gurih, nikmat. Aku menjilati tanganku yang berlumuran kecap. Mengelamuti kenangan masa kecilku di sini. Rindu Mas Raka.

Menit terakhir keberangkatanku ke Belitung, Uda Andri menyampaikan surat dari Mas Raka. Isinya foto Jembatan Ampera.  Dan disinilah aku berada, mengikuti jejak Mas Raka, tanpa petunjuk dan kemajuan berarti.

“Ayah, maafkan aku belum bisa menemukan Mas Raka.” Bisikku dalam hati. Rindu ayah.

Bersama temannya yang biasa kupanggil Wak Yasa, Ayah merintis perusahaan  PT. Hyang Jaya Kontraktor. Ayah spesialis arsitek dan perencanaan, Wak Yasa spesialis sipil dan konstruksi. Kolaborasi dua pemuda idealis. Mereka dikenal sebagai duo jujur dalam industri konstruksi dan properti. Tidak pernah ada penyelewengan dalam RAB. Semua spesifikasi bangunan sesuai cetak biru yang diperjanjikan. Kejujuran tersebut membuat bangunan-bangunan yang ditangani ayah dan Wak Yasa terkenal kokoh.

Standar kendali mutu yang diterapkan ayah, menyebabkan PT Hyang Jaya sulit menang tender yang berasal dari anggaran negara dan daerah. Kata ayah, tender semacam itu rentan penyimpangan. Peserta tender ditekan untuk memberikan penawaran termurah. Setelah harga yang ada disetujui, masih harus dikorting 25% untuk ‘seserahan’ bagi para pejabat. Konsekuensinya banyak bahan yang harus dihemat agar bangunan tetap berdiri dengan anggaran minus seperempatnya. Contoh: adukan semen  sedianya 1 semen berbanding 4 pasir, akan dibuat menjadi 1:7. Jadilah bangunan mudah keropos karena tidak terikat erat oleh semen. Demikianlah nasib pembangunan infrastruktur Indonesia, keropos. Sekeropos otak dan mental pejabatnya.

Ayah dan Wak Yasa tidak merasa rugi kehilangan berbagai proyek besar. Bagi mereka, itu adalah jalan Allah agar selamat dari korupsi. Citra mereka sebagai orang jujur, membuat PT Hyang Jaya laris manis untuk proyek pribadi yang pemiliknya menuntut kesempurnaan dan ketahanan.

“Tuhan maha adil, rejeki sudah diatur olehNya asal kita berusaha.” Begitu nasehat ayah padaku dan Mas Raka.

Hingga datanglah cobaan-Nya. Mega proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) yang kelak menghubungkan Merak – Bakauheni, menikung langkah ayah. Hyang Jaya tidak berminat terhadap proyek ini, namun salah satu pejabat melakukan penunjukkan langsung Hyang Jaya sebagai subkontraktor. Awalnya ayah tidak setuju. Setelah berkali-kali diyakinkan bahwa untuk nominal kecil dimungkinkan penunjukkan langsung, tidak harus melalui tender, akhirnya ayah setuju. Ayah merasa telah mengenal pejabat tersebut, beberapa kali Hyang Jaya membuat bangunan pribadi milik si Pejabat. Pejabat itu puas, karena hasil bangunan yang kokoh. Karena itulah si Pejabat menunjuk langsung Hyang Jaya sebagai subkontraktor, untuk menjamin jembatan ini tidak roboh seperti Jembatan Kukar pendahulunya.

Malangnya, pejabat itu memiliki banyak musuh politik. Dia diciduk dengan tuduhan korupsi, berlapis. Ayah, yang saat itu mendapat keistimewaan penunjukkan langsung, ikut dikaitkan. Demikianlah empat bulan terakhir, ayah berdiam di tahanan. Dalam proses peradilan yang tidak adil dan tak kunjung selesai. Ayah menguatkan aku dan Mas Raka, bahwa ini hanya cobaan. Aku memilih percaya pada perkataan ayah. Namun Mas Raka, sepertinya dia sulit menerima kenyataan. Tidak berapa lama setelah ayah ditahan, Mas Raka menghilang dari rumah. Aku kalang kabut mencarinya, hingga terdampar di sini.

Hyang Jaya beroperasi seperti biasa. Tidak terpengaruh proses penahanan ayah. Nampaknya para klien tahu kalau kejadian ini hanya permainan politik. Proyek-proyek tetap mengalir. Sementara Wak Yasa menangani semua sendirian. Seperti Ayah, Wak Yasa juga percaya bahwa ini hanya sementara. Wak Yasa adalah penopangku, ketika orang-orang terdekat terasa jauh.

Senja jingga perlahan redup, namun masih kulihat semburat matahari. Sebuah pesawat melintas di atas Jembatan Ampera, menyisakan contrails cantik membelah langit. Mendadak aku teringat putra Wak Yasa yang seumur Mas Raka. Candra namanya, dia tergila-gila ilmu aerodinamika dan fotografi lanskap. Jika saat ini ada Candra, pasti sudah  puluhan frame foto diambil demi mengabadikan jejak asap jet. Ah aku juga Rindu Candra.

Ayah, Mas Raka, Candra. Temukan aku, aku letih mencari.

Magrib tiba, Pempek Bakar Pak Jo mulai sepi. Aku hendak kembali ke penginapan. Mungkin memang aku harus kembali ke Jakarta, menyerah tidak bisa menemukan Mas Raka.

Aku hendak membayar, ketika sosok tinggi yang sangat kukenal masuk ke Warung Pak Jo.

“Candra!” Teriakku memecah keheningan warung. “Dimana Mas Raka?” Candra diam membeku, tak siap melihat kehadiranku di Palembang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s