Standard

Pagi Kuning Keemasan

– Ninda: #2

Hidupku biasa sunyi, dalam arti sesungguhnya, bahwa tidak ada suara-suara yang bisa didengar. Terbiasa sunyi, memberikanku kesempatan merenungkan kehidupan.

Kesunyian memperkenalkanku pada konsep detachment. Detachment bukanlah alasan untuk membenarkan sikap apatis. Justru aku sangat bersemangat menjalani hidup, sebagaimana para kaisar membangun kejayaannya untuk dikenang hingga ribuan tahun kemudian.

Detachment adalah tingkatan ketika seseorang sadar, bahwa tidak ada yang benar-benar dimiliki di dunia ini. Aku merasa lebih bebas dari rasa sakit ketika tujuan yang ingin kucapai ternyata gagal. Kelak dalam ilmu manajemen, konsep detachment disebut sebagai ‘helicopter view’.

You can walk on this planet and yet don’t belong to it ~Vijay Eswaran

Hingga Ninda datang, menimbulkan rasa hangat di hati. Sebesar apapun usahaku untuk tidak tergantung secara emosi dengannya, aku selalu gagal. Konsep detachmentku gagal.

“Kamu akan pergi?” Tanyaku. Ninda mengangguk. “Kalau ternyata dia sudah tidak di sana lagi?”

“Risiko apapun kuterima, asal bisa bersama Mas Raka.” Jawab gadis itu, menggunakan bahasa isyarat.

“Tinggallah di sini, bangun kehidupanmu. Biarlah kakakmu menjalani kehidupannya juga. Kalian berdua bukan lagi anak kecil yang harus saling menjaga dalam artian harus selalu berdekatan.”

“Uda Andri, aku tetap harus mencari. Begitulah pesan ayah sebelum ditahan, kami harus saling menjaga.” Ucapnya teguh pada pendirian.

Hatiku sedih, emosi yang jarang kurasakan. Terkutuklah Prefrontal cortex dan limbic system. Pengatur emosi dan cinta, ternyata berada di otak manusia, bukan di hati, liver, ataupun jantung. Bukan perasaaanku yang bebal tidak mau bekerja sama, tapi ternyata logika yang selama ini kuagung-agungkanlah yang bersekongkol membuatku jatuh cinta.

“Kemana kamu akan pergi, Ninda?”

Dia tidak menjawab, hanya tangannya mengulurkan selembar kertas padaku. Foto sebuah pulau, didominasi warna hijau pepohonan, dikelilingi birunya langit dan birunya air laut. Indah. Kubalik foto tersebut, tertera tulisan: “Pulau Lengkuas – Belitung.”

“Kamu pergi sendiri?”

Dia mengangguk.

“Apa yang sebenarnya kamu cari, Ninda? Benarkah hanya demi menjalankan pesan Ayah kalian, bahwa harus saling menjaga? Raka tidak hilang, tidak perlu dicari. Mungkin dia hanya butuh waktu untuk sendiri. Dia selalu mengirimimu foto-foto sebagai bukti keberadaannya.” Bicaraku panjang lebar, berusaha keras agar Ninda membatalkan rencananya untuk pergi.

“Maaf uda, aku harus pergi. Besok aku akan cari tiket pesawat. Terimakasih uda sudah menerimaku di sini dengan baik.”

– – – –

Pagi kuning keemasan. Itulah kesan kuat yang tercatat ketika melihat foto Pulau Lengkuas. Aku membayangkan punya keberanian menemani Ninda pergi. Bersamanya menikmati lembutnya pasir, lalu berlarian menaiki tangga mercusuar, memandangi indahnya pulau. Sunyi, namun indah.

Ninda datang empat bulan lalu, berbekal sepucuk foto Jam Gadang, dengan nama Yayasanku dibagian belakang foto. Kakaknya mengirim foto tersebut, sebagai penanda kepada adiknya bahwa dirinya masih hidup dan sehat. Namun terlambat, Raka dan temannya meninggalkan Bukittinggi sehari sebelum Ninda datang. Ninda terpukul dan kecewa. Dia berkeras tidak akan kembali ke rumah sebelum bertemu Kakaknya. Kutawari Ninda tinggal di Yayasan, kebetulan Raka berjanji akan berkorespondensi denganku sebagai bentuk terimakasih karena Yayasan telah menampungnya beberapa minggu. Ninda setuju, sebagai gantinya, dia menawarkan diri mengajar di Yayasan, diselingi kegiatan mencari tahu dimana kakaknya. Aku setuju.

Sejak itu Ninda menjadi penghuni tetap Yayasan Melati, rumah singgah bagi penyandang tuna tungu. Kutinggalkan banyak pesan di nomor ponsel Raka (yang tidak boleh diketahui nomernya oleh Ninda) menyampaikan bahwa Ninda adiknya ada di Yayasan. Berbulan-bulan tidak ada respon dari Raka. Hingga datanglah amplop yang ditujukan untuk Ninda, ternyata berisi foto Pulau Lengkuas. Foto yang akan membawa Ninda pergi dariku.

Ninda memberi keceriaan pada yayasan ini. Apalagi setelah usahanya membuat kami diperkenankan mengikuti Tour de Singkarak, seluruh penghuni yayasan semakin hormat dan sayang kepadanya.

Aku berusaha sekuat tenaga mengingat ilmu detachment, merelakan dia pergi, namun sia-sia. Ingin rasanya aku nyatakan cinta, namun aku sadar hanya akan menimbulkan jarak antara kami. Seharusnya aku memang tidak jatuh cinta. Ralat, seharusnya seorang tuna rungu sepertiku tidak jatuh cinta kepada gadis seperti Ninda. Aku sudah tahu hasil akhirnya bukan piramida atau tembok raksasa cina seperti peninggalan para kaisar besar, hanya patah hati.

Pak pos datang. Kulirik jam menunjukkan pukul 8 pagi. Pesawat Ninda pukul 12. Dia sedang bersiap, sebentar lagi akan menuju bandara. Sebuah amplop diserahkan Pak Pos kepadaku. Raka, ditujukan untuk Ninda. Jantungku berdetak cepat, kuberlari mencari Ninda di dalam. Siapa tahu isi surat ini bisa membatalkan kepergiannya. Siapa tahu ternyata kakak yang dicarinya sedang dalam perjalanan kembali ke Bukittinggi. Siapa tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s