Standard

Menunggu Lampu Hijau

– Ninda: #1


Bukittinggi, 9 Juni 2011.

Menjelang pukul 9 pagi, kerumunan manusia mulai menyemut di sekitar Jam Gadang. Hari ini istimewa, Tour de Singkarak II- etape IV, akan memulai startnya di tempat ini. Lomba balap sepeda internasional yang sedianya diikuti 125 peserta dari 17 negara, telah berhasil mengumpulkan sebagian besar warga Bukittinggi. Dinaungi Jam Gadang yang terlihat tampan, warga berduyun-duyun hendak memberi semangat pada Tim Indonesia, sekaligus menjadi bagian keriaan sebuah perhelatan yang tahun lalu dianggap sukses mendatangkan wisatawan asing ke Sumatera Barat.

Macet diberbagai ruas jalan. Polisi lalulintas menutup jalan menuju Jam Gadang sejak pukul 7 pagi. Warga berjalan kaki dari kantong – kantong parkir menuju garis start. Dibanding gelaran balap sepeda, kegiatan hari ini lebih terlihat seperti pawai manusia. Umbul-umbul, pita, balon, badut, bermacam penjual makanan, menghadirkan warna-warni keceriaan tempat ini. Menakjubkan.

Kulihat turis-turis asing berdatangan dengan kamera berlensa panjang. Mengambil foto disana-sini. Foto keindahan alam Bukittinggi, juga foto dinamika manusianya. Hatiku buncah, Indonesia itu indah. Bahkan warga asing mengaguminya, hanya saja aku yang sejak kecil terlahir di sini terkadang lupa mengapresiasi keindahan di dekatku. Mungkin begitulah sifat manusia, semut di ujung lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.

Lautan manusia berbaris rapih di sepanjang garis pembatas. Arena start dipersiapkan sepanjang 100 meter. Para pembalap mulai mengambil posisi, bersiap di atas sepedanya masing-masing. Aku dan sembilan rekanku turut bersiap di atas sepeda kami.

Kulihat kamu berdiri pada salah satu sisi pembatas lintasan. Pipimu merona kepanasan, segar. Kamu tersenyum padaku dan sembilan orang temanku, dengan ceria kamu melambaikan tangan pada kami. Teman-temanku membalas lambaian tanganmu. Hatiku hangat melihat kehadiranmu memberi semangat untuk kami.

“Uda, serius mau ikut?” Ujarmu, tiga bulan lalu ketika kusampaikan niatku untuk mengikuti Tour de Singkarak ini.

Aku menatap wajahmu, memandangi setiap kata dari bibirmu. Aku mengangguk menjawab pertanyaanmu. Ekspresimu menunjukkan tidak setuju dan khawatir. Tapi pastilah bukan Ninda namamu, jika ada kalimat negatif yang keluar dari mulutmu. Kamu wanita dengan aura paling positif yang pernah kukenal. Tidak pernah kamu meragukan kemampuan orang lain. Hatimu penuh kasih, pada kesempatan apapun yang dimiliki pasti akan kamu gunakan untuk membantu orang lain.

Tapi kala itu aku cemas, karena setelah mendengar ide gilaku, kamu hanya diam lalu pamit pergi. Setelah itu dua minggu kamu tidak hadir di Yayasan Melati, tempatmu biasa mengajar bagi anak-anak tunarungu. Aku tunarungu dari keluarga miskin. Dahulu aku merasakan sulitnya mendapat pendidikan layak bagi penyandang tuna rungu, padahal aku merasa semangat belajar dan keingintahuanku sangat tinggi. Sekolah untuk penyandang kebutuhan spesial sepertiku biayanya cukup mahal, orangtuaku tidak mampu. Aku putus sekolah formal di kelas 3 SD. Aku belajar dari buku-buku di perpustakaan daerah. Untungnya aku selalu lulus ujian persamaan, hingga setara SMA. Aku tidak ingin kejadian sulit seperti diriku menimpa rekan-rekan sepertiku. Maka dibantu beberapa donatur, kubangun Yayasan Melati, pusat pendidikan gratis bagi penderita tunarungu. Ninda salah satu sukarelawan pengajar, dia normal tidak tunarungu sepertiku.

Dua minggu kamu tidak datang, kusangka kamu marah atau menganggapku tidak tahu diri, tak sadar akan kekurangan diri. Sudah kuikhlaskan mengubur impianku ambil bagian dalam Tour de Singkarak. Ternyata aku salah, awal minggu ketiga kamu datang. Kamu minta maaf karena mendadak mengurus banyak hal di kota Padang. Aku mengutuki prasangka burukku kepadamu. Terlebih lagi ketika kamu membawa surat izin dari Dinas Pariwisata Daerah bahwa aku dan sembilan orang teman, bisa ambil bagian dalam Tour de Singkarak ini. Aku ingin melonjak dan memelukmu. Kutahan diri, ingat bahwa aku hanya rekan kerja. Aku tersenyum padamu, mengucap terima kasih dalam bahasa isyarat.

Aku tersadar dari lamunan,  kerumunan di sekelilingku bertepuk tangan sembari menatap kami dengan ekspresi bersahabat. Kutangkap gerak mulut Ninda di kejauhan, “MC sedang memperkenalkan Tim-mu.” Kata Ninda. Hatiku jadi bangga.

Pukul 9 tiba. Aku menunggu bendera start dikibarkan dan lampu hijau menyala. Tak lama peserta mulai bergerak maju. Demi keamanan, aku dan teman-teman mengikuti dengan jarak 10 meter dari peserta paling belakang. Kami membawa poster yang dipakai menutupi punggung kami.

Bertuliskan: “Mari kurangi polusi karena asap kendaraan. Mari hidup lebih sehat dengan bersepeda.” ~Para tunarungu pencinta sepeda

Aku dan teman-temanku tidak sempurna, kami tunarungu, memiliki kebutuhan khusus. Kampanye yang diusung juga terlihat dangkal dan normatif, tentang hidup sehat. Namun jauh dibalik itu, kami ingin menunjukkan semangat bahwa siapapun bisa berkontribusi bagi kehidupan. Jika kami saja yang cacat bisa, apalagi teman-teman yang tidak cacat. Iya kan?

Hilman.web.id

Advertisements

4 thoughts on “Menunggu Lampu Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s