Standard

Mereka yang berbeda

Seminggu terakhir, si Mbah (asisten rumah tangga) terlihat murung. Biasanya beliau mengerjakan tugas domestik dengan riang, sesekali bercerita hal-hal lucu. Belakangan dia bekerja sambil diam saja.

Setelah saya ajak ngobrol ngalor-ngidul, barulah dia cerita bahwa anaknya sedang sakit. Anaknya perempuan, berumur 25an, sudah menikah dan memberi si Mbah seorang cucu.

Beberapa waktu lalu, Santi (nama anak si Mbah) sempat diopname karena terkena hepatitis B. Saya sudah siap sedia membekalinya lagi berbungkus-bungkus temulawak (minuman kesukaan saya, yang juga didaulat memiliki khasiat untuk memperbaiki fungsi kerja hati). Namun si Mbah mengatakan bahwa sakit anaknya kali ini berbeda dengan yang tempo hari.

Sambil menahan tangis, si Mbah berkata bahwa beberapa hari yang lalu anaknya sepulang kerja tiba-tiba pingsan. Mbah mengira karena terlalu capek, juga masih dalam proses pemulihan hepatitis, maka dibawalah anaknya ke dokter. Anaknya siuman di ruang dokter, lalu diperbolehkan pulang diberi resep beberapa obat.

Tiba di rumah, anaknya ternyata bertingkah aneh. Bicara aneh, tidak seperti Santi yang biasanya. Teriak-teriak dan ingin melepas semua bajunya hingga (maaf) telanjang. Jika diajak bicara, Santi akan berkata bahwa dia tidak kenal dengan yang mengajaknya bicara, padahal yang bicara dengannya adalah orangtua, suami dan anaknya.

Sembari menangis, si Mbah berkata bahwa dia tidak mengerti mengapa anaknya bisa seperti itu, “Padahal dalam garis keturunan saya dan suami tidak ada riwayat gila, mbak.” Demikan ratapnya kala itu. Si Mbah menganggap anaknya mengalami gangguan pikiran, atau biasa dikatakan ‘gila’.

“Tetangga ada yang saranin agar Santi diRuqyah, besok mau dipanggilin kyai dari Jawa timur.” Lanjut si Mbah. Saya mangguk-mangguk, rasanya dulu pernah mengenal istilah Ruqyah, semacam mengusir gangguan setan jahat. Karena tidak paham urusan Ruqyah dan mahluk hidup jenis lain, saya tidak berani berkomentar. Saya hanya berusaha menenangkan, berkata semoga anaknya memang hanya kecapean.

Karena penasaran, saya coba-coba browsing mengenai gangguan kejiwaan dan cara pengobatannya. Siapa tahu saya bisa membantu si Mbah. Pikiran saya masih bertumpu pada penjelasan medis dan logis. (Saking khusu’nya browsing penyakit kejiwaan, jadilah dua cerpen bernuansa gangguan kejiwaan. Ppffttt).

Beberapa hari kemudian, Mbah datang dengan wajah agak cerah. Katanya kyai dari Jawa Timur sudah datang dan meruqyah anaknya. Santi berteriak-teriak kepanasan selama proses Ruqyah. Pak Kyai juga menyebutkan penyebab sakitnya Santi. Kata Kyai, konon ada lelaki bernama Ahmad, supir bis jurusan Ambarawa yang biasa ditumpangi Santi untuk berangkat kerja. Ahmad merasa sakit hati, ditolak cintanya (karena Santi sudah berkeluarga kali ya), maka Ahmad yang ‘memiliki ilmu hitam’ mengirim guna-guna pada Santi, menyebabkan Santi berlaku aneh. Pengobatan Santi harus dilakukan dalam beberapa tahap, karena guna-guna yang dikirim terhitung berat. Keluarga si Mbah melakukan investigasi demi mencocokkan omongan kyai. Ternyata benar, ada bis merk bla bla bla jurusan Ambarawa, dengan supir bernama Ahmad, dengan alamat rumah sesuai perkataan kyai. Menurut teman2 seterminal, Ahmad sering gonta-ganti pacar. Mmhmmm..

Saya menghela nafas, antara percaya tak percaya. Tadinya saya mengira lakon seperti ini hanya ada di televisi, dengan akting lebay untuk mendongkrak rating. Ternyata dialami juga oleh orang yang terhitung inner circle saya.

Merasa sulit melakukan browsing untuk hal gaib seperti ini, takut salah menafsirkan hasil riset, akhirnya berceritalah saya kepada suami, demi mendapat pencerahan.

Suami mengutip Alquran (atau hadist ya, lupa hehe) bahwa Allah menciptakan mahluk ‘di bumi’ ini menjadi lima jenis: Manusia, hewan, tumbuhan, malaikat dan jin. Dengan sifat-sifat umum yang sudah kita ketahui.

Sejatinya Jin tidak bisa terlihat oleh manusia. Jikalau mereka terlihat oleh manusia, akan menyedot energi mereka cukup besar, sehingga tidak bisa sering dilakukan (hal ini rasanya pernah saya baca dalam buku Dajjal).

Manusia yang sudah meninggal, tidak bisa gentayangan, jikalau kita melihat sosok yang sudah meninggal gentayangan, sesungguhnya itu adalah Jin yang sedang menyerupai manusia. Kesimpulannya: pocong, suster ngesot, kuntilanak, dsb, bukanlah manusia yang arwahnya penasaran sehingga hidup lagi, melainkan Jin.

Jin juga sering membantu manusia, jin baik membantu dalam hal baik, jin jahat akan membantu kejahatan. Interaksi ini bisa dilakukan oleh manusia yang sudah mengasah mata batinnya, sehingga bisa melihat Jin. Misalnya bentuk sulap-sulap tertentu, biasanya dibantu Jin. Lalu juga ada ilmu hitam (seperti pelet, santet) yang ternyata adalah kolaborasi manusia dan jin jahat. Ada jin yang memiliki kemampuan menyusup ke dalam aliran darah manusia, sehingga kadang kita mendengar bisikan2 dari dalam diri (dalam ilmu medis, kelak dikenal sebagai delusi).

Saya sudah sering mendengar kisah tentang jin dan mahluk halus, namun dari sisi mitos atau budaya, seringnya tidak berlandas logika. (Keingintahuan saya tentang mahluk halus,sempat tertuang dalam seri cerpen Galuh dan Arnawama. Tapi kemudian mandek karena kekurangan bahan riset mahluk halus dan ranah mitos Jawa kuno). Baru kali ini saya dapat mencernanya dari sisi yang lebih logis, yaitu ranah agama.

Suami menambahkan bahkan Alquran dan hadist memberi solusi atas sakit yang disebabkan oleh Jin jahat (disebut penyakit a’in atau penyakit penglihatan), yaitu Ruqyah.

Eiya tapi Ruqyah tidak bisa sembarangan dilakukan. Suami bilang dalam hadist disebutkan, salah satu syarat untuk bisa masuk surga tanpa dihisab, adalah tidak pernah minta diRuqyah. Kalau memang butuh diRuqyah, maka itu adalah permintaan orang lain, misalnya keluarga. Seperti dalam kasus Santi, bukan Santi yang minta dirinya diRuqyah melainkan orangtuanya yang meminta (yaiyalah, lah wong Santinya ga sadar).

Singkatnya, kemarin si Mbah cerita kalau Kyai Jawa timur sudah pulang ke Jatim. ketika ditinggal pulang oleh Kyai, Santi sudah membaik keadaannya tidak melulu minta telanjang, tapi masih belum mengenali orang, katanya ‘saya ga bisa lihat’. Lalu keesokan hari, tetangganya kedatangan tamu dari Banten. Tamu tersebut ternyata juga seorang kyai. Maka Santi sekalian diperiksa oleh Pak kyai Banten, temuannya sama: kiriman dari Ahmad. Setelah prosesi pembacaan ayat Alquran dan lain-lain, Santi tertidur, mungkin karena letih sepanjang prosesi dia berteriak ‘panas..panas..’ serta menangis. Lalu esok paginya Santi dengan mencengangkan sudah sehat, bisa belanja di pasar seakan tidak terjadi apa-apa dihari sebelumnya. Kepada orangtuanya, Santi berkata “maaf ya Mak, aku kemarin-kemarin pergi ke pantai tapi ga sempet bawa oleh-oleh, tahu-tahu aku udah sampe rumah.”

Mmmfhhh.. konsep bahwa jiwa kita melayang pergi meninggalkan raga, lalu raganya diisi mahluk lain. Atau konsep sakit pandangan (sakit a’in) yang membuat kita tidak bisa melihat sekeliling, tergantikan semacam halusinasi seperti pergi ke pantai atau tempat jauh lainnya. Mungkin buatan jin jahat.

Akal pikir saya masih sulit menerima penjelasan. Suami akhirnya membuat sederhana, bahwa bukan sekedar mitos, Alquran menekankan ada mahluk lain, mereka yang berbeda dengan manusia, tak kasat mata, hidup berdampingan dengan manusia. Perbanyak membaca Alquran dan dzikir, agar tidak ada ruang kosong dalam jiwa yang membuatnya jadi mudah disusupi jin.

Wallahualam bi sawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s