Standard

#ceritaayah: Ayah dan gedung-gedung.

 

Jika ditanya, ayah seperti apa yang kumiliki, aku akan menjawab bahwa ayahku sosok humoris. Ayah terbiasa menceritakan kisah-kisah lucu kepada aku dan adik, sembari membuat ekspresi wajah konyol untuk membuat aku dan adik tertawa.

Jika ditanya, ayah seperti apa yang kumiliki, aku akan menjawab bahwa ayahku senang bermain. Ayah terbiasa menjadi kuda-kudaan, ditunggangi aku dan adik keliling rumah. Ayah terbiasa wajahnya dilukisi dengan cat air, demi memfasilitasi kreatifitas (baca: keisengan) aku dan adik.

Ayahku seorang arsitek. Sering kulihat ayah berwajah serius merancang gedung di depan papan gambarnya yang besar. Ayah tidak pernah marah, bahkan ketika kupatahkan maket yang sudah dibuatnya susah payah. Ayah hanya tertawa, mengelus kepalaku sambil berkata, “lain kali lebih  hati-hati ya.”

Proyek yang dikerjakan ayah tersebar di berbagai kota. Sebelum aku masuk SD, beberapa kali kami sekeluarga pindah rumah, mengikuti proyek yang sedang dikerjakan ayah. Palembang, Bogor, Bandung, Surabaya. Rumah dinas kami biasanya berdekatan dengan lokasi proyek yang dikerjakan ayah, sehingga ayah sering mengajakku ke tempat kerjanya. Lokasi proyek yang biasanya panas, berdebu dan penuh pasir, menjadi pemandangan lazim masa kecilku.

IPB Kampus Dramaga, salah satu tempat yang sarat kenangan masa kecilku bersama ayah. Ayah turut merancang kampus Dramaga. Dalam ingatanku, proyek itu lebih teduh dibanding proyek pembangunan lain yang pernah dikerjakan ayah. Kanan-kiri jalanan proyek dinaungi pohon Flamboyan. Aku menyebutnya pohon ‘Pelabuhan’ lalu ayah akan tertawa dan mengacak rambutku seraya memperbaiki ucapanku menjadi ‘Flamboyan’. Tak terhitung kali ayah memperbaiki ucapan ‘Flamboyan’, namun aku tetap keras kepala menyebutnya pohon ‘Pelabuhan’, sekedar ingin melihat ayah tertawa dan mengacak rambutku. Jika pohon Flamboyan tertiup angin, bunga-bunga merah oranyenya akan rontok massal, menimbulkan sensasi menyenangkan. Aku akan berteriak keras-keras, “Ayah, hujan merah!”.  Ayah akan menggendongku, agar aku menjadi lebih tinggi dan bisa menangkap bunga Flamboyan yang berterbangan sebelum akhirnya gugur menyentuh tanah.

Pembangungan suatu gedung seringkali dikerjakan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, maka kadang ayah datang ke tempat kerja meskipun hari Minggu. Jika ayah mengajakku ke proyek Dramaga pada hari Minggu, maka selanjutnya ayah akan mengajakku dan adik berjalan-jalan ke Istana Bogor untuk melihat rusa, lalu ke Kebun Raya Bogor untuk melihat bunga bangkai yang kala itu sedang mekar.

Pernah juga ayah merancang Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ). Gedung yang digagas sebagai salah satu gedung tertinggi Jakarta, pada masanya. Sembilan atau sepuluh tahun umurku saat itu. Aku suka jika ayah membangun high rise building karena aku bisa naik gondola berkali-kali. Ayahpun dengan bangga hati sering berkata bahwa aku satu-satunya anak kecil di Jakarta yang pernah naik gondola hingga ke lantai 32, lantai teratas Gedung BEJ.

Gondola adalah lift temporer, yang diletakkan diluar rangka gedung sebagai sarana naik turun pekerja bangunan. Sering juga digunakan oleh petugas pembersih kaca gedung. Yang tersisa dari ingatanku adalah angin bertiup sangat kencang ketika gondola sedang berada di tingkat gedung yang cukup tinggi. Biasanya aku berpegang erat pada ayah, sembari mendengarkan penjelasannya tentang cara kerja crane, excavator, dump truck, dan alat berat lainnya yang kami lihat dari atas gondola.

Setelah BEJ, proyek ayah selanjutnya selalu di luar Jakarta. Demi pertimbangan sekolah dan tumbuh kembang anak-anaknya, ayah memutuskan agar Emak, aku dan adik menetap di Jakarta, tidak lagi mengikuti ayah.

Ditinggal ayah, nilai-nilai sekolahku turun drastis. Aku terbiasa mendapat peringkat 1 di kelas. Namun semenjak ayah tugas di luar kota, nilaiku merosot tajam. Terutama nilai matematika. Aku tidak suka rumus dan angka, lebih tertarik pada hal-hal tentang huruf dan verbal. Ayah mengetahui kelemahanku, Ia selalu dengan sabar mengajariku matematika. Ketika ayah tidak di rumah, emak yang mengajariku. Namun emak tidak memiliki trik-trik matematika canggih yang biasa ayah ajarkan padaku.

Aku patah hati, merasa ditinggalkan orang yang sangat kusayangi. Ayah selama ini menjadi poros kehidupan, juga role model bagiku. Kepindahan ayah ke luar kota menjadi titik nadir hubunganku dengan ayah. Demi menghindari perasaan patah hati, perlahan kubangun pembatas antara aku dan ayah. Ketika ayah sedang berada di rumah, aku tidak lagi bermanja dan minta ini itu pada ayah. Aku berada di antara perasaan rindu namun takut kecewa ketika ayah pergi lagi untuk bekerja. Aku tidak lagi dekat dengan ayah,  hingga aku kuliah, hingga aku bekerja, kubuat jarak dengan ayah. Mungkin ayah mengiranya hanya sebagai sindrom Anak Baru Gede, malu jika terlihat bermanja-manja dengan ayahnya. Sejatinya hanya aku yang tahu, bahwa memang aku yang menghindar.

Lalu fase kehidupanku berlanjut. Aku akan menikah. Tetiba aku tersadar bahwa sebagai anak, aku belum sempat membahagiakan ayah. Aku sibuk dengan kehidupanku, pekerjaanku. Aku rajin mengirimi pacarku sms menanyakan kabarnya, apakah sudah makan, hati-hati di jalan. Namun seingatku, aku tidak pernah mengirimi ayahku sms menanyakan kabarnya, apakah ayah sudah makan, ayah hati-hati di jalan. Bagaimana jika kelak suamiku tidak memperbolehkanku sering-sering bertemu ayah lagi, sementara aku belum sempat membahagiakan ayah. Aku menyesal telah membangun jarak dengan ayah.

Malam sebelum pernikahan, aku menangis di ketiak ayah. Apakah kelak masih ada tempat senyaman dan setulus peluk ayah sebagai tempat berlindung. Apakah suamiku kelak akan memperlakukanku sebaik ayah memperlakukanku. Apakah suamiku kelak akan melindungiku sebagaimana ayah selalu melindungiku. Banyak pertanyaan berkecamuk dalam hati. Ayah sepertinya bisa membaca pikiranku, dia berkata bahwa Insya Allah lelaki yang kupilih sebagai suami, akan memperlakukanku lebih baik ketimbang apa yang selama ini ayah lakukan kepadaku. Aku kembali menangis hingga tertidur dengan kepala bersandar nyaman di ketiak ayah.

Hari pernikahanku tiba, penghulu membimbingku mengucap permohonan restu dan izin orangtua sebelum aku menikah. Terbata-bata aku mengikuti kata-kata penghulu. Mengucap terimakasih kepada orangtuaku, atas segala yang  mereka berikan kepadaku. Memohon maaf  kepada orangtuaku, atas segala kesalahan yang kuperbuat kepada mereka. Memohon agar orangtuaku  berkenan mendoakan kebahagiaan untuk pernikahanku. Air mataku jatuh tidak tertahan, terkenang semua masa yang kulalui bersama kedua orangtuaku. Ayah menikahkanku sambil tergugu, mengucap kalimat ijab kabul sembari menangis. Seperti tidak rela menyerahkan aku kepada orang lain. Penghulu harus mengulang prosesi ijab kabul berkali-kali, hingga akhirnya ayah menguasai diri dan mengucap ijab kabul dengan lancar.

Ayahku, 56 tahun. Tinggi 175cm. Berkulit putih, bermata sipit. Aku tidak menuruni sipit matanya, juga tidak mewarisi gen arsiteknya. Namun aku tahu, aku selalu menyayanginya. Kala melewati gedung-gedung yang pernah dirancangnya, aku sering berkata “Itu ayahku yang membuatnya.”

 

Advertisements

4 thoughts on “#ceritaayah: Ayah dan gedung-gedung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s