Standard

Ulee Lheue*

*Versi pendek, untuk proyek #ruang.

 

 

“Aku pinjami, kelak datanglah lagi jemput aku.”

“Angga, jangaaaaannnnn!!” 

– – – – – – –

Aku terbangun, dengan jantung yang berdetak dalam tempo berantakan. Mimpi yang sama, datang setiap malam dalam dua minggu terakhir. Tentang laut, tentang pelabuhan, tentang seorang anak lelaki yang kupanggil Angga, kata-kata yang sama, dan selalu diakhiri dengan suara teriakan yang akhirnya membangunkanku.

“Tidak semua hal bisa terungkap dalam terapi. Terkadang mekanisme pertahanan tubuh memendam suatu peristiwa lebih dalam. Membuat lupa kalau hal itu pernah terjadi. Dalam istilah medis disebut amnesia selektif. Terjadi pada orang-orang yang mengalami trauma cukup berat. Jika kamu tahu lokasi mimpi itu, kusarankan kamu datang kesana. Mungkin jawaban yang ada di sana bisa mengembalikan ingatan yang hilang dan menghentikan mimpimu.” Clara sahabatku, mahasiswi psikologi memberi saran ketika kuceritakan mimpiku.

Kuturuti saran Clara, hari ini aku tiba di Aceh. Keluar bandara, aku langsung menuju Pelabuhan Ulee Lheue, tempat yang kukira menjadi lokasi kejadian mimpi.

Pelabuhan nampak lengang. Aku bersandar pada salah satu tiang kanopi. Menatap kapal-kapal yang sandar di dermaga. Aduhai, dahulu Ayah sering mengajak aku dan Abang bermain ke sini.

“Ah. Neuk jak Sabang, Dek? Nostalgia?” Tanya seorang Bapak, dalam bahasa Aceh. sepertinya dia seorang porter. Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum, sebagai jawaban atas pertanyaannya. Bapak itu berlalu.

Apakah aku hendak ke Sabang, demikian pertanyaan Bapak tadi. Pertanyaan lazim, mengingat kebanyakan orang yang datang ke pelabuhan ini bertujuan ke Pulau Sabang. Pelabuhan Ulee lheue memiliki akses penyebrangan ke Pulau Sabang, pulau dengan bentang laut yang indah, juga dikenal sebagai titik awal perhitungan luas Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Jika urusan mimpiku selesai, akan aku jadwalkan untuk ke Sabang, janjiku dalam hati. Ah nostalgia, tentu bukan nostalgia jika yang tersisa di sini hanya kenangan sedih.

Setelah delapan tahun kutinggalkan, akhirnya aku melihat lagi Bumi Serambi Mekah. Bencana tsunami delapan tahun lalu telah mengambil masa kecilku. Kala itu umurku dua belas tahun. Aku menangis mencari Ayah, Emak dan Abang. Mereka tidak ada. Perlahan orang-orang memberitahu, bahwa orangtua dan kakakku telah tiada. Usia dua belas tahun, alam memperkenalkanku pada konsep yatim piatu. Tidak hanya yatim piatu, ternyata seluruh sanak saudaraku juga tiada. Keluarga besarku dari sisi ayah dan emak, berkelompok tinggal di sekitar Meulaboh dan Ulee lheue. Semua dinyatakan meninggal, tersapu tsunami.

Lalu datanglah keluarga jauh Ayah yang kemudian kupanggil Om dan Tante, membawaku ke Jakarta. Setelah bencana itu, aku menjadi bisu. Tidak menangis, tidak tertawa, tidak berkata, hanya diam dengan pandangan kosong. Om dan Tante tidak memiliki anak, aku dicintai selayaknya anak kandung mereka. Aku disertakan dalam terapi pemulihan trauma, melalui pendekatan medis maupun religi. Penyakit bisuku hilang setelah dua tahun menjalani terapi. Aku tidak tahu bagaimana mekanisme penyembuhan itu. Yang kuingat pada salah satu sholat malam, aku sujud menangis mendoakan Ayah, Emak dan Abang, lalu sesuatu berbisik, “Ikhlaskan, lanjutkanlah hidupmu.” Dan aku mulai bicara lagi, lalu dinyatakan sembuh.

Kemudian mimpi tentang anak lelaki itu muncul, menarikku kembali pada malam-malam mimpi buruk ketika aku melihat air yang tinggi datang menyapu semua. Apa lagi yang diinginkan masa lalu terhadapku? Masih adakah ruang dalam labirin kenanganku yang belum tersentuh kata ikhlas? Aku tidak ingin dihantui mimpi buruk, cukup dua tahun aku menjalani terapi. Tidak mau lagi ada terapi, aku sudah sembuh.

“Pelabuhan ini masih cantik seperti dulu, kan?” Sebuah suara menyela lamunanku. Seseorang lelaki, mungkin seumurku, bersandar di tiang kanopi lain, di sebelahku.

Aku berusaha mengingat identitas lelaki ini. Kepalaku berdenyut-denyut, tidak mampu memilah informasi.

“Jangan dipaksa mengingat, nanti kepalamu sakit.” Dia tersenyum, intonasinya lembut, pilihan katanya santun. Cahaya matahari menimpa sebagian wajahnya. Lelaki ini tampan dan nampak baik hati, bisikku dalam hati. Semua perkataannya seperti terlontar untuk menjawab pertanyaan yang mengapung di kepalaku

“Kamu siapa?” Tanyaku singkat, kurang sopan juga.

“Aku Angga.” Jawabnya dengan senyum.

Aku tersentak mendengar nama yang disebutnya. Bersiap memberondong dengan berbagai pertanyaan.

“Sabar Meutia, simpan pertanyaanmu. Mari berjalan-jalan di dermaga.” Lagi-lagi lelaki itu bisa membaca pikiranku.

Aku berjalan mengikuti langkah Angga, menuju salah satu dermaga yang tidak disandari kapal. Mata kami leluasa menikmati Samudera Hindia.

“Pasca tsunami, hidupku dikelilingi keajaiban dan mukzizat. Aku tidak kaget tiba-tiba ada yang mengenalku dan mengaku bernama sama dengan orang yang di mimpiku.” Aku berkata lugas pada lelaki asing di hadapanku. Anggaplah aku gila, berani bercerita macam-macam pada orang tak dikenal. Dorongan agar mimpi itu tidak menghantuiku lagi, telah mengalahkan logika.

“Aku bukan orang asing, Meutia. Benar aku yang ada di mimpimu. Kamu pernah mendengar konsep gelombang? Jika berada pada gelombang yang sama, kita bisa berkomunikasi jarak jauh dengan orang yang diinginkan. Mereka menyebutnya telepati. Aku ingin bertemu kamu, maka kukirim gelombang mimpi itu.” Angga bercerita tenang. Ingin rasanya aku meninju lelaki yang mengaku mengirim telepati ini, menyiksaku berminggu-minggu dengan mimpi buruk kirimannya.

“Kenapa ingin bertemu? Menakutiku dengan mimpi buruk yang kamu kirim.”

“Meutia, lupamu begitu parah.” Angga menatapku. Jeda hening tercipta cukup lama, sepertinya dia sedang menimbang penjelasan yang akan diberikan kepadaku. “Waktu itu kita sedang bermain di sini. Aku, Ayahmu, Abangmu Bintang, Kamu.”

Aku mendengar penjelasannya sembari mencoba mengurai kenangan. Perlahan aku ingat. Ya, waktu itu tidak hanya aku, Ayah dan Abang. Ada Angga juga disana.

“Kita bermain bola di dermaga ini. Persis di sini.” Angga melanjutkan cerita. Aku mengangguk berusaha mengingat. “Tiba-tiba air surut ke tengah laut. Ayahmu tahu itu pertanda tsunami. Orang-orang mulai panik. Beliau menyuruh kita naik ke salah satu kapal, sambil berusaha menelpon Ibumu di rumah agar ke lantai atas karena akan ada banjir. Tidak ada yang menyangka gelombang tsunami akan setinggi itu. Ayahmu mengira hanya akan seperti air bah, bukan gelombang tinggi. Hingga tsunami itu datang. Syukurnya kapal kita mengapung terbawa gelombang tinggi, Aku dan kamu berpegang di tiang kapal, seperti permainan rollercoaster tapi tanpa sabuk pengaman. Hingga akhirnya tiang yang kita jadikan pegangan patah, terlepas dari badan kapal. Gelombang tinggi sudah hilang, namun arus masih deras. Aku dan kamu, berpegangan pada sisa tiang itu, dibawa arus deras kesana kemari, menjauh dari pelabuhan. Meutia, ketika itu berkali-kali kita hampir tenggelam karena tiang yang kita jadikan pelampung tak kuat menahan beban kita berdua. Aku melihatmu sudah tersedak banyak air. Sementara Ayah dan Abangmu, entah dimana.”

Angga berhenti bercerita dan memandangku. Kepalaku pusing karena berusaha menyatukan cerita Angga dengan ingatanku. Aku dan Angga, dulu kami berteman akrab. Aku juga ingat bahwa aku pernah terapung berpegangan tiang, terbawa arus tsunami. Tapi aku tidak ingat kalau Angga mengapung bersamaku.

“Lalu aku putuskan membiarkanmu menggunakan pelampung itu sendiri.”

Bayangan kejadian berkelebat di kepalaku.

“Aku pinjami kamu, kelak datanglah jemput aku..” Angga melepaskan tiang pelampung, membiarkan aku mengapung sendiri. Sementara dia timbul tenggelam terbawa arus menjauh dariku.

“Anggaaa, jangan dilepas. Anggaaa!!” Aku berteriak megap-megap karena menelan air. Seketika kurasa sunyi ditengah hiruk pikuk.  Aku menangis, teringat Ayah, Emak, dan Abang. Bahkan Angga juga meninggalkanku. Tuhan jahat.

Kelak aku ditemukan pingsan tersangkut di salah satu pohon. Dan Angga? Trauma telah menghapus ingatanku tentang Angga.

“Angga, kenapa ketika itu kamu berkata: Aku pinjami?” Aku teringat kata yang berulang kudengar dalam mimpi.

“Karena aku meminjami kamu nyawa, Meutia. Bisa saja saat itu  aku tetap bertahan memegang tiang pelampung. Lalu aku dan kamu, kita akan mati bersama, tenggelam perlahan. Kita tidak pernah tahu sejauh mana arus akan mengalir, berapa lama harus bertahan berpegangan pada pelampung yang setengah tenggelam. Sudah terlalu banyak air yang kamu telan. Aku putuskan lepas dari tiang itu, berharap keputusanku bisa memperpanjang nyawamu. Keputusanku tidak salah, kamu masih hidup.”

Air mataku mengalir, pertanda tidak mampu lagi menahan gejolak emosi dalam diri. Semenit, dua menit, lima menit, cukup lama aku menutup wajah sembari menangis, hingga akhirnya merasa kuat untuk bicara.

“Lalu, setelah itu kamu kemana, Angga?” Aku bertanya sembari mengangkat wajah yang basah oleh airmata.

Sunyi. Angga tidak lagi terlihat di sebelahku. Dermaga kosong. Aku menengok ke kanan dan kiri tidak ada orang mirip Angga.

“Angga! Anggaaaaa!! …” Aku panik, berlarian sepanjang dermaga, lalu kucari di sekeliling pelabuhan. Angga tidak ada. “Anggaaaaaaa!” Orang-orang di pelabuhan memandangiku yang berlari dan teriak-teriak seperti orang gila.

“Aku pinjami kamu nyawa, Meutia. Tapi kamu melupakan aku. Kamu tidak pernah kembali menjengukku, melihat makamku. Kembalilah Meutia, temani aku.”

Suara Angga bergaung di kepala. Mungkin delusiku kambuh lagi, atau itu gelombang telepati yang dikirimnya lagi. Aku berlari kencang. Berusaha mengusir suara-suara. “Angga, maafkan aku pernah melupakanmu. Tolong ikhlaskan aku, biarkan aku melanjutkan hidup.” Isakku sembari berlari. Namun suara Angga tetap bergaung. Aku terus berlari, hingga ke ujung dermaga. Diakhir dermaga, kulontarkan diri ke lautan. Frustasi.

Aku pingsan tertampar permukaan laut, lalu tenggelam. Dalam tak sadarku, terlihat Angga tersenyum. Orang-orang berusaha menyelamatkanku. Ketika tubuhku berhasil diangkat ke darat, aku sudah tiada. Meninggal di tempat yang sama dengan Ayah dan Abang, di Pelabuhan Ulee lheue. – – – – –

“20-30% korban bencana alam, tidak berhasil keluar dari depresi mereka. Beberapa memilih bunuh diri.”  (Souza R, Bernatsky S, Reyes R, de Jong K (2007). Mental health status of vulnerable tsunami-affected communities: a survey in Aceh Province, Indonesia. J Trauma Stress.)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s