Standard

email

Adzan Subuh berkumandang. Tak lama kemudian alarm ponselku berbunyi. Biasanya disusul dengan kehadiran alarm tubuh. Tiga serangkai itu: adzan, alarm hp, kebelet pipis. Tidak pernah gagal membangunkanku.

Dahulu, ibunda mengajarkanku untuk berdoa, tepat sesudah aku bangun dan membuka mata. Doa terimakasih karena telah diberi kesempatan beristirahat, doa syukur karena diberi kesempatan menikmati hari baru, doa pengharapan agar yang dilakukan hari ini berkah dan sukses. Dahulu, selalu kulakukan ritual itu dengan patuh.

Seiring berjalannya waktu, tidak lagi ibunda membangunkanku. Tidak lagi beliau menungguku selesai mengucapkan doa bangun tidur. Seiring berjalannya waktu, ritual itu hilang. Tergantikan ritual baru, mengecek notifikasi di ponsel.

Terkutuklah kehadiran ponsel pintar. Dengan kehebatannya membuat kita terhubung dengan orang-orang disekeliling, bahkan nyaris 24jam. Bangun tidur lalu mengecek apa saja yang terjadi kala kita tertidur, email dan percakapan dari teman-teman insomnia, email dari jurnal-jurnal asing yang karena perbedaan zona waktu maka selalu kuterima dini hari, pengingat otomatis bahwa si A, B, C, D ulang tahun hari ini, dan lain-lain. Mengecek notifikasi ponsel di pagi hari cukup menyenangkan. Yang hadir adalah pesan-pesan personal, non korporat. Tidak ada email-email dengan lampiran bengkak, bertulisan pesan ‘Penting’ minta segera ditindaklanjuti (yang akhirnya membuat pening karena semua email kantor, bertulis ‘penting’. Lalu mana yang ‘genting’?). Dan demikianlah, bagaimana sebuah ritual religi, tergeser perkembangan teknologi. Tidak lagi bangun tidur kutadahkan kedua tangan memohon padamu, namun bangun tidur kugenggam ponselku.

Kusentuh cepat layar ponselku, mengabaikan beberapa notifikasi. Lalu mataku tertumbuk pada sebuah email masuk di salah satu akun. Kuusap mata, mencoba memastikan tidak salah lihat. Sudah lama tidak ada aktifitas di akun ini, ya karena akun ini kamu buat untukku, katamu akun khusus pacaran. Halah.

Kubaca email tanpa judul itu, namamu sebagai pengirimnya. Hatiku berdebar, terlalu banyak campuran pengharapan dan rindu. Ketika terbuka, ternyata isinya hanya link. Mirip link spam yang banyak beredar belakangan ini. Aku kecewa. Nampak bukan dari kamu. Kutekan pilihan hapus. Selesai.

Demi menghindari peperangan hati, kusegera melakukan ritual ajaran ibunda. Berdoa lalu mandi dan sholat Subuh. Semoga doa mampu melegakan rindu bercampur kecewa. Email itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Tidak.

– – – – –

Siang yang aneh, karena rasanya begitu lenggang. Aku bisa makan siang dengan tenang di ruanganku tanpa diselingi menerima telpon atau tamu (tidak) penting. Tidak banyak surat yang harus dibaca dan ditandatangani. Tidak banyak transaksi yang membutuhkan pasword otorisasi.

Kusandarkan kepala. Menikmati aura santai yang jarang terjadi di jam kantor seperti ini. Kulihat televisi, CNN menayangkan market outlook. Bosan. Kuganti-ganti channel televisi. Pencarianku berakhir pada acara Kimchi Chronicles. Semacam reality show yang menayangkan orang-orang atau restoran-restoran yang membuat kimchi, masakan khas korea.

Siang yang aneh, terlalu lenggang sehingga memberi waktu bagi alam pikirku menghadirkan kenangan tentangmu. Siang yang aneh, bahkan acara televisi mengingatkanku padamu.

Tentang kimchi dan sushi, makanan kesukaanmu. Tentang seringnya kita menghabiskan akhir pekan mencoba berbagai restoran sushi dan kimchi. Aku lebih suka dimsum, terlebih kaki ayam. Tapi rasanya tidak tega melihatmu harus selalu menelan Lipitor sebelum kita makan dimsum. Jadilah aku mengalah, kimchi dan sushi jadilah. Risiko pacaran dengan seseorang yang berusia belasan tahun diatasku, di saat aku masih bisa makan apa saja, dirinya sudah harus mempertimbangkan kadar kolesterol dan kalori makanan tersebut.

Ingatan yang menyengat membuatku mengambil ponsel, mengetik sebuah pesan singkat.

Hai a, emailnya yang hahahahaha@hoho.com sepertinya mulai kirim-kirim link spam lagi. Minta diganti pasword lagi kali yaa. Thx

Kukirim ke nomormu. Pikiranku dipenuhi pertaruhan akankah smsku berbalas, mengingat hampir 5 bulan kita tidak saling berkirim kabar.

Pesan masuk:
Neng linknya ga dibuka ya. bukan spam, aku yang kirim kok.

Berbalas! Hatiku gempita bahagia. Terlebih lagi bahwa ternyata dia juga yang mengirimi email tersebut. Kubalas smsnya dengan cepat.

waa maaf, kirain spam jadi langsung dihapus. Takutnya virus kalo dibuka. Kapan-kapan kalau sempat tlg kirimi lagi linknya ya. Mksh a.

Senyum diwajahku rasanya bercahaya. Meski aku juga tidak paham, apa yang harus aku senyumi. Mungkin kenyataan bahwa akhirnya kita kembali berkomunikasi setelah berbulan-bulan terputus.

Berbulan-bulan lalu kamu berkata, hubungan kita tidak bisa berlanjut. Aku menangis, tidak menerima kenyataan. Tapi memang hubungan kita tidak disetujui orangtuaku. Klise. Sesudah pertemuan terakhir itu, pesan-pesanku tidak kamu balas, ajakanku untuk bertemu tidak digubris. Tidak ada lagi email-email lucu dan gombal di akun pacaran kita. Kamu menghilang. Petunjukku hanya sebuah tweet dari akun twittermu yang jarang ditulisi:

Terkadang, perpisahan terbaik adalah dengan pergi tanpa kata-kata.

Baiklah, itu caramu untuk berpisah, pergi tanpa kata-kata. Ketika logika kembali menguasai hati, akhirnya kuterima kenyataan kita tidak bisa bersama. Tidak lagi kucoba menghubungimu. Semakin kukejar, kuyakin kamu semakin jauh. Dan bahwa obat terbaik bagi putus cinta adalah menemukan cinta yang lain.

Separuh jatuh cinta, separuh sakit jiwa, kuterima sebuah pinangan. Aku akan menikah. Menutup semua cerita tentangmu yang masih sulit kulupa. Kuusahakan sepenuh tenaga agar kabar ini sampai di telingamu, berharap kamu merasa kehilangan lalu memintaku kembali. Namun tetap tidak ada kabar darimu. Dengan sedikit putus asa, kukirimkan pesan singkat padamu bahwa aku akan menikah. Kamu membalasnya dengan kalimat pendek, “Selamat dan berbahagia ya.”

Pesan singkat darimu menjadi titik balik bagiku. Seketika aku merasa kamu sebenarnya tidak pernah mencintaiku. Menurutku, jika benar kamu mencintaiku, kamu akan berjuang agar aku tidak jadi menikah. Pikiran sempit, yang menyelamatkanku saat itu. Kulanjutkan hidup, mengubur kenangan tentangmu, menikah, mencintai penggantimu. Sempurna.

Sebulan berlalu sejak pernikahanku. Kujalani hidup baru. Bahagia.

Hingga kudapati emailmu pagi ini. Beragam putaran masa lalu berlompatan ke permukaan, meminta perhatian, menyita akal pikir. Kupertanyakan lagi perasaanku padamu, masihkan kucintaimu. Kupertanyakan lagi perasaanku akan orang yang kunikahi, benarkah kucintainya.

Ponselku berbunyi, membuyarkan lamunan dan perang batin. Sebuah pesan singkat masuk.

cuma link video lucu kok neng, nanti dikirim lagi. neng sehat? suami sehat?

Suami.

Kesadaran terasa membentur-bentur, membuat rusuh isi kepala. Ya bodoh. Aku sudah bersuami. Dari sisi manapun tidak ada hal yang membenarkanku jatuh cinta pada pria lain selain suamiku. Kenapa aku tidak bersyukur dengan segala yang kumiliki.

Kamu adalah masa lalu, tidak akan terulang. Mungkin benar, cara terbaik berpisah adalah dengan tidak berkata-kata. Karena setiap kata perpisahan yang terucap, bisa membuat semakin berat meninggalkan. Aku belum bisa menata hati tentangmu. Maka aku pergi saja. Toh mungkin bukan kamu yang kurindu, tapi kenangan bersamamu.

Pesan singkatmu tidak kubalas. Mungkin kamu akan menanti, mungkin juga tidak. Biarkan saja, ketimbang berkembang menjadi percakapan yang akan membuatku menaruh harapan lagi.

Sudahlah. Aku mencintai suamiku.

– – – – –

*nevermind I’ll find someone like you..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s