Standard

adek

Pelabuhan Bakauheni, pukul 6 pagi. Matahari belum bersinar terik. Udara masih sejuk, meskipun lembabnya angin laut tetap menghadirkan keringat.

Ini hari Sabtu, aku libur sekolah. Mataku mengantuk. Semalaman aku sulit tidur. Ibu sakit demam. Aku ingin menjaganya, tapi ibu tidak memperbolehkan. Akhirnya aku tetap tidur dikamarku dengan pikiran mengawang, mengkhawatirkan ibu. Menjelang Subuh, kurasa baru kutertidur. Baru sebentar aku memejamkan mata, adzan Subuh terdengar. Otomatis aku bangun, bersiap ke mushola. Kuketuk kamar ibu, memberitahunya bahwa aku pergi. Tidak ada jawaban, kurasa ibu masih tidur.

Aku berangkat sendiri ke mushola. Ayah pergi enam bulan lalu. Orang kampungku berkata, ayah menikah lagi. Aku tidak paham arti ‘menikah lagi’. Yang kutahu, ayah tidak ada lagi disampingku dan ibu. Apalagi Ibu sedang hamil besar, orang-orang memperkirakan dua bulan lagi ibu akan melahirkan. Kasihan ibu. Dia hamil, namun masih harus bekerja mencuci pakaian tetangga sekitar. Sementara hanya itu yang bisa dilakukan ibu untuk menyambung hidup kami.

Seusai sholat, aku langsung menuju pelabuhan. Rumahku hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari pelabuhan. Jika malam, suara klakson-klakson kapal terdengar hingga rumahku.

Kapal-kapal ferry sudah bergantian sandar dan pergi. Hari Sabtu biasanya penumpang ferry ramai, mereka menyebrang ke Merak, mungkin hendak tamasya di Jakarta. Semakin ramai, semakin baik. Kemungkinanku memperoleh rezeki akan semakin besar. Teman-temanku sudah berdatangan, mereka berpikiran sama denganku, berusaha mengais rezeki sebanyaknya di hari Sabtu.

Segera kuletakkan pakaian dan sarungku ditempat aman. Menceburkan diri di air laut yang pekat bersampah.

Aku tertawa bersama teman-temanku. Sesekali melambaikan tangan ke arah penumpang kapal ferry yang berdiri di dek. Jika beruntung, mereka akan melemparkan uang-uang koin, terkadang juga kertas. Uang itulah yang kami perebutkan. Itulah mata pencaharianku sepulang sekolah, atau ketika sekolah libur. Kami akan berenang dan menyelam, berusaha menjadi yang tercepat sehingga bisa menangkap uang-uang yang dijatuhkan ke laut. Kegiatan ini dilakukan turun-temurun oleh warga sekitar pelabuhan. Kehadiran kami adalah keunikan bagi pelabuhan ini.

Jika beruntung, aku bisa mendapat sepuluh hingga duapuluh ribu sehari. Lumayan untuk kuserahkan pada ibu, sehingga ibu bisa membeli telur atau ikan segar. Kasihan adik bayi di perut ibu, jika ibu hanya makan sayur mayur atau ikan asin.

Hari ini aku bekerja sekuat tenaga, teringat minggu depan adalah hari terakhir pembayaran uang sekolah. Jika tidak dibayar, aku tidak bisa ikut ujian kenaikan ke kelas enam. Kukejar koin, berenang dan menyelam kesana kemari. Baru pukul 9 pagi, kantong uangku sudah menggembung, kutaksir sudah mencapai lima belas ribu, karena tadi kulihat banyak pecahan seribu dan lima ratus rupiah.

Penumpang melempar uang koin lagi, kutengok kanan kiri, teman-temanku jaraknya agak jauh. Rezekiku lagi, pikirku. Aku berenang menyusul koin, sudah tenggelam agak jauh. Aku paksakan menyelam lebih dalam. Kubuka mata lebar-lebar, terasa perih air laut menyengat mataku yang tidak memakai pelindung apapun. Kulihat uang koin itu melayang perlahan menuju salah satu pojok dermaga, tempatnya tidak terlalu dalam. Mungkin hanya lima meter dari permukaan air. Aku bernafas lega tidak perlu menyelam terlalu jauh. Kuputuskan beristirahat sesudah ini, rasanya letih. Mataku perih semakin tidak tertahan, mungkin karena kurang tidur.

Kujangkau uang koin itu. Lalu pandanganku tertumbuk pada bungkusan disebelahnya. Penasaran ingin kuambil, karena plastiknya sangat rapih, ada helai pakaian menyembul keluar. Kupikir mungkin pakaian bekas, siapatahu masih bisa kugunakan. Adalah hal biasa, warga sekitar membuang sampah di pelabuhan ini. Kalau ketahuan penjaga akan dimarahi. Sampah yang dibuang ke dermaga bisa tersangkut ke baling-baling kapal, menyebabkan kapal rusak. Aku pernah melihat seorang bapak yang dihukum push up oleh Syahbandar pelabuhan. Setelah itu si Bapak diminta menyelam, mengambil sampah yang dibuangnya. Ketika dibuka isi bungkusannya macam-macam. Ada botol kosong, sisa sayur mayur, kertas-kertas dan lainnya. Aku tidak habis pikir, kenapa bapak itu harus membuang sampahnya ke laut, kenapa tidak dibakar atau didaur ulang. Aku termasuk yang tidak setuju perairan di sekitar pelabuhan ini dijadikan tempat pembuangan sampah, bagaimanapun ini tempat kerjaku, jika lautnya bersih, kerjaku mencari koin akan lebih mudah.

Aku naik ke darat, menenteng bungkusan yang agak berat. Jika isinya tidak berharga, bisa langsung kubuang ke tong sampah.

Aku menjerit histeris melihat isi bungkusan itu. Orang-orang sontak melihat ke arahku. Bayi!

Sesosok bayi mungil, tidak bernyawa, dimasukkan kedalam kantung plastik, ditambahi satu batu sebesar kepal tanganku agar tidak mengambang. Aku bertanya-tanya apakah bayi tersebut dimasukkan kedalam plastik dalam keadaan masih hidup atau sudah mati. Dilihat dari keadaannya yang belum kembung, orang-orang memperkirakan mayat bayi ini masih baru. Mungkin dibuang subuh tadi ketika pelabuhan masih sepi. Sungguh tega, menyamakan bayi dengan botol kosong dan sisa sayur mayur.

Aku menangis sesegukan. Perasaan kaget masih mendominasi. Aku teringat adik dalam perut ibu, rasanya ingin segera pulang, memastikan ibu baik-baik saja. Setelah ditanyai macam-macam oleh polisi, aku diperbolehkan pulang.

Hari sudah siang ketika aku diperbolehkan pulang. Adzan dzuhur berkumandang ketika aku hampir mencapai rumah. Aku mempercepat langkah, bermaksud mandi sebelum berangkat ke mushola.

Kulihat rumahku ramai. Hatiku getar. Ada apakah. Kulihat bapak polisi ada dirumah. Belum sampai di pintu rumah, kulihat ibu dibawa pak polisi pergi. Kakiku lemas. Aku berteriak memanggil ibu, tetangga memelukku. Ibu berlalu dari pandanganku.

“Ibuuuuuu… Adeeeeeek…” Aku terus berteriak memanggil. Hingga lelah dan katanya aku tertidur.

Butuh waktu lama untukku memahami kejadian hari itu. Orang-orang berkisah bahwa Ibu melahirkan prematur, sendirian. Konon ibu membenci adik, karena ayah pergi bersamaan dengan ibu mengandung adik. Ketika adik lahir, adik tidak menangis, entah sakit, entah bisu. Mungkin itu sebabnya aku tidak sadar jika ibu melahirkan. Melihat bayinya tidak menangis, ibu seperti kerasukan, campuran rasa benci juga putus asa karena tekanan ekonomi. Adik dimasukkan kedalam plastik. Dengan tenaga yang dimiliki, ibu berjalan menuju pelabuhan, diam-diam melemparkan plastik berisi adik.

Warga sempat gempar mengetahui ibu sudah melahirkan, namun bayinya tidak ada. Ibu berdalih, bayinya hilang sejak dalam perut, diambil sosok putih dalam mimpinya. Masyarakat kami masih percaya mistis. Keterangan ibu diamini. Terkadang juga terjadi kasus yang kami sebut hamil anggur, dimana para ibu nampak seperti hamil, tapi bayinya tidak ada. Bagi warga miskin yang tidak mengenal teknologi USG seperti kami, hamil anggur atau diambil setan, adalah alasan masuk akal untuk menjelaskan hilangnya adik. Ibu aman. Alibinya diterima.

Hingga kutemukan bungkusan itu. Warga mulai menghubungkan mayat bayi dengan ibu. Apalagi ada warga yang mengenali kain yang dipakai untuk membungkus bayi, sebagai kain yang dipinjam ibu. Tidak butuh waktu lama bagi warga dan polisi untuk berhipotesa, ibu segera diciduk bahkan sebelum aku yang menemukan mayat tersebut diperbolehkan pulang.

Bagiku, ibu sungguh bodoh. Ayah juga bodoh. Kehidupan ini bodoh. Semua menyia-nyiakanku. Tidak peduli aku. Sejak itu aku lebih memilih bersenandung untuk menghilangkan kesedihan.

– – – –

“Namanya Rian. Umurnya 12 tahun. Sudah setahun ini dia berkeliaran di sekitar pelabuhan. Sanak saudaranya tidak mampu merawatnya, sehingga dia dibiarkan saja di sini. Kadang dia tertawa sendiri, menangis, bernyanyi. Kemampuan renangnya masih bagus. Dia masih sering ikut mengambil koin. Walaupun kami tidak tahu dikemanakan koin-koin itu. Sepertinya dia tidak kuat menanggung trauma akibat kematian adiknya, ibu yang menjadi narapidana, dan ayah yang pergi.”

Aku mengangguk, mencatat seksama semua keterangan syahbandar. Rian, kasus pertama yang aku teliti sebagai salah satu syarat kelulusan izin praktek psikiatrisku.

“Jika kemiskinan adalah manusia, sudah kubunuh ia.” Aku menghela nafas, teringat ucapan dari Ali bin Abi Tholib, salah satu sahabat Rasul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s