Standard

Kopi

Aku menatapmu lekat-lekat, rangkuman seluruh keindahan dunia. Lengkung alis yang kata orang bak semut berbaris, rapih membingkai mata tajam. Bibir tipis yang sedang tersenyum teduh, menjadi penyeimbang sorot mata. Pahatan rahang kekar, menyiratkan kekuatan tekad. Dada bidang dan hangat, kokoh tertempa perjalanan hidup dan tanggungjawab yang diemban.

“Pikirkan lagi keputusanmu. Sekali kamu berkata ‘tidak’ maka aku akan pergi.” Katamu lembut, namun justru terasa sangat mengintimidasiku.

Aku lebih memilih diteriaki, diomeli, dikata-katai dengan suara keras atau kata-kata kasar. Ketimbang tetap diperlakukan dengan lembut, seperti yang dilakukanmu padaku saat ini.

“Aku tidak bisa. Terlalu sulit pilihannya. Aku tidak bisa meninggalkan hal yang kucintai di sini. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa hidup tanpanya.” Aku mencoba mengingatkanmu lagi, alasan yang membuatku tidak bisa ikut denganmu.

“Seandainya aku dikaruniai kemampuan menangis, pasti duniamu telah tenggelam oleh air mataku. Betapa aku mencintai dan tak ingin berpisah darimu.” Aku tidak berani menatap matamu, aku tergugu mendengar kata-kata putus asamu yang tetap terucap dalam intonasi lembut. Betapa kemampuanmu mengontrol emosi, membuatku tercengang. Kualitas yang ada di daftar teratas persyaratan calon suamiku kelak.

“Maafkan aku.. Aku tidak bisa..”

Kamu menatapku lagi. Merasa tidak akan menemukan perubahan jawaban dariku, kamu lalu berbalik arah, melangkah meninggalkanku. Langit menggelegak. Petir dan kilat bertaburan. Seberkas cahaya menyorot tempatmu berdiri. Kamu terangkat.. Tinggi dan lebih tinggi. Jauh dan terus menjauh.. Hingga tak tertangkap mata. Kamu menghilang. Lalu langit jernih kembali.

Lelakiku telah pergi. Dewaku. Thor tercinta. Mungkin keegoisanku. Mungkin karena alasan yang menurut orang lain sangat sepele. Tapi akan selalu kuingat pesanmu padaku..

“Aku akan kembali ke duniamu. Akan kucari cara agar Kopi bisa tumbuh di Asgaard. Sehingga jika kamu ikut denganku ke Asgaard, masih bisa kamu nikmati hal yang paling kamu cintai di duniamu. Kopi ya. Demi kamu, demi kecanduanmu akan kopi, aku mengalah pada Kopi. Tunggu aku, aku pasti kembali.”

Hatiku tenang lagi mengingat percakapan itu. Ya kamu pasti akan kembali, memenuhi janjimu. Dan saat itu tiba, ketika kopi bisa tumbuh di Asgaard dengan rela kutinggalkan semua milikku di dunia ini, hidup denganmu, mendampingimu memimpin Asgaard.

– – – – –

Tak lama setelah percakapan itu, jauh di dimensi lain, Thor terduduk terpaku. Memandangi Bifrost yang hancur akibat pertempurannya dengan Loki. Jembatan yang menghubungkan Asgaard dan Bumi, terputus.

“Maafkan aku, Jane. Mungkin cukup lama aku baru bisa menjemputmu. Menumbuhkan kopi di Asgaard, mungkin tidak memakan waktu lama. Namun memperbaiki Bifrost, aku tidak yakin.. Semoga aku tidak terlambat menjemputmu.”

– – – –

Unrevealed convo between Jane and Thor.

*inspired by the tweet => , “@yuska77: Gpp asal Thornya milik sayah 😀 “@plut0saurus: TONY STARK!! *brb* *packing ke US* #kuisTCSC kopi paling enak kalau diminum sama ___”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s