kehidupan telah membuatmu menjadi seperti apa..

Sebelum tulisan ini mengalir, saya mencoba memperkenalkan terlebih dahulu dimana posisi saya agar tulisan ini tidak terkesan menggurui sok tahu. Tulisan ini murni uraian hasil pengamatan belaka.

Saya wanita. Termasuk kategori sanguin. Tes IQ atau tes sejenis potensi akademik biasanya akan menunjukkan skor kemampuan spatial, verbal dan leadership saya yang cukup tinggi.

Skor itu, yang sudah-sudah tercermin dalam pergaulan sehari-hari semisal, saya biasa jadi ketua kelas, ketua OSIS, dan ketua-ketua sejenis. Tidak memiliki kesulitan untuk berkomunikasi, bahkan didepan publik. Ditambah lagi dengan sisi logika yang saya miliki (yang konon terlalu logis untuk ukuran wanita yang biasanya sarat ‘perasaan’) saya merasa lebih cocok berteman dengan lelaki ketimbang perempuan.

Akibat sering nongkrong dengan kaum lelaki, saya terbiasa dengan humor-humor dan becandaan. Baik yang skala lucu konyol hingga skala yang bagi beberapa wanita yang sensitif, akan terasa kasar. Kemampuan bermain kata, humor, ngelucu, nge’cengin meningkat pesat ketika SMP dan SMA, saat itu saya dikelilingi geng bodor. (Kemampuan melucu ini kelak berguna ketika saya kuliah sembari part time jadi penyiar radio dan MC).

Sejak itu mengomentari orang, nyamber omongan orang, ngatain orang (dalam konteks becanda), adalah hal mudah bagi saya. Bisa terucap kapan saja. Saya terbiasa meramaikan suasana dengan joke-joke. Baik joke cerdas maupun asbun. Saya jadi bagian ‘Ga Ada Loe Ga Rame!’.

Satu hal yang membuat saya sadar, mengapa saya bisa dianggap ‘lucu’ oleh teman-teman, adalah bahwa saya (dan juga teman2 saya yang lucu) selalu berusaha memahami situasi, lalu otak berputar mencari padanan kalimat lucu, barulah komentar-komentar tersebut terlontar. (terimakasih pada kecepatan otak saya berpikir mengolah kata) sehingga setiap saya melucu, tidak pernah ada teman yang mengatakan kepada saya: “Garing loe!”, “Basi loe!”, “Ga nyambung loe!”. (Oh well, kalau ‘garing’ itu terjadi, saya ga akan dapat Job MC kali yaaa).

Bahwa lelucon, sekecil apapun butuh diproses sebelum dilontarkan.

Waktu berlalu. Seiring usia dan kedewasaan yang bertambah, koridor-koridor lucu dan tidak lucu mengalami perubahan. Ketika SD, saya tertawa ketika teman-teman pria saya becanda saling memelorotkan celana mereka, maka ketika dewasa hal seperti itu tentu sudah tidak lucu lagi. Ketika dulu kita bisa nyeletuk dengan entengnya kepada seorang teman yang giginya maju, “gigi loe jauh” tanpa merasa dia akan malu walau saat itu ramai, mungkin ketika kita dewasa bertemu dengan teman itu lagi, lelucon “gigi loe jauh” sudah tidak tepat diucapkan dikeramaian (bisa jadi yang diceletuki sedang berada diantara bawahannya, celetukan macam itu bisa menurunkan wibawanya).

Intinya, semakin dewasa semakin belajar menyaring apa yang harus terucap dari mulut. Belajar memilah mana yang harus dikomentari, mana yang tidak. Belajar mengetahui, apakah komentar saya pada konteks dan konten yang tepat sesuai yang dimaksud narasumber.

Setiap kuliah subuh atau siraman rohani yang saya dengarpun mengajarkan sama, jika tidak bisa berkata baik maka diam. Jika tidak tahu duduk persoalan, maka tidak usah bicara. Jika tidak ada yang bertanya, tidak usah menjawab, kecuali yakin bahwa jawabanmu mencerahkan. Meskipun hanya bermaksud bercanda. Karena dengan pemahaman yang minim, apa yang dianggap lucu, bisa jadi tidak lucu bagi orang lain. Jika tidak tahu, bertanyalah.

Dan demikianlah yang terjadi pada saya. Waktu berlalu, bukan lagi pelajar atau mahasiswa di dunia bersenang-senangnya. Pengalaman mengajarkan saya untuk berhati-hati bicara. Memilih kata, intonasi, saat dan waktu yang tepat. Karena kesalahan dalam berbicara bisa menjadi bumerang bagi saya kelak.

Maka ketika saya bertemu teman-teman lama, beberapa bahkan terhitung teman baru (misalnya teman angkatan ODP yang ‘hidup bersama’ training setahun, kemudian selama tiga tahun terakhir menjadi jarang kontak karena terpencar-belah), mereka akan berkata , “Elo sekarang pendiem.” Dan beberapa komentar sejenis yang intinya melihat perubahan saya menjadi tidak terlalu banyak bicara. Tapi ketika suasana mulai cair dan masuk sesi melucu mereka akan berkata, “elo udah ga bawel, tapi masih tetep gila, lucu!”

I take it as compliment. Mungkin pembelajaran diri saya berhasil. Dengan menyaring perkataan dan bercandaan, dengan tetap menjaga ‘sense of humor, semakin sedikit kemungkinan saya melukai hati seseorang, atau merusak citra saya karena perkataan yang tidak tepat. Mungkin dulu ketika saya masih sekolah dan ‘masih lucu-lucunya’, ada saja orang yang saya sakiti hatinya, dibalik orang-orang yang tertawa karenanya.

– – – – – –

Lalu muncul fenomena social media. Tujuan awal ‘jejaring teman’, lalu meluas menjadi ‘promosi’, ‘jualan’, ‘buku harian’, dan sebagainya. Sebagian orang juga memanfaatkannya sebagai panggung.

Tidak semua orang bisa memiliki panggung di dunia nyata. Panggung dalam arti, ‘bicara atau interaksi di depan publik’ atau panggung dalam arti prestasi. Banyak orang tidak pernah muncul ke atas panggung. Mungkin karena sifat dan personality mereka ditakdirkan sebagai orang di belakang layar, atau memang karena mereka tidak PD dan memiliki kendala untuk tampil di panggung (misal communication skill, kekurangan fisik).

Oh iya, orang di belakang panggung belum tentu tidak memiliki communication skill yang baik ya. Beberapa teman saya kutu buku sangat, hobinya berkutat dengan kesukaan mereka, tapi ketika harus berbicara dan berkomunikasi bahkan di depan publik, mereka bisa dan bagus. Hasil mengasah kecerdasan emosional dan intelektual.

Yang kampret itu ya orang-orang yang ga bisa berkomunikasi dengan baik, lalu akhirnya cenderung diam menarik diri, lalu beralibi, “gue ga pedulian”, “gue ga suka di ekspos”, “gue bla bla bla..” Apapunlah menyalahkan kendala eksternal, ketimbang sadar diri agar berprestasi dan bisa muncul di panggung (padahal orang-orang ini pengen banget dikenal dan didengar banyak orang). Biasanya diikuti dengan kecerdasan emosional yang rendah.

Orang-orang seperti ini akhirnya menemukan jalan pintas mereka. Yap social media.

Radityadika menyebutnya Twittergenic.

Mereka bisa koar-koar di timelinenya. Nyamber omongan orang sana sini. Terlihat pintar, terkini. Terlihat mudah bergaul, berdiskusi. Terlepas dari fakta apakah yang diungkapkannya benar atau tidak, sesuai konteks atau tidak, menyakiti atau mengganggu orang lain atau tidak.

Kalau masih umur sekolah atau mahasiswa, ya masih bisa dimaklumi karena belum pernah merasakan tanggungjawab bekerja mencari duit sendiri. Tapi kalau yang sudah tua, atau sudah bekerja tapi becanda dan kata-katanya masih garing, itu kok ya seperti orang yang tidak lulus pelajaran kehidupan.

Saya tidak menyalahkan orang-orang ini. Siapapun boleh tampil dan bicara, menciptakan panggung mereka sendiri, hitung-hitung belajar untuk bicara di dunia nyata. Tapi yang saya sesalkan adalah ketika mereka bicara seenaknya tanpa persiapan. Tidak merasa menyakiti siapapun, karena bagi mereka yang ditatap adalah layar monitor atau gadget.

Ya, bagi sebagian orang social media is only a playground. Sayapun beranggapan demikian. Tempat bego2an, lucu2an, melepas penat dari kehidupan nyata. Tapi ingat, bahkan playgroundpun punya aturan. Mungkin jika kita berkunjung ke playground, biasanya akan terlihat papan pengumuman: harap memakai kaos kaki, tidak boleh membawa makanan dan minuman, tidak boleh membahayakan keselamatan orang lain, dan bla bla bla. Intinya, bahkan untuk kesenangan belaka ada rambunya.

Hal ini yang kadang tidak dipahami para pemanggung instan. Mereka berkoar, tapi tidak belajar etika. Bahkan komunikasipun ada ilmunya (hingga dibuat satu fakultas untuk mempelajari ilmu sosial dan komunikasi). Jika ingin berpanggung di dunia virtual, tetaplah belajar, tetaplah mengenal etika, tetaplah sesuai konteks. Perkaya kontennya. Jika ingin lucu, pelajari cara melucu. Bangun sense of humor, tonton film komedi.

Saya teringat, setiap akan bicara didepan publik saya selalu mempersiapkan diri. Menggali informasi sebanyak yang saya bisa, agar tidak salah bicara. Jika saya harus menyelipkan joke, saya akan melatihnya benar-benar (bahkan para comic standup comedy juga berlatih loh sebelum mereka manggung, jadi ga asal nyeplos).

Atau cara paling mudah untuk mengukur apakah omongan anda layak atau tidak adalah, bayangkan ada sekelompok orang sedang mengobrol dan bercanda, lalu anda lewat dan mendengar sekilas keyword yang sedang dibahas. Bayangkan kemudian anda turut nimbrung, dan langsung memberi komentar atau turut melontarkan joke, bermaksud meramaikan suasana. Ada dua kemungkinan, joke atau komentar anda akan diapresiasi, atau anda akan diceng’in, “ah katro loe.” “ah ga nyambung loe.” “Ah jayus loe!”

Di social media mungkin anda tidak akan merasa impak yang teramat besar jika salah bicara. Jika diprotes, anda bisa mem-block/meremove orang2 yang anda anggap tidak sejalan dengan komentar (ngaco) anda, semudah itu. Padahal anda memang salah, memang asal ngomong atau becanda, dan banyak hati yang sepet karena perkataan yang tidak tepat. Jika terjadi di dunia nyata dan terjadi berulangkali, mungkin sudah ditongkrongin di ujung gang untuk digebukin rame-rame.

Jadi jangan cengeng dan mudah tersinggung kalau di dunia maya dikritik becandaan anda tidak lucu. Atau kata-kata anda dinilai sok tahu. Daripada digebukin di dunia nyata?

Mungkin bukan lawan bicara yang overreacted, namun justru anda yang overreacted, defense menyikapi kekurangan atau kesalahan anda.

Mungkin point saya, jika di dunia nyata anda tidak terbiasa berkomunikasi lisan, tidak banyak berinteraksi dengan sesama manusia (pantengin aja itu layar monitor), Maka anda harus belajar dua kali lipat ekstra keras untuk memantaskan diri anda berkoar-koar di dunia maya. Lihat, dengar, rasakan, bagaimana di dunia nyata orang-orang berkata dan bercanda. Lihat bagaimana reaksi para pendengarnya akan hal itu. Serap dan maknai.

Jadi kelak 2 atau 3 tahun lagi jika demam social media berakhir, anda (yang tidak terbiasa bicara di depan publik) sudah bisa maju dan berpanggung di dunia nyata, karena sudah terasah di dunia maya. Ciptakan panggung yang nyata. Bukan hanya sekedar koar-koar di dunia maya, namun kehilangan eksistensi di dunia nyata. Apalagi dengan alibi, “gue ga pedulian.” Prettt itu inferior.

Intinya, belajar. Jangan sok tahu.

Kehidupan akan membawamu menjadi seperti apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s