Rahmat

Rahmat menghela nafas setelah membaca pesan singkat yang masuk ke telepon genggamnya. Dikirim oleh Mang Cecep, tetangga Bapak dan Ibunya di desa. Benaknya kemudian sibuk menimbang suatu keputusan. Setelah 5 menit tenggelam dalam raut wajah bingung, ditekanlah nomor telepon  yang dikenalnya. Mang Narya, tempat terakhir dan paling aman untuk minta bantuan. Sesungguhnya tidak enak terus-menerus minta pertolongannya, namun ini semacam keadaan genting. Suka tidak suka, Rahmat harus berhutang budi lagi pada Mang Narya, Bosnya. Tumpuan hidup dan sumber keamanan bagi Rahmat di Ibukota ini.

“Semoga Mang Narya tidak meminta imbalan.” Harap Rahmat dalam hati.

Dering ketiga, Mang Narya mengangkat teleponnya. Langsung disapanya Rahmat dengan hangat.

“Kau menelponku, bantuan apa yang bisa kuberi? Jangan sungkan.” Tanya Mang Narya.

“I..iya. Ma..maaf Mang.” Rahmat menjawab gugup, tidak menyangka Mang Narya bisa membaca pikirannya. “Bapak dan Ibu besok akan datang. Kalau boleh, saya mohon bantuan akomodasi karena Bapak dan Ibu…..”

“Ah gampang itu, ambil kunci rumahnya di anak buahku. Kembalikan segera kalau mereka sudah pulang. Kamu, jangan pikir apa-apa. Kerja yang rajin, kasih aku duit yang banyak.” Mang Narya memotong kalimat Rahmat.

“Ba..baik Mang, terimakasih banyak.” Rahmat menghela nafas lega. Satu masalah teratasi.

Dibacanya lagi pesan singkat dari Mang Cecep. Antara rasa rindu pada kedua orangtuanya, juga rasa khawatir, berkumpul di benaknya.

Mat, Bapak Ibu akan menengokmu. Jangan lupa jemput mereka di stasiun Senen, Jam 10 pagi. Cecep.

– – –

“Waaahh kamu sukses ya di Jakarta. Bukan rumah mewah, tapi bisa beli rumah sendiri itu hebat, Nak.” Ibu memandangi rumah type 36 itu dengan kagum. Rahmat tersenyum, kelu.

“Iya Mat, kalau bapak tahu kamu sudah hidup mandiri seperti ini, pasti sudah sekalian Bapak bawa tetangga kita yang menganggur itu di desa. Mesti kantormu ada lowongan juga untuk mereka. Kamu lulusan SMA, baru bekerja dua tahun saja, bisa beli rumah di Jakarta.”

“I..iya, Pak..” Rahmat menjawab gugup. “Bapak Ibu beristirahat saja dulu, saya akan kembali bekerja. Kalau lapar, ada mie instan di lemari.” Rahmat berpamitan, mencium tangan kedua orangtuanya.

– – – – – –

Hari ketiga Bapak dan Ibu di Jakarta. Belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke desa. Rahmat mulai gelisah. Merasa tidak enak pada Mang Narya yang meminjami rumah tersebut.

“Mat, mau berangkat kerja ya? Bapak ikut lihat kantormu, Nak.”

“Jangan Pak, satpam kantor saya galak. Lagipula kalau Bapak ikut saya, lalu mau apa disana. Pulang sendiri ke rumah juga tidak tahu jalan.”

“Ah.. gampang itu Mat, bapak ini ahli baca peta. Pasti bisa kembali ke rumah ini walau tidak diberi tahu jalannya. Aku ikut kamu, biar aku bisa cerita ke orang-orang desa kalau anakku sukses.”

“Jangan Pak, jangan bikin malu saya. Apa kata orang kalau saya kerja membawa orangtua. Nanti karir saya terhambat.” Sebuah alasan penuh kebohongan meluncur dengan mulus dari bibir Rahmat.

Bapak menangguk, berusaha memaklumi alasan putranya. “Ya sudah, bapak tidak ikut. Cepat pulang ya Mat. Sepi di sini.

Rahmat menangguk cepat, lega. Dia segera berlalu dari rumah tersebut.

– – – –

Topan segera menggunakan alas kakinya, bersiap keluar rumah, tidak ingin kehilangan jejak anaknya. Istrinya merengek ingin ikut, akhirnya dia setuju, istrinya ikut.

Berdua mereka mengendap-endap mengikuti langkah putranya. Keluar dari rumah, lalu ke jalanan luar komplek perumahan, naik angkot dengan nomor serupa yang ditumpangi putranya, sambil berdoa tidak kehilangan jejak. Untunglah angkotnya terus beriringan dengan angkot yang ditumpangi putra mereka. Tiba di terminal, Topan sekilas melihat putranya masuk ke toilet. Topan dan istrinya berdiri tidak jauh dari toilet. Dengan sabar menanti Rahmat keluar dari sana. Penasaran apakah setelah naik angkot, mereka akan naik kendaraan lainnya.

Tak berapa lama, Rahmat keluar dari toilet. Topan dan istrinya kaget melihat dandanan Rahmat.

“Rahmaaattt…” Tanpa sadar Topan berteriak memanggil anaknya.

Rahmat menengok ke arah sumber suara, kaget melihat kedua orangtuanya memergoki dirinya yang sudah berganti pakaian. Refleks dia berlari kencang, menjauhi kedua orangtuanya. Tidak disadarinya sebuah angkot melaju kencang. Tabrakan tidak dapat dihindari. Rahmat jatuh. Sosok dengan pakaian lusuh dan kumal, dengan koreng buatan di kaki,  hari ini wajahnya bergelimangan darah akibat tabrakan.

Topan berlari menyeruak kerumunan yang dalam sekejap merubungi putranya yang terkapar. Sayup didengarnya pembicaraan orang-orang tentang putranya.

“Oh, ini Rahmat, yang biasa ngemis di pojokan terminal sana.” Sebuah suara.

“Lah.. ini kenapa dia tiba-tiba nabrakin diri ke angkot?” Suara lain.

“Ah, cuma lagi gila aja kali. Elo kan tahu, kalo jadi anak buahnya Narya mah harus siap di sodomi. Dia udah ga kuat kali digituin, makanya pilih mati.” Yang lain menimpali.

Semua berkomentar buruk. Kepala Topan terasa ingin meledak mendengar semua komentar itu. Tidak ada satupun orang di kerumunan itu yang berani menyentuh tubuh Rahmat. Tidak juga polisi yang berada di dekat terminal, dia hanya memandangi korban yang masih tergeletak.

“Angkat.” Sebuah suara keras tiba-tiba memecah keributan orang-orang yang berkerumun. Beberapa pria dengan dandanan pengemis kompak mengangkat tubuh Rahmat. Topan batal mendekati tubuh anaknya. Dia berjalan menuju sumber suara tadi.

“Mau dibawa kemana anak saya?” Topan memberanikan diri bertanya pada pria bersuara keras itu. Pria dengan pakaian rapih dan terlihat terpelajar.

“Ah, ini orangtuanya Rahmat. Saya Narya, saya akan tanggungjawab mengurus jenazah anak Bapak, akan kami dikuburkan dengan layak. Jangan lupa, kembalikan kunci rumah saya. Rahmat hanya pinjam, dia takut Bapak Ibunya tahu kalau kerjanya hanya mengemis. Sekarang sudah tidak ada yang perlu disembunyikan.”

Refleks tangan Topan terayun, meninju wajah Narya. Pelampiasan rasa kesal dan kecewa karena merasa dibohongi. Pelampiasan rasa benci yang mendadak terbentuk pada orang dihadapannya ini, yang didengarnya telah membuat anaknya menjadi pengemis dan memperlakukan anaknya tidak senonoh. pelampiasan kesedihan yang mendalam karena kehilangan putranya secara tragis. Kerumunan kembali ramai dengan teriakan karena melihat adegan pemukulan itu. Tidak sempat memberikan tinjunya yang kedua, Topan terjatuh. Anak buah Narya memukul tengkuknya.

Kerumunan bubar, tubuh Rahmat mereka bawa. Tubuh Topan yang pingsan dibiarkan tergeletak di area terminal. Tidak ada orang yang berani menyentuh dan memindahkannya. Narya sangat berkuasa di terminal tersebut. Bahkan polisi tidak berkutik.

Angkot kembali lalu lalang meneruskan aktivitasnya mengangkut penumpang. Para supir memperlambat dan sedikit meminggirkan angkot yang dibawa agar tidak melindas tubuh Topan.

Istri Topan melihat semua adegan dari kejauhan. Tangisnya turun, tiada henti.  “Tuhan…” Ratapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s