Aside
1

Aku batal masuk ke mobil. Kutajamkan pandangan ke arah seberang jalan. Mataku memicing menyipit berusaha melawan cahaya matahari. Ya benar itu dia. Wajah yang kukenal. Tinggi, berkulit gelap, berusia sekitar 35 tahunan. Lelaki yang sudah satu minggu ini menyita perhatianku, meluangkan waktu untuk berusaha mencari tahu kabarnya.

Pada sebuah gang, kulihat dia berbelok masuk. Aku menyebrang jalan dengan tergesa dan panik, perasaan tidak berani menyebrang di jalan ramai berpadu dengan perasaan takut kehilangan jejaknya. Dengan menahan nafas dan banyak doa terlantun, akhirnya aku berhasil tiba di seberang jalan. Dengan selamat.

Mas Fudin nama lelaki yang sedang kubuntuti ini. Perlahan kulihat dia masuk ke sebuah rumah, terlihat kumuh. Cukup ramai rasanya isi rumah tersebut. Selama lima menit aku berdiri mengamati, kulihat beberapa pria wanita dan anak-anak silih berganti keluar masuk rumah.

Tak berapa lama kulihat Mas Fudin keluar dari rumah tersebut, sudah berganti pakaian, dia terlihat lebih lusuh, berjalan ke arahku. Setelah kurasa cukup dekat kuberanikan memanggil namanya. Yang kupanggil menengok terkejut.

“Mbak Shinta. Kenapa bisa ada di sini, mbak?” Jawab Mas Fudin. Wajahnya terlihat tidak nyaman. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, tidak fokus menatapku.

“Mas Fudin kenapa di sini?” Aku balik bertanya.

Mas Fudin diam agak lama, dia menghela nafas agak panjang baru kemudian menjawab pertanyaanku.

“Maafkan saya Mbak Shinta, bukannya saya lari dari tanggungjawab dan mengabaikan kepercayaan yang sudah Mbak Shinta beri. Saya sudah dapat pekerjaan baru. Rencana saya, kalau sudah sempat akan datang dan mengabari Mbak Shinta.”

“Ya sudah, kalau memang Mas Fudin berhenti karena Mas Fudin ada pekerjaan baru yang lebih baik dan halal, saya rela. Semua orang pasti ingin perbaikan dalam hidupnya. Posisi Mas Fudin saya alihkan ke orang lain ya.”

“I…Iya Mbak.” Mas Fudin menjawab gugup.

“Kalau boleh tahu, sekarang Mas Fudin kerja dimana?”

“Mbak, saya harus pergi. Teman-teman saya sudah menunggu.” Mas Fudin berlalu tanpa menjawab pertanyaanku. Didepan gang sudah berkumpul rekan-rekan Mas Fudin yang sebelumnya kulihat keluar masuk rumah tadi. Sekelebat kulihat Mas Fudin naik ke atas mobil pick up bersama rekan-rekannya.

Dilihat dari kelusuhannya, aku berasumsi Mas Fudin sekarang menjadi kuli bangunan. Tidak apa, kalau memang menurutnya itu lebih baik dan sesuai kemampuannya.

Sejak kecil aku sangat ingin jadi berguna bagi sekelilingku. Salah satunya dengan membuka lapangan pekerjaan. Maka dari itu, selain bekerja pada salah satu perusahaan desain interior, kucoba juga iseng-iseng berjualan Waffel. Teman-temanku berkata, Waffel dan Crepes buatanku rasanya enak. Terinspirasi gerobak burger yang sering lewat depan rumahku, maka waffelnya juga kuciptakan agar bisa dimasak dan dijual dengan gerobak. Dijual dengan harga terjangkau di SD-SD sekitar tempat tinggalku.

Semula hanya satu gerobak. Ternyata minat pembeli cukup baik, maka perlahan gerobak waffelku bertambah menjadi tujuh, dengan wilayah pemasaran lebih luas. Setiap penjual waffel yang bekerja denganku merasa puas dengan hasil yang mereka dapat, ada saja permintaan mereka agar  menambah lagi armada gerobak. Katanya agar rekan-rekan mereka yang menganggur di kampung, bisa ikut berjualan. Untuk itu selalu kuusahakan mencari pasar baru, wilayah baru, agar bisa dilayani gerobal – gerobak baru. Rasanya ada kebanggaan tersendiri, melihat orang-orang yang begitu giatnya menggenjot gerobak waffelku, demi nafkah halal bagi mereka, (dan untukku juga sih, hehe).

Mas Fuddin salah satu penjual waffelku. Satu minggu ini dia tiba-tiba menghilang dari rumah kontrakan yang kusewa untuk tempat tinggal para pedagang waffelku. Tidak ada barang yang hilang. Gerobak dan perlengkapannya utuh. Barang-barang teman satu rumahnya juga utuh. Kami jadi bertanya-tanya, kenapa Mas Fudin mendadak pergi. Padahal dia termasuk penjual dengan prestasi gemilang. Setelah dipotong uang setoran untukku, Mas Fudin bisa mengantongi uang 80 ribu sehari. Jumlah yang cukup besar menurutku.

Kadangkala untuk menyemangati armada gerobak, aku sering membandingkan penghasilan mereka dengan gaji pegawai bank. Seorang teller bank,  fresh graduate lulusan D3,  gaji di tahun pertama hanya berkisar antara 1,3 juta -1,5 juta perbulan. Terpapar risiko salah bayar pula, yang harus diganti dengan gaji mereka. Kalau Jadi Mas Fuddin, cukup berlatih agar otot kaki kuat menggenjot, juga latihan memasak waffel agar tidak gosong, bisa dapat 2 juta sebulan. Biasanya armada gerobakku jadi tambah semangat berjualan mendengar perbandingan macam itu.

“Mbak Shinta, tadi saya setor uang ke rekening tabungan saya. Dalam hati saya berkata, mbak-mbak teller ini cantik dan wangi tapi gajinya masih lebih besar saya. Hahaha…” Demikian salah satu celoteh armada gerobakku. Celoteh yang membesarkan hatiku, merasa bisa memberi arti bagi orang-orang dengan semangat kerja seperti ini.

Pagi hari yang lain, aku melewati gang tempat Mas Fudin sekarang tinggal. Tanpa sengaja kulihat mobil pick up yang ditumpangi Mas Fudin dan teman-temannya keluar dari gang. Intuisiku otomatis membuatku mengikuti mobil tersebut, meskipun arahnya berbeda dengan tujuanku.

Di sebuah perempatan lampu merah di tengah kota, mobil itu berhenti. Sebagian rekan Mas Fudin keluar dari mobil, termasuk Mas Fudin. Mataku mengikuti arah mereka berjalan kaki. Sebelum lampu berubah menjadi hijau, masing-masing mereka sudah berada di posisi dan peranan masing-masing. Aku terkesiap, kecewa.

Mobil kuparkir. Aku berjalan kaki menuju tempat Mas Fudin turun. Kulihat dia berdiri di salah satu lampu merah, kaki kuat yang biasanya perkasa menggenjot gerobak, kulihat ‘seolah lunglai’. Skenario cedera patah kaki atau amputasi, kurasa.

Kutepuk pundak Mas Fudin. Dia tergagap, terkejut.

“Mas Fudin, saya tidak tahu bagaimana pandangan Mas Fudin, tapi kalau menurut pandangan saya, pekerjaan Mas Fudin menjadi penjual waffel, jauh lebih terhormat ketimbang hanya duduk diam di pinggir jalan, meminta belas kasihan orang lain, apalagi sembari berpura-pura pincang.” Kataku tanpa basa-basi, bercakap dengan suara agak keras berusaha mengalahkan suara kendaraan yang lalu-lalang.

Mas Fudin menunduk tidak berani menatapku. “Tapi Mbak Shinta, dengan mengemis saya dapat 100 ribu setiap hari. Cukup dengan duduk diam, tidak perlu berputar komplek perumahan dan sekolah.” Dia menjawab lirih.

“Kalau memang harga diri Mas Fudin hanya sebatas itu, silahkan. Tapi coba pikirkan kalau kelak Mas Fudin berkeluarga, memiliki anak. Apakah anak dan istri Mas Fudin akan bangga memiliki suami dan bapak seorang pengemis? Kalau kelak Ibu Mas Fudin dari kampung datang kesini, melihat Mas Fudin berpakaian compang-camping duduk seperti orang cacat, apakah dia akan bangga dengan Mas Fudin? Kehidupan memang tidak mudah mudah, Mas. Tapi kita masih memiliki harga diri untuk tidak mengambil jalan pintas yang salah. Mungkin juga dalam agama tidak ada larangan menjadi pengemis, tapi ketika Mas Fudin berusaha, apapun betuknya, tidak hanya berjualan waffel, dan orang lain merasa mendapat manfaat dari usaha Mas Fuddin, Insya Allah pintu rejeki terbuka lebar. Rejeki tidak hanya uang, Mas. Jodoh, sehat, bahagia, itu semua termasuk rejeki. Jangan tutup mata hati dan potensi diri, hanya demi menjadi pengemis.” Aku menatap mata Mas Fudin tajam, berharap dirinya merasa gelisah, pertanda mata hatinya terketuk. Tapi yang kutatap hanya diam, menunduk tidak berani memandangku. Aku merasa kecewa. Berlalu meninggalkan tanpa menunggu jawaban Mas Fudin.

Hati kecilku sebenarnya merasa terkilik, siapa aku berani bicara sok tahu tentang harga diri di hadapan Mas Fudin, yang lebih tua umurnya dari aku. Lagipula mungkin aku belum pernah merasakan hidup tidak berkecukupan seperti yang dirasakan Mas Fudin. Semoga jikapun aku mendadak miskin, aku tidak akan sampai hati membiarkan diriku menadahkan tangan mengharap belas orang lain, tanpa aku memberi manfaat bagi yang memberi. Sementara di tempat lain, banyak orangtua yang terbungkuk, berusaha bekerja untuk menghidupi keluarganya dengan jalan terhormat. Entahlah, mungkin pikiranku terlalu idealis tentang kehidupan.

Aku baru selesai menunaikan Sholat Isya, ketika Mama memberitahu ada tamu untukku. Kulihat Mas Fudin di ruang tamu. Aku menyambutnya dengan dingin.

“Mbak Shinta, maafkan kalau saya sempat mengecewakan mbak.”

“Tidak penting jika itu mengecewakan saya, yang terpenting adalah bahwa itu mengecewakan diri kamu sendiri.” Jawabku ketus.

“Iya mbak, saya menyesal dan malu. Jika Mbak Shinta berkenan, izinkan saya berjualan lagi. Tapi dengan beberapa tambahan persyaratan ya mbak, sistemnya kerjasama. Mbak Shinta yang fikirkan bentuk kerjasamanya, agar sembari jualan saya bisa sekalian cicil gerobak, jadi dalam setahun, gerobak itu bisa menjadi milik saya. “

Senyumku lebar, teramat lebar malah kurasa, mengembang untuk Mas Fudin. Tidak hanya dia akan kembali menjadi pribadi mandiri, bukan pengemis. Dia justru mengeluarkan kemampuan wirausahanya, juga negosiasi. Aku mengangguk cepat. Setuju, sangat setuju. Jikapun kelak semua gerobakku dimiliki oleh penjualnya masing-masing, yang artinya pendapatanku berkurang atau malah hilang, aku tidak menyesal. Bisa menjadikan orang-orang sekelilingku menjadi mandiri adalah pencapaian terbesar, menurutku.

– – – – –

amiin.

Advertisements

One thought on “Gerobak Mas Fudin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s