Aku, lelaki itu.

Kamu,

Pernahkan kamu terpikir pada suatu kisah? Tentang seorang lelaki yang sangat mencintaimu. Selalu ada disisimu, kala senangmu, serta susahmu. Lelaki yang selalu tersenyum, kala bibir indahmu berceloteh tentang kekasih-kekasih pujaan hatimu. Tersenyum, terlatih menahan sakit yang mendera didadanya demi mendengar cerita-cerita itu.

Kamu,

Pernahkah kamu terpikir pada suatu kisah? Tentang seorang lelalki yang sangat mencintaimu. Tapi dia lebih memilih diam. Karena terkadang cinta tidak mudah untuk diungkapkan, untuk orang-orang sepemalu (atau sepengecut) dirinya. Karena terkadang situasi menjadi terlalu sulit untuk mengakui jatuh cinta pada seseorang yang bertahun-tahun kamu sebut sebagai teman baik.

Dan ketika cinta mulai terasa berat, rindu terasa sesak, meminta untuk diungkapkan. Rasa yang semula ikhlas, asal dirimu bahagia, perlahan berubah menjadi keinginan memiliki, hanya untuk diri sendiri. Tidak ingin lagi mendengar kisah-kisah cinta kamu dan kekasih pujaan hatimu.

Tapi mampukah terucap.

– – –

Lelaki itu, aku.

Yang mencintaimu sepenuh jiwa. Mengikutimu kemana saja. Seperti budak bodoh yang siap sedia menampung air matamu saat bersedih.

Kulewati sekian hari, berhitung matematika probabilitas. Antara berucap dan kehilangan, ataukah tetap diam dan kehilangan.

Pun ketika keberanian untuk berkata itu muncul, lagi-lagi aku dibuat bingung, Akankah ini menjadi pernyataan belaka ( yang tidak membutuhkan jawaban), atau akan kubuat sebagai pertanyaan.

“Aku cinta padamu.”

Ataukah….

“Aku cinta padamu, maukah kau menerima cintaku?”

– – – –

Terdengar bodoh. Pertanyaan atau pernyataan, keduanya masih menyimpan probabilitas akan membuatmu pergi menjauh.

Duhai, sampai kapankah sang waktu akan bersekongkol denganku. Terus memutar detaknya, melindungi aku dan kamu dalam lingkar pertemanan. Atau mungkin akan tiba suatu saat, ketika sang waktu menjadi kejam padaku, berkata bahwa kita tidak bisa lagi berteman.

Mungkin jika saat itu tiba, aku sudah berani mengungkapkan kepadamu. Entah itu pernyataan atau pertanyaan. Semoga tidak lama lagi. Semoga.

– – –

Lelaki ini mencintaimu. Adakah kamu bisa merasakan itu? Jika bisa kamu rasakan, meski sedikit saja, tolong beri aku tanda. Agar timbul keberanianku untuk berkata.

Aku cinta kamu.

Advertisements

2 thoughts on “Aku, lelaki itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s