April Mop

Aku melangkahkan kaki dengan riang menuju ruang kelas Aditya. Tidak sabar melihat wajahnya yang bersedih, atau mungkin memelas setelah subuh tadi kukatakan hendak putus dengannya. Hatiku semakin riang ketika kulihat Aditya sudah ada di mejanya.

“Pagi cayang..” Sapaku ceria pada Aditya. Yang kusapa hanya menatapku dengan pandangan aneh. Mungkin dia bingung melihat perubahan sikapku, subuh minta putus, pagi terlihat ceria. “Heiii.. biasa aja dong ngeliatnya. Marah ya?”

“Oh jadi harus pasang wajah ceria setelah di ultimatum putus tanpa alasan yang jelas?”

“Ya ampuunn.. hihi serius banget sih. Kakak Aditya sayang, April Mop. hehehe. Aku cuma becanda. Mana mungkin aku bilang putus tiba-tiba begitu. Hubungan kita kan baik-baik saja.” Jawabku dengan wajah semanis mungkin, berusaha meluluhkan amarahnya.

“Aku sudah menyangka kalau kamu tidak serius. Tapi kamu perlu tahu, tidak semua hal bisa dijadikan bahan bercandaan. Salah satunya, hubungan kita. Perasaan aku. Kamu mau April Mop? Ini ambil April Mop!” Aditya berkata tajam, sembari memberikan sebuah mop yang sepertinya sudah disiapkan di bawah meja. Aku melongo, kehilangan kata-kata. Tidak siap menghadapi reaksi marahnya. Aditya berlalu pergi, keluar dari kelas. Teman-teman sekelasnya menengok ke arah kami. Aku menahan malu. Kubuang mop ke lantai, lalu menyusulnya keluar kelas.

Kulihat Aditya sudah tidak ada di koridor. Kutahan diri untuk tidak mencari. Memberinya waktu untuk meredakan amarah. Atau mungkin dia sedang melakukan April Mop balasan. Buktinya dia sempat menyiapkan mop di bawah meja. Hari masih menunjukkan 1 April pukul 7 pagi, masih sah kalau dia melakukan balasan. Baiklah, kita lakukan sesuai caramu, sayang.

– – – –

1 April, 23.58 WIB.

Bolak balik ku lihat layar HPku. Tidak ada satupun pesan masuk dari Aditya. Hatiku mulai khawatir. Kucoba menelponnya. Satu dering, dua dering, tiga dering, empat dering.. Tidak diangkat.

Kalut mulai menerpa diri. Tak sadar air mataku mengalir. Kebodohanku. Kucoba lagi menelpon Aditya. Satu dering, dua dering, tiga dering.. Diangkat! Refleks aku mengucap syukur.

“Sayang, udah bobo ya? Tadi aku telepon ga diangkat?”

“Mhmmmm..” Suara mengantuk terdengar di sana.

“Sayang.. Tanggal 1 Aprilnya sudah selesai. April Mop balasannya udahan doong.”

“April Mop balasan?”

“Iya. Kamu marahnya cuma becanda kan? Cuma mau ngerjain aku kan?”

“Mhmmm.. tidak ada becandaan Tiara. Aku sudah berkali-kali bilang, aku tidak merayakan Valentine dan April Mop dan hari-hari lain entah apalah yang tidak jelas itu. Terutama lagi, aku tidak suka hubungan kita dijadikan bahan bercanda. Tolong lebih dewasa, bacaan kamu dirubah jangan cuma baca majalah remaja yang isinya hura-hura dan konsumtif. Aku ingin percakapan kita tidak sekedar ada model baju baru apa di Mal, ada konser siapa di Sentul, ada kado valentine lucu apa di sana di sini. Aku bosan. Kamu yang minta putus, aku sudah setuju kita putus. Sekarang berbesar hatilah menerima konsekuensi kata-kata yang terucap. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kamu. Sudah larut. Teleponnya aku tutup. Bye.”

Aku ternganga. Lalu menangis.

Advertisements

9 thoughts on “April Mop

  1. saya suka sama ceritanya, perasaan memang jangan dibuat main-main..
    dan sebagai seorang dewasa harus siap menerima segala konsekuensi atas apa yang sudah diucapkannya..

    siip.. πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s