Standard

Semangkok bakso tahu

“Sudah bilang Mama tentang hal ini?” Aku menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala. Pria di depanku menghela nafas . “Bilanglah sama Mama, sekalian minta doa. Biar mudah urusan pindah ini, dapat tempat baru yang lebih baik.”

“Entahlah Ben. Kamu tahu aku perang dingin dengan Mama sejak warung ini dibuka. Untuk minta doa Mama, disaat bangkrut seperti ini, aku tidak yakin apa komentar Mama. Aku takut dicemooh Mama. Merasa tidak berguna dihadapan Mama, rasanya itu definisi kegagalan terbesarku.”

“Suudzon sama orangtua sendiri, dosa. Lagian siapa yang bilang kamu bangkrut. Kamu cuma terpaksa pindah, karena ruko ini akan dibongkar pemiliknya. Kalau dapat tempat baru, usahamu jalan lagi. Itu mental dan pola pikir kok masih cetek.” Ben berdiri sembari mengusap kepalaku. Dia pamitan pulang lebih dulu.

Kupandangi pria tampan yang berlalu dari warungku. Memandangi Ben memberi sedikit kelegaan di hati, setidaknya kekasihku mendukung impianku untuk jadi wiraswasta. Sementara Mama, ehm…

“Mau jadi apa kamu, Sarjana kok buka warung bakso. Kurang apa di kantor lama? Gaji besar, kedudukan bagus. Kerja dua tahun sudah jadi manager. Setiap mama bilang kalau kamu kerja di Perusahaan XYZ  itu, pasti teman-teman mama kagum. Sekarang Mama harus bilang apa ke temen-temen mama? Bilang kalau Anak mama jadi tukang uleni bakso. Ck!”

Demikian kata-kata Mama ketika aku memutuskan berhenti kerja dan membuka Warung Bakso Tahu ‘Ijo”. Aku memberi tahu mama ketika warung bakso sudah beroperasi dan aku sudah resmi resign. Mama protes luar biasa kala itu. Mama, demotivator utamaku.

Baru kubuka 3 bulan, “Ijo” berkembang pesat.  Tempatnya strategis di dekat kampus. Kurancang agar suasananya nyaman untuk kumpul-kumpul, kupasang juga wifi. Perpaduan tempat, harga dan menu yang lezat, membuatnya terkenal dan ramai dikunjungi. Omzet bulan lalu sudah mencapai 27 Juta rupiah, berkali lipat gajiku dahulu. Karyawanku 4 orang. Maka dari itu kuanggap “Ijo” cukup sukses. Hingga tiba-tiba hari ini pemilik ruko menyerahkan surat pemberitahuan bahwa ruko harus dikosongkan dalam waktu seminggu. Sedih. Rasanya seperti harus kehilangan balita yang sedang kurawat dengan penuh kasih sayang.

Malam kian larut, Ben masih bolak balik menerorku via BBM.

~Jangan lupa bilang ke Mama. Ingat buku 7 Keajaiban rejeki, bab Sepasang Bidadari? Selaraskan impianmu dengan orang tua dan pasangan. Siapa tahu walau sikap mama terlihat menentang, sebenarnya justru mama yang berdoa paling keras, hingga Ijo bisa maju seperti ini. ~

Pukul 10 malam, kuberanikan diri bicara pada Mama.

– – – – –

Aku duduk di lantai, bersimpuh pada pangkuan Mama yang duduk di kursi.

“Nduk, Mama selalu mendoakanmu. Maafkan mama. Tempo hari mama berkata kurang bijak, mama merasa dilangkahi. Kecewa karena kamu memberitahu setelah kamu berhenti kerja, setelah warung berdiri. Mama khawatir kamu belum memikirkan matang-matang. Mama ga mau kamu hidup susah. Papa sudah tidak ada, mama juga tidak selamanya hidup. Khawatir kelak tidak ada yang bisa menyokong kalau usahamu gagal. Tapi setelah mama lihat ketekunanmu, mama bangga dan mendukung. Teruskan, kalau memang itu mimpimu. Bisa memberi lapangan pekerjaan itu mulia. Sekali lagi, maafkan mama nduk.”

Aku terseguk mendengar penuturan Mama. Berkali-kali kuucap maaf dan terimakasih pada Mama. Kuciumi pipinya yang juga basah. Tuhan, terimakasih. Dingin antara Mama dan aku usai. Kini hangat kembali menjalari hubungan kami.

– – – –

Setelah sempat tutup 2 minggu, Warung bakso tahu “ijo” ku buka kembali di tempat baru, sebuah rumah kuno milik teman Mama. Warungku jadi lebih unik, bernuansa vintage. Penjualanku naik tiga kali lipat karena selain dari warung, juga kami melayani pesanan katering hasil mama koar-koar ke teman-temannya.

Mama sekarang partner dan motivatorku. Doa dan restu orangtua memang paling manjur. Kuhidangkan semangkok bakso tahu untuk Mama. Wanita yang paling kusayang itu menghirup kuahnya penuh nikmat.

Advertisements

7 thoughts on “Semangkok bakso tahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s