Payung Ungu Amela

Awan hitam mendekati rumahnya, langit mulai gelap. Amela tergopoh keluar rumah sembari membawa payung ungu kesayangan. Tidak dihiraukan teriakan mamanya yang melarang keluar rumah karena akan turun hujan.

Amela berumur lima tahun. Pipinya bulat menggemaskan. Kuncir duanya bergoyang-goyang selama dia berlari. Nafasnya terengah-engah ketika tiba di rumah Satrio, tetangga sekaligus teman sekolahnya.

“Satriooooo… satriooooo….”

Yang dipanggil langsung keluar dari rumah.

“Ayo cepat, nanti keburu turun hujan.Kasihan kalau mereka kehujanan.” Satrio berucap sembari membuka pagar rumahnya.

Amela memasuki pekarangan rumah Satrio. Mereka berdua bergegas ke halaman samping, menuju kolam ikan yang baru selesai dibuat minggu lalu, dan baru terisi ikan hari ini. Di pinggir kolam ikan, Amela membuka payung ungunya. Satrio ikut duduk di bawah payung itu. Tak berapa lama hujan turun. Semula rintik kecil, lalu menjadi deras.

“Ayooooo ikaaaaaan, siniiii berteduh di bawah payungku. Kasihan kalau kamu kebasahan. Ikaaaaannnn, kata Mama kalau kehujanan tidak pakai payung bisa pilek.” Amela berteriak pada ikan-ikan, berusaha mengalahkan suara rintik hujan.

“Iyaaa ikaaan… hayooo berenang kesini, teduhan di bawah payung Amela. Kalau sakit nanti dimarah mama ikan.” Satrio menimpali.

Mereka terus berteriak bersahutan, membujuk ikan-ikan agar mendekat. Tak jauh dari sana, Mama Amela dan Mama Satrio menahan tawa, memandangi ulah dua anak kecil di bawah payung ungu.

Advertisements

7 thoughts on “Payung Ungu Amela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s