Aku sakit karenamu, Gigi

“Neddiiii, matiin lagunya. BOSEN!”

Aku tidak ahli multitasking. Membaca atau menulis sembari mendengarkan lagu, bukan hal mudah bagiku. Sementara Neddi, dia tenang saja membaca buku di sebelah CD player yang memainkan lagu GIGI dengan volume kencang. Neddi tersenyum meledek, sebelum menuruti permintaanku mematikan musik.

Aku menatap loker basket (loker, sebutan untuk ruang ekskul) yang terletak di depan loker jurnalisme, tempatku dan neddi saat ini duduk. Pintunya tertutup. Tidak ada satupun anggota basket yang sedang nongkrong di sana. Aku menghela nafas. Kesal juga kecewa.

Sebuah pulpen mendarat di keningku. Sakit.

“Kesel karena kecengannya ga ada, jadilah gue diomelin pakai alibi bosen denger GIGI. Preettt.”

“Ish sialan loe. Sakit.” Jawabku melempar kembali pulpen Neddi, juga kena tepat di keningnya. “Satu sama.”

“Tommy kirim salam buat elo.”

Aku tersedak mendengar ucapan Neddi. “Serius dia ngomong gitu?”

“Ya bohonglah. Boro-boro kirim salam, memangnya Tommy tahu kalo elo ngecengin dia? Makanya kalo suka tunjukkin. Ngakunya suka, tapi ga pernah menyapa orangnya. Cemen.”

Semangatku menyusut. Manusia seperti Neddi memang enaknya dimutilasi, sukanya bermain dengan harapan orang lain.

Tommy namanya, tim basket sekolahku. Kisahku dan Tommy dimulai bulan lalu. Aku memiliki kecenderungan tekanan darah rendah juga anemia. Kala itu kepalaku terasa pusing dan pandangan mulai gelap. Aku berusaha mencapai loker jurnalisme tapi konon terlanjur pingsan. Tommy yang saat itu berada didepan loker basket, serta merta membopongku ke loker jurnalisme. Kata teman-teman, Tommy juga yang mengoleskan minyak angin di dekat hidungku, serta memesankan teh hangat yang kuminum ketika siuman. Sejak itu aku mengidolakan Tommy. Namun aku tidak berani menyapanya. Bahkan sekedar mengucap terimakasih atas bantuannya ketika aku pingsan, aku tidak berani.

“Hayuk pulang.” Ajak Neddi. Rumah kami berdekatan. Aku biasa nebeng motornya untuk pulang pergi ke sekolah.

“Elo nyetir, gue pinjem iPodnya.”

“Elo bakalan rewel, isinya GIGI semua.”

Aku membatalkan meminjam iPod Neddi. Satu hal yang tidak kumengerti dari Neddi adalah kegandrungannya akan grup musik GIGI. Aku terus terang tidak ngefans. Karena setiap pentas vokalisnya akan bergaya seperti orang cacingan kejang-kejang. Untuk lelaki lumayan tampan mestinya Neddi memilih grup musik keren seperti Linkin Park, Pearl Jam, atau kalau memang harus grup band Indonesia, dia bisa pilih PADI. Vokalisnya kalem, gaya panggungnya cool, apalagi ada Mas Piyu. Ih ini GIGI, prett. Yang ada aku sakit kepala setiap terjebak di loker atau ketika bikin PR dirumahnya, pasti ada lagu GIGI. Aku yang semula sekedar tidak ngefans, berubah jadi TIDAK SUKA karena hampir tiap hari dicekoki GIGI oleh si Neddi geblek ini.

Neddi membelokkan motor ke arah yang tidak biasanya. Lalu berhenti di depan rumah yang tidak kukenal.

“Rumah siapa?”

“Janji sama gue, elo ga bakal norak dan bertingkah malu-maluin.” Aku diam, tidak mengerti arah pembicaraan Neddi.

Pintu rumah dibuka. Sesosok pria keluar sambil tersenyum. Oh Tuhan, aku sulit bernafas. Tommy. Ya Tommy, dan dia ada sangat dekat denganku, bahkan tersenyum padaku (dan juga Neddi sih).

“Gue ga usah masuk, Tom. Ini ngajak anak orang, nanti emaknya marah udah siang anaknya belum sampe rumah.”

Tommy hanya mengangguk dan tersenyum memandang wajahku. Terkutuklah Neddi yang membuat pertemuan ini hanya sebentar. Mestinya dia mau ketika dipersilahkan masuk ke rumah Tommy. Tommy menyerahkan setumpuk CD dan Majalah kepada Neddi. Mataku jelalatan berusaha melihat cover majalah dan CD itu. Aku tersedak. ASTAGA GIGI LAGI. Kupandang Neddi penuh tanya.

“Tommy ini fans GIGI juga, garis keras malah. Tom, Sasha ini juga fans beratnya GIGI. Cocok deh elo berdua.” Neddi mencerocos tak jelas.

“Serius Sha? Waa ga nyangka. Kukira kamu pemalu, ternyata selera musik kamu keren juga…” Tommy terus berbicara dengan semangat tentang GIGI. Aku tersenyum kecut. Suara Tommy mengambang menjauh. Terkutuklah Neddi dengan cerita bohong bahwa aku fans GIGI. Kepalaku cenut-cenut, berfikir keras apakah masih akan mengidolakan Tommy setelah tahu dia penyuka GIGI.

Arrrg. Aku sakit karenamu, GIGI.

Advertisements

2 thoughts on “Aku sakit karenamu, Gigi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s