Cinta itu Menyembuhkan

Tanganku mengompres dahinya dengan handuk hangat. Tangan lainnya melihat angka digital yang tertera pada termometer. 39,3 derajat celcius. Demam tinggi untuk anak usia lima tahun.

“Mama… mama… aku mau mama..” Tasya mengigau dalam tidurnya. Kulihat dua butir airmata menetes dari matanya yang terpejam.

Sudah aku bawa Tasya ke dokter anak langganan. Hasil laboratorium menunjukkan tidak ada virus atau hal lain yang mengkhawatirkan pada darah Tasya. Dokter berkesimpulan Tasya hanya demam biasa.

“Anak kecil biasa begitu, ketika ada hal yang tidak bisa terungkap lewat kata-kata, mereka cenderung demam. Sulit dijelaskan dengan ilmu kedokteran, tapi bertahun-tahun saya menjadi dokter anak, fenomena seperti ini ada. Coba dicari penyebabnya. ” Kata-kata dokter terngiang di kepalaku.

* *

Non Dindit, neng Tasya sakit. Sudah dua malam badannya panas.

Sejak satu jam lalu sudah puluhan kali aku menatap layar telepon selular, mengulang membaca pesan singkat dari bik Nah, pembantu rumah kami. Rasanya ingin segera berlari menuju Tasya. Tapi banyak hal menahan langkahku.

“Sabarlah Dindit. Ingat harga dirimu. Selesai, maka selesai.” Bisik batinku, menguatkan diri.

* *

Pukul dua dini hari. Demam Tasya semakin tinggi, igauannya semakin sering. Tangisnya semakin menggugu dalam tidur. Tidak tega melihatnya. Kusiapkan perlengkapan Tasya, akan kubawa ke Rumah Sakit. Kulirik telepon selular yang tergeletak di meja dekatku.

“Jangan bodoh Aditya. Ingat harga dirimu. Selesai, maka selesai.” Batinku berbisik. Kuletakkan kembali telepon selularku.

* *
Neng Tasya barusan dibawa ke rumah sakit.

Pukul dua dini hari pesan singkat dari bik Nah muncul di layar telepon selularku. Aku berjalan mondar-mandir sekeliling kamar. Air mata mulai menetes. “Yang kuat ya nak, yang kuat. Kamu pasti sehat. Maafkan mama tidak bisa ada di sana.”

* *

Maafkan aku mengganggumu. Jika kamu berkenan, tolong datang ke RS Mawar. Tasya demam tinggi memanggilmu Dit.

Pesan singkat terkirim.

Selanjutnya aku hanya bisa berdoa, semoga masih ada cinta tersisa di hatinya. Jika tidak ada lagi untukku, setidaknya untuk Tasya.

* *

Aku berdiri di depan ruang rawat inap. Kata bik Nah, Tasya di kamar 303. Aku mematung cukup lama di depan pintu. Ragu apakah kehadiranku akan ditolak Aditya. Telepon selularku berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk.

Maafkan aku mengganggumu. Jika kamu berkenan, tolong datang ke RS Mawar. Tasya demam tinggi memanggilmu Dit.

Air mataku merebak. Ada rasa lega membacanya. Aku melangkah masuk. Tak sabar ingin bertemu Tasya.

* *

Matahari muncul dari jendela kamar. Ternyata aku diopname di rumah sakit. Mungkin karena beberapa hari ini aku sakit panas. Kulihat mama tersenyum padaku, menggenggam tanganku. Kulihat papa tersenyum padaku, tangannya memeluk pundak mama.

Kelak bertahun-tahun kemudian, aku baru akan memahami hari ini. Demi melihat aku sakit, mama dan papa membatalkan rencana cerai. Aku tidak tahu apa yang ada di benak mereka hingga sempat terpikir ingin bercerai. Yang aku tahu, masih ada cinta di hati mereka yang menyebabkan mereka bersedia membuang ego, memilih rujuk kembali.

Jikapun pernikahan terkadang menorehkan luka, mereka masih memiliki obat penawarnya, cinta yang menyembuhkan. Kuharap mereka berkenan merawat terus obat penawar itu. Merawat terus cinta itu. Demi mereka, demi aku, demi adik-adikku yang kelak lahir.

Advertisements

One thought on “Cinta itu Menyembuhkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s