Standard

Emas; is it a new economics bubble?

Byahahahak! Keren kaan judulnyaa. Tenaang, saya bukan ekonom. Tidak berbakat membahas hal canggih semacam demikian. Hanya tiru-tiru Phillip Kottler dan Hermawan kertajaya saja, masa cuma mereka yang bisa bikin buku ada judul bubble bubble nya. Aku juga bisa kok ! *ngayal*

Ya ya ya.. Tulisan ini terinspirasi dari betapa ramainya transaksi ritel pada hari pertama Antam melayani setelah liburan lebaran (7/9). Ramai sangat. Antrian untuk masuk gerbang Antam meluber hingga ke Jalan Raya. Membutuhkan waktu sekitar 40 menit semenjak mobil saya masuk antrian, hingga lolos dari gerbang penjagaan pertama. Perjuangan berikutnya adalah mencari parkir. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit dibantu mas tukang parkir yang sibuk dorong mobil lain kesana sini agar mobil saya bisa masuk. Setelah perjuangan panjang itu, akhirnya sampailah saya kedalam ruang transaksi. Didalam ruang layanan juga ramai nian, seperti mal saat akhir pekan ketika THR lebaran sudah dibagikan.

Waktu menunjukkan pukul 9.50 WIB ketika saya mendapat nomor antrian 183. Sementara petugas baru melayani hingga nomor 24 (jam layanan transaksi dimulai pukul pukul 9.00 WIB). Untunglah ada mesin kopi ne*cafe gratis yang berfungsi dengan baik. Sembari menunggu selama 30menit saya coba semua varian yang ada, M*LO, Chococino, Cappucino, Mochacino (wong ndeso ga mau rugi). Saya minum 4 gelas air manis berkafein dalam waktu 30menit (semoga semua kafein itu berkhasiat menghilangkan penyakit pikunan saya).

Dengan sedikit senyum manis pada salah seorang petugas, saya mendapat informasi bahwa hari ini Antam hanya mencetak maksimal 50 keping untuk tiap ukuran. Saya berhitung, jika ada 5 jenis ukuran dan setiap orang membeli 2 keping maka semua barang akan habis pada antrian ke 125. *memandang antrian nomor 183 ditangan dengan pilu*

———-

Pertanyaannya adalah, sedemikian besarnya animo masyarakat terhadap emas. Ada apakah…

Kemungkinan pertama: THR orang-orang belum habis, sehingga pada hari pertama antam buka, berbondong-bondonglah mereka ‘menabungkan’ THR nya di LogamMulia.

Kemungkinan kedua: Masyarakat mulai khawatir krisis ekonomi seperti 2008 akan terjadi lagi, sehingga mereka membeli emas, seperti yang dilakukan beberapa bank sentral negara tetangga.

————

Di Amerika, lembaga pemeringkat S&P menurunkan souvereign credit rating Amerika menjadi AA+. Menyebabkan beberapa negara mengurangi porsi obligasi US dari cadangan devisa mereka dan mengkonversinya menjadi emas.

Di Eropa, terjadi krisis Yunani karena beberapa utang jatuh temponya gagal bayar. krisis tersebut sementara diatasi dengan bailout konsorsium dari negara-negara di zona Eropa. Banyak pengamat ekonomi melihat krisis utang Yunani akan membawa efek domino bagi negara lain pemegang surat utang Yunani. Krisis juga diperkirakan akan melanda negara Eropa seperti italia, Spanyol, Portugal, dan Irlandia. Negara – negara tersebut memiliki utang yang akan segera jatuh tempo hingga 2012, sementara defisit anggarannya lebih dari 3% dari Pendapat Domestik Bruto. Sehingga banyak pakar mempercayai negara-negara tersebut juga akan mengalami krisis utang. (Kesepakatan Eurozone, batas maksimal defisit anggaran adalah 3% dari PDB negara). Ramalan banyak pakar tentang akan runtuhnya Zona Ekonomi Eropa tersebut telah menyebabkan beberapa negara mulai mengurangi porsi kepemilikan obligasi yang dikeluarkan oleh negara-negara Eropa. Sebagai gantinya, banyak negara (korea selatan misalnya) memperbanyak cadangan devisa dalam bentuk emas.

Beberapa negara zona Eropa menentang ada nya bail out. Misalnya Italia, mereka lebih menyetujui wacana menggunakan cadangan emas negaranya guna mengantisipasi krisis, ketimbang mendapat bail out.

———

Beberapa peristiwa dunia yang saya kutip di atas, dipercaya membuat nama emas menjadi primadona lagi. Keberjayaannya sebagai alat tukar, rasanya kembali muncul ditengah ketakutan masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya krisis ekonomi.

Mungkin maraknya emas dibicarakan sebagai primadona alat tukar dan investasi juga telah merambah pola pikir masyarakat Indonesia. Ketimbang meletakkan aset pada produk perbankan atau instrumen keuangan lainnya (yang notabene akan sulit diurus jika bank atau lembaga keuangan tersebut collaps akibat krisis ekonomi), masyarakat terpikir untuk menginvestasikannya dalam bentuk emas. Akibatnya Antam pun ramai dikunjungi pembeli.

———-

Saya sempat bercanda dengan seorang teman. Dia ngotot menyesali kenapa emas menjadi idola investasi untuk saat ini. Lalu saya pun berseloroh, memintanya untuk menciptakan trend terbaru alat tukar.

Mungkin kelak kita bisa mencoba untuk membudayakan biji nangka sebagai alat tukar. Kita buat biji nangka sebagai barang langka dulu tentunya. Rumah anda banyak ruang kosong? Mulailah untuk menimbun biji nangka, siapa tahu kelak menjadi idola investasi dan alat tukar.

cuma becandaaaa. serius amat baca biji nangkanya. sampe manyun gitu :p

———

Tulisan tersebut diatas saya sarikan dari berbagai sumber. Mohon maaf bila logika saya bolong-bolong dalam mengintepretasikan dan merangkumkan berbagai sumber tersebut

——-

situs kemenkeu, wallstreet journal, BBC, CNN, Economist, bursasaham, mandiri sekuritas, jurnal ekonomi dan bisnis UGM, google, wikipedia, dll.

—————–

Tulisan lawas di laptop saya. 8 September 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s