Standard

Tidak perlu bersayap

Halte penantian kekasih

Hei Kamu !

Masih ingatkah kamu akan foto ini?

– – – – – –

Yap, foto tujuh tahun yang lalu. Dalam sebuah perjalanan dengan teman-temanmu. Beberapa diantaranya sedang mengidap penyakit kronis patah hati, sepertimu. Klop, sama-sama patah hati dan sama-sama senang bepergian, jadilah kalian menamakan diri geng  ‘Halte Penantian Kekasih’ (diambil dari salah satu nama halte angkot di daerah Nusa Tenggara Timur).

Setelah perjalanan pertamamu dengan geng HPK,  kelak kamu jadi memiliki kebiasaan ‘kabur’ ketika patah hati. Pergi ke tempat-tempat unik yang belum pernah dikunjungi. Untuk mengobati luka, katamu. Kadang kamu kabur bersama geng HPK, kadang sendirian. Tergantung tingkat parahnya luka hati, jika kadarnya ringan kamu memilih pergi sendiri, jika berat kamu minta ditemani. Juga tergantung ada tidaknya yang bersamaan putus cinta. Tergantung jumlah uang di dompet. Tergantung masih berapa jatah bolosmu dari target kehadiran 75% untuk tiap mata kuliah.

Bandel. Iya. Untung Kuliahmu di luar kota, sehingga Emak Ayah tidak sempat pusing memikirkan anak perempuannya sering mangkir kuliah.

Untuk seseorang yang setiap satu semester biasanya berganti satu pacar, termasuk semester pendek, maka dalam setahun kamu akan mengalami minimal 3 kali putus cinta (Harap maklum. Ketika itu sedang masa pertumbuhan, maka kriteria pacar idaman ikut berubah sesuai fase pertumbuhan. Kini biasa disebut fase ababil).  Selama 3,5 tahun kuliah berarti sekitar 10 kali putus cinta. Kamu masih ingat nama-nama mereka? Aku sudah tidak hapal lagi nama-nama yang mematahkan hatimu, atau yang kamu buat patah hati.

Yang pasti, terimakasih atas setiap putus cinta yang kamu alami. Karenanya aku menginjakkan kaki di Way kambas, Bali, Toraja, Singkawang, Flores, Lombok, Alor, dan beberapa tempat unik lainnya. Bukan mainstream tempat wisata, namun ternyata menyimpan keindahan alam yang dashyat.

Tempat-tempat dimana kamu bisa duduk hening, mengucap syukur, mengagumi keindahan ciptaan Allah. Tempat dimana kamu bisa khusu’ memikirkan orang-orang yang kamu kasihi dan yang juga mengasihimu. Tempat dimana akhirnya kamu memiliki kekuatan untuk bangkit lagi melanjutkan hidup. Melupakan pacarmu yang minta putus karena menjadi remaja mesjid yang tidak mengenal kata pacaran. Melupakan pacarmu yang ternyata menghamili mantan kekasihnya. Melupakan pacarmu yang tidak punya visi-misi terhadap kehidupan. Melupakan pacarmu yang orangtuanya mempermasalahkan perbedaan suku. Atau hanya sekedar melupakan pacar-pacar yang ingin kamu lupakan karena mereka membosankan, hehe. Parah kamu. Ternyata macam-macam ya alasan putus cinta itu.

Aku ingat, ada kalanya kamu merasa letih menjadi mandiri, lalu berandai-andai menjadi malaikat. Bersayap. Katamu agar ketika patah hati bisa terbang kapanpun, kemanapun kamu suka. 

Aku bisa mengerti, untuk seorang anak rantau, jauh dari orang tua sebagai tempat mengadu, putus cinta mungkin masalah terberat. Masalah pelajaran kuliah bisa mudah diatasi dengan bertanya pada kakak-kakak angkatan. Masalah kiriman uang bulanan mandeg, masih bisa mengandalkan beasiswa dan gaji kerja sampingan. Tapi masalah cinta, kadang wanita keras kepala sepertimu juga butuh infus logika agar berhenti menangisi lelaki. Jika dekat Emak, mungkin kamu hanya butuh menangis di ketek Emak, lalu dibentak Emak agar berhenti menangis, lalu kamu akan lupa kalau sedang patah hati.

Kamu..

Pada akhirnya aku bangga, semua masa sulit telah menjadikanmu wanita yang lebih kuat. Melalui pacar-pacar yang singgah dalam hidupmu, banyak hal yang bisa dipetik, banyak pengetahuan yang bisa dikumpulkan. Menjadikan lebih bijaksana menyikapi hidup.

Tidak ada yang perlu disesali. Tanpa kehadiran mereka, mungkin kamu tidak akan pernah tahu rasanya melihat bedah mayat. Tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi navigator rally. Tidak tercemplung dalam bursa saham. Tidak akan pernah punya lisensi selam, melihat migrasi lumba-lumba. Tidak akan merasakan nyasar dalam susur gua yang airnya sebatas dada. Dan masih banyak lagi pengalaman hebat yang pernah kamu rasakan. Betapapun jeleknya akhir suatu hubungan, ternyata masih ada kebaikan yang berguna dan bisa dikenang. Benar kata kalimat bijak:

“Beberapa pelajaran hidup, terkadang didapat melalui rasa sakit.”

– – – – – –

Kamu..

Hari ini aku menulis untukmu. Seperempat abad sudah umurku. Terkadang aku merindukan saat-saat menjadi sepertimu. Bisa berpergian kapanpun aku ingin. Menjelma bebas seperti malaikat bersayap. Namun dalam setiap langkah hidup, akan muncul berbagai tanggungjawab baru. Terkadang pekerjaan membuatku tidak bisa kabur. Meski hati terasa begitu penat, luka terasa begitu perih. Tapi tak apa, mungkin ini juga salah satu pembelajaran hidup. Tidak lagi harus kabur untuk mengobati luka hati.

Kamu..

Setelah ini ritual ganti pacar setiap ganti semester harus kita hentikan. Insya Allah bulan Mei 2012 aku akan menikah. Doakan agar aku bisa menjadi istri dan (kelak) ibu yang baik. Bantu aku untuk mengikhlaskan semua masa lalu. Mungkin hingga kini masih ada luka-luka yang belum sembuh, masih ada hal-hal yang belum bisa kumaafkan. Tapi demi satu lagi proses pembelajaran hidup yang akan aku tempuh bulan Mei nanti, maka bantu aku mengikhlaskannya. Agar bersih hatiku kala memulai fase kehidupan yang baru.

Kamu…

Terima kasih.

Jikapun ada mesin waktu, aku tidak akan pernah berkeinginan merubah masa lalu. Yang bisa kulakukan adalah terus memperbaiki diri saat ini. Menjadi lebih baik bagi masa yang akan datang.

Bismillahirahman Nirrahim.

– – – – –

“Kalau sudah bagus diciptakan jadi manusia – mahluk paling sempurna, kenapa harus mengidentifikasi diri jadi malaikat? Itu degradasi.”  ~ @plut0saurus 310112

Ordinary people is ok, you don’t have to wear those wings. That stupid things. ~ Frente !

– – – – –

*Tulisan ini dibuat dalam rangka proyek menulis #ForYoungerMe

.

Advertisements

One thought on “Tidak perlu bersayap

  1. Pingback: [#ForYoungerMe] ~ Tidak Perlu Bersayap | 15 Hari Menulis Flash Fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s