Standard

hanya sebatas draft.

Berulang kutatap layar ponsel.

Draft: aku rindu. sungguh

Kuarahkan jari pada kolom kirim. Lalu kuurungkan. Kuarahkan lagi jariku pada kolom kirim. Lalu kuurungkan lagi.

Demikian kegiatan sia-sia yang terjadi sejak 10menit lalu. Aku rindu. Tapi tak kuasa kuucap padamu.

Adakah kau akan membaca pesan singkatku, lalu tersenyum dan membalasnya dengan ungkapan serupa rasa rinduku.

Adakah kau akan membaca pesan singkatku, lalu tersenyum, namun kau tutup saja ponselmu. Karena kita sudah sepakat tidak akan saling menghubungi lagi.

Adakah kau akan melihat namaku muncul di ponselmu, lalu langsung kau hapus tanpa berniat sedikitpun membaca pesan singkat dariku. Karena kamu tidak peduli lagi apapun ucapku.

Adakah ponselmu seperti ponselku, penuh terisi draft pesan singkat seputar cinta dan rindu padamu, namun tidak pernah terkirim?

Adakah.. Kau pernah merindukanku (lagi)? Sekali saja? Sebentar saja?

Adakah kamu…?

– – – – –

rindu, lalu aku mengucurkan airmata. seandainya tiap tetesnya mampu menyembuhkan luka. kamu baik-baiklah disana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s