Standard

cashless society

“Flazz atau Cash?”

Bagi kita yang tinggal di kota besar mungkin sering mendengar kalimat tanya tersebut. Ketika hendak membayar parkir, bayar makanan di restoran, nonton bioskop, beli bensin, dan beberapa tempat lainnya.

INTIMIDATIF !

Itu kesan pertama saya mendengar kalimat tanya tersebut. Siapa elo tanya-tanya gue mau pake flazz atau enggak. Namun lama-kelamaan saya mengaku KAGUM.

Pertama, Tagline tersebut sangat mudah diucapkan. Mudah dihapal. Berupa kata yang memiliki rima.

Kedua, Secara tidak langsung Tagline tersebut menjadi subliminal campaign, cuci otak terselubung (dalam arti positif) memposisikan flazz serupa dengan uang tunai. Cepat atau lambat, persepsi masyarakat akan terbentuk bahwa flazz adalah uang tunai. Bahwa sebuah kartu bisa menggantikan fungsi uang tunai.

Ketiga, Apapun hasil akhir yang hendak dicapai (misalnya murni bertujuan hanya untuk meraih keuntungan dari produk flazz tersebut), maka dari hati saya yang paling dalam, saya berani menyebutkan ini sebagai sumbangsih besar dalam pembentukan cashless society.

– – – –

Kita tahu uang tunai adalah bentuk alat tukar purba setelah barter. Jika butuh bertahun-tahun untuk merubah peradaban dari semula barter menjadi berbasis uang tunai, maka akan butuh bertahun-tahun juga untuk menggesernya menjadi berbasis uang non tunai.

Apa hebatnya dengan peradaban uang non tunai? Untuk saya yang orangnya pelupa dan cenderung careless, hal tersebut tentu memudahkan hidup. Sejatinya dompet saya seperti labirin, apapun yang pernah masuk kesana, sulit untuk keluar. Penuh sesak dengan nota dan slip tidak terpakai, dengan uang kertas yg diletakkan umpel-umpelan asal, dan koin terselip tidak teratur di beberapa kantongnya. Jika switching menjadi cashless society mungkin dompet saya akan lebih rapih karena tidak ada penghuni berupa uang kembalian yang umpel-umpelan, dengan pecahan tercampur-baur.

Karena careless, saya juga sering lupa mampir ATM untuk mengambil uang, jadi seringkali uang didompet saya mepet. Jika berbasis uang non tunai maka pada saat-saat genting tidak perlu menyempatkan diri mampir ke ATM untuk mengambil uang tunai. Transaksi apapun bisa dilakukan dengan hanya menggesek kartu. Praktis.

Bagi pengelola bisnis, basis uang non tunai juga akan lebih memudahkan proses rekonsiliasi akhir hari karena semua hasil usaha pada hari tersebut yang dibayar dengan sistem uang non tunai, akan otomatis masuk ke rekening. Tidak perlu mensortir dan menghitung fisik uang omzet usaha harian, terhindar dari risiko salah hitung atau bahkan penggelapan di kasir.

Bagi skala nasional, banyak sekali biaya yang bisa dihemat jika uang fisik yang harus dikelola semakin berkurang. Pernah ada yang menghitung berapa biaya + premi asuransi + sewa tim keamanan untuk pengangkutan uang kertas senilai 10milyar dari BI Jakarta ke suatu bank cabang Flores-NTB? Mahal. Bisa mencapai lebih dari 0,1%. Pemborosan. Namun kegiatan pengangkutan itu harus tetap dilakukan minimal seminggu sekali untuk menjaga ketersediaan fisik uang disuatu daerah. Jika masyarakat sudah terbiasa menggunakan kartu, maka proses pengangkutan fisik uang ini bisa dikurangi. Artinya, penghematan.

– – – – –

Ketika kecil saya sering kagum menonton film asing saat adegan mengisi bensin dan mereka hanya perlu menggesek kartu pada dispenser bensin.

Ketika saya tanya pada Ayah, saat itu saya hanya mendapat jawaban, “iya di luar negeri sudah biasa bayar pakai kartu.”

Kata kuncinya ‘sudah biasa’. Negara saya? Belum biasa. Bahkan bertahun-tahun kemudian, ketika saya bukan anak kecil lagi pun tetap ‘belum biasa’. Karena memang tidak ada yang merasa itu penting, bahkan pemerintahnya.

Bagi saya, adalah loncatan besar ketika KTP mulai menggunakan sistem e-KTP. Paspor mulai menggunakan e-paspor. Terdapat chip penyimpan data didalam e-KTP dan e-Paspor. Kartu kredit juga mulai menggunakan chip. Dan kartu prabayar seperti flazz mulai disatukan dengan kartu kredit. Loncatan yang patut diapresiasi.

Rasanya semakin dekat dengan impian saya, kelak punya KTP yang bisa digunakan juga untuk bayar tol, beli bensin, dan lain-lain.

Akhir kata. Semoga edukasi massa menjadi cashless society segera terwujud. Flazz atau cash? You are Awesome !

– – – –

penulis bukanlah karyawan dari institusi yang mengeluarkan produk flazz. Murni pengamat dan pengguna yang memimpikan satu kartu untuk berbagai kegunaan.

Advertisements

One thought on “cashless society

  1. hmmmmm

    baru ngerti sekarang tentang segi2 positif dan keuntungannya kalo cashless situation ini terwujud.

    meskipun cashless society ini nantinya hanya mencakup 10-20% dari negara ini (max) dan hanya terdapat di kota besar. Masih akan ada banyak orang yg ga akan siap sampe kapanpun dengan sistem ini.

    intinya selama kita hidup, kita akan masih tetap butuh uang tunai. tapi kita bisa berharap bahwa setidaknya cashless society ini (yg sekarang juga bisa dibilang udah ada kan, meski baru 1%) diperluas, sehingga makin banyak orang yg menggunakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s