Standard

Tumbal


Galuh dan Arnawama ~ II

– – – – – – –

“Kamu, Arnawama putra penguasa laut selatan?” Pungkasmu tajam.

Aku mengangguk pelan, tidak kuasa mengelak. Rahasia yang tertutup rapat selama 6 bulan mengenalmu, terkuak sudah dengan cara tidak menyenangkan.

Kita sedang berjalan di tepi parangkusumo, seperti biasa. Ombak besar tiba-tiba hadir kembali. Menyeret kita berdua. Naluri penyelamat muncul, merubahku menjadi pegasus. Kamu selamat, aku selamat. Tapi kali ini kamu tidak pingsan ketika kuselamatkan. Perubahan dari sosok manusia menjadi kuda bersayap terpapar jelas padamu.

Kamu memandangku penuh benci. “Kalian, bangsa penguasa laut. Kalianlah yang mengambil nyawa ayahku. Menjadikan beliau tumbal, demi keabadian. Aku benci kalian !”

Aku tersentak. Jadi inikah penyebab pandangan bencimu. Bukan karena jijik melihatku yang berubah jadi hewan. Tapi karena kamu pikir kami membunuh ayahmu, sengaja mengirim ombak untuk menyeret ayahmu ke palung, lalu kami berpesta atas jasadnya. Kami tidak serendah itu, wanitaku.

“Galuh, iya aku Arnawama putra penguasa laut selatan. Ya, ibundaku mungkin nampak abadi jika dibanding umur manusia biasa, begitupun umurku jika dibanding manusia biasa. Tapi kami tidak pernah mengambil satupun nyawa manusia yang kamu sebut ‘tumbal’. Aku tidak tahu darimana asal tradisi larung sesajen, tapi kami tidak pernah meminta apapun dari bangsa manusia. Kami tidak perlu nyawa kalian untuk menjadi abadi. Tuhan yang mencipta kami seperti ini. Cukup bagi kami ketika kalian menghargai bahwa bangsa kami juga ada, ditanah yang sama dengan yang kalian pijak. Kamu mengenal prinsip ke-Tuhanan. Dia lah yang menentukan siapa tetap hidup, atau mati. Bagi manusia, hewan, tumbuhan, bahkan bagi bangsa tak nampak seperti kami. Percayalah Galuh.”

Galuh tetap menyorotkan tatapan penuh benci. Menggelengkan kepala, tidak ingin menerima penjelasan. Mundur dan berlari pergi. Aku tidak mengejarmu, walau hatiku sangat ingin.

Biarlah waktu menjernihkan hatimu.

Semoga.

– – – –

..adakah waktu mendewasakan kita, kuharap masih ada hati bicara.. ~klaProject

Galuh dan Arnawama I, klik :
Gadis di Parangkusumo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s