Total eclipse of the heart*

Kapan terakhir kali kita bertemu? Tahun lalu, bulan lalu, minggu lalu? Aku tidak ingat.

Ketika kamu berkata pada Ibuku, “saya akan menikahi anak ibu, bolehkan?” Kapankah itu? Tahun lalu, bulan lalu, minggu lalu? Aku tidak ingat.

Dan waktu terus berlalu. Jam berganti. Hari berganti. Minggu berganti. Bulan berganti. Tahun berganti. Aku tidak peduli rotasi bumi, pun revolusi bumi. Aku hanya tahu, kamu tetap seperti pelabuhan bagi diri. Kemanapun aku pergi, ketika letih kamu akan kucari.

“Pergilah, lihatlah yang ingin dilihat. Rasakan yang ingin dirasa. Ketika penat, kamu tahu harus pulang kemana.” Katamu kala itu, ketika aku ingin pergi.

Dan aku selalu percaya katamu. Dan hati ini masih untukmu.

Hingga hari ini, kita berdiri berhadapan. Aku, memendam rindu ternyata. Berbinar melihatmu.

“Aku, tidak bisa bersamamu lagi. Maafkan.” Katamu. Pendek. Singkat. Sambil menundukkan pandang, tidak melihatku. Dan kamu berlalu, sebelum aku sempat berkata.

– – – –

Jarak dan waktu.

Dua besaran fisika, paling kejam yang pernah kutahu.

Mungkin kita masing-masing saling menjaga hati. Senantiasa menempatkan orang tersayang pada tempat istimewa.

Tapi ketika jarak dan waktu ikut ambil peranan, atas nama ‘ruang untuk dewasa dan bertumbuh’, akhirnya kita kehilangan orang – orang tercinta. Bukan karena hati yang berubah, tapi diri yang berubah, beradaptasi dengan lingkungan.

Serupa ikan yang akhirnya tumbuh kaki dan kehilangan sirip ketika berevolusi demi bertahan hidup di rawa-rawanya yang mengering. Mungkin hatinya masih tetap merasa ikan. Namun kerabat ikan yang masih menikmati rawa berair, tidak lagi melihatnya sama. Dan mereka tidak bisa lagi bersama.

Angin menyeruak. Kupeluk diriku yang berbalut celana pendek dan kaos tanpa lengan. Dingin, batinku.

Masih bisa kulihat tampak belakang dirimu kala meninggalkanku. Dalam janggut panjang yang kau pelihara sebulan ini. Juga peci, yang akhirnya kamu lepas karena rentan diterbangkan angin, memperlihatkan dahimu berwarna gelap, karena sujud-sujud panjangmu. Dan gamis yang berkibar (atau baju koko panjang, atau entahlah aku tak tahu namanya), memperlihatkan mata kakimu.

“Ya, mungkin kita berbeda.” Bisikku. Meninggalkan tempat kita tadi berdiri. Kemudian angin tidak berhembus sendiri. Hujan menemaninya. Meluruhkan air mata yang mengambang tertahan. “Ya, kita berubah. Ikhlaslah.”

– – – – –

Once upon a time I was falling in love. But now I’m only falling apart. There’s nothing I can do, total eclipse of a heart.

*air supply ~ total eclipse of a heart.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s