Malam di antara pohon kopi

Hari menunjukkan pukul 1. Aku merapatkan sarung, melawan dinginnya udara dini hari. Kulirik Mas Rahmat dan Mas Momo melakukan hal serupa. Kami berjalan mengendap-endap mengikuti langkah kaki Mas Momo. Nampaknya dia sudah sangat hapal dengan wilayah ini. Perkebunan Kopi milik PTPN ini luasnya sekitar 300 hektar. Menghampar di ketinggian 2500 meter diatas permukaan laut. Desa kami terletak di pinggiran Perkebunan, di bawah kaki gunung Ungaran.

Mas Momo menyalakan senternya sebentar, aku juga mengikutinya menyalakan senter. Sekilas nampak bangunan serupa gudang. Mas Momo mematikan senternya, aku pun mematikan senter. Mas Momo memberi kode pada kami untuk mengikuti. Kami tiba di depan pintu bangunan tersebut, ternyata benar gudang. Sebentuk gembok menempel di sana, tapi tidak terkunci. Mas Momo dengan cekatan membukanya. Kami masuk ke gudang dengan mengendap-endap. Aroma kopi menyeruak, menyenangkan, nyaris memabukkan malah. Pada satu pojokan, Mas Momo berhenti. Dia membuka ranselnya. Dari dalam ransel dikeluarkan termos berisi air panas. Aku dan Mas Rahmat berpandang-pandangan penasaran dengan hal yang akan dilakukan Mas Momo. Dengan tenang Mas Momo mendekati salah satu kotak penyimpanan, membuka tutupnya dan menuangkan beberapa sendok kopi ke dalam termosnya. Aku tertawa tertahan, tidak menyangka jauh-jauh dan mengendap-endap begini, ternyata hanya untuk setermos kopi. Mas Momo memberi kode agar aku diam. Selesai dengan pekerjaannya, kami kembali mengendap-endap keluar dari Gudang.

Mas Momo membawa kami pada satu tempat tertinggi di Perkebunan itu. Angin dini hari semakin menusuk tulang, ngilu. Kembali Mas Momo membuka ranselnya. Kurasa itu semacam jelmaan kantong doraemon. Digelarnya matras yang dibawa di ranselnya, lalu kami duduk disana, dipinggir tebing. Dibawah kami berkelebat pohon kopi dan jati ditiup angin. Mas Momo dengan sigap mengambil gelas-gelas kaleng yang sudah disiapkannya. Lalu menuangkan kopi di termos ke gelas-gelas tersebut.

“Minum kopi itu, yang paling enak ya begini ini. Kopi dari gudang yang belum masuk kemasan, aromanya lebih nikmat.” Aku mengangguk-angguk tanda setuju. Hangatnya kopi di gelas menghangatkan juga tangan dan tubuhku, Kusesap kopi perlahan. Mas Momo merogoh kembali ranselnya. Aku penasaran, apalagi kejutan dari dalam ransel ajaib itu. Tangannya mengeluarkan segumpal kertas, aroma jahe keluar dari gumpalan itu. “Ini aku bawa jahe bakar. Aku kupas dulu, lalu tambahkan di kopi kalian, lebih nikmat.” Aku dan Mas Rahmat mengangguk-angguk, terkesima melihat semua persiapan yang dibawanya.

Kopi jahe segar hangat, kami sesap bersama. Kami duduk hening menikmati pemandangan dalam gelap. Sekilas aku melupakan kekhawatiranku. Seharusnya aku dan Mas Rahmat ada disekolah, Kemping pramuka, tidur di ruang-ruang kelas yang meja kursinya sudah dipinggirkan sehingga memberi ruang luas di tengah untuk tempat kami tidur.

Pukul 10 malam, setelah melakukan kegiatan api unggun dan pentas kelompok, murid-murid dipersilahkan tidur. Anak perempuan dan laki-laki tidur terpisah. Guru di sekolah kami ada 4 orang, SD kami memang kekurangan guru. Semua guru berjaga-jaga didepan ruang tidur sekaligus menegur murid-murid yang masih terdengar bercengkrama. Setengah jam kemudian semua nampaknya sudah pulas. Tidak terdengar lagi celoteh 25 murid lelaki dan 13 murid perempuan, gabungan murid kelas 4, 5, dan 6 – peserta kemping ini.

Aku masih gelisah, tidak biasa tidur di tempat asing. Ini pengalaman kemping pertamaku. Kulihat Mas Rahmat, kakakku sudah tertidur. Aku kelas 4, dia kelas 5. Dia sudah pernah mengikuti kemping ini tahun lalu, mungkin itu sebabnya dia lebih mudah tertidur. Lalu kurasakan kakiku ditendang-tendang. Ternyata Mas Momo, penjaga sekolah kami. Mas momo kelas 2 SMP, ketiadaan biaya membuatnya berkerja sampingan membersihkan SD kami sepulang sekolah. Dia termasuk yang antusias ada kemping di sekolah kami, padahal kurasa di sekolahnya acara semacam ini pasti lebih seru, dilakukan di alam terbuka bukan di halaman sekolah.

Tadi Mas Momo berbisik mengajakku keluar dari ruang tidur. Mas Rahmat yang ternyata belum pulas ikut terbangun dan mengikuti kami. Tidak ada guru yang melihat kami keluar, mungkin mereka juga tertidur. Dan di sinilah kami berada. Berjarak 15 menit jalan kaki dari sekolahan kami.

Angin semakin dingin, kopi di gelas ku tinggal sedikit. Aku ingin kembali ke sekolah. Merasa bersalah kabur dari sekolah, juga karena minum kopi curian. Mas Momo menahanku. “Sebentar, aku ingin melihat sesuatu.” Dua menit kami berdiam diri, tidak bercakap-cakap sesuai permintaan Mas Momo. Tak lama terdengar suara gemerisik diantara dedaunan, Mas Momo menyalakan senternya mengarahkan pada suara gemerisik. Aku mengikuti gerakannya, menyalakan senter. Terlihat kawanan luwak memanjati pohon-pohon kopi dibawah kami. 10 Tahun aku hidup di desa ini. Memasuki areal perkebunan adalah hal yang sangat jarang dilakukan. Hanya setahun sekali, ketika PTPN berulang tahun, maka perkebunan ini akan mengadakan acara pembagian beras di parkiran kantor mereka. Selain dari hari itu, hanya karyawan yang boleh masuk. Oleh karenanya, pengalaman duduk malam-malam diantara pohon kopi, melihat sekawanan luwak menggigiti biji-biji kopi, adalah hiburan menakjubkan bagi kami. Rasanya tidak sabar ingin segera menceritakan pada Satria dan Dodoy. Ah mereka pasti sedang tertidur pulas saat ini, pikirku.

Mas Momo berdiri, kami mengikuti. Dikemasinya matras dan gelas-gelas yang tadi kami gunakan. Dia memberi kode untuk berjalan pulang. Kami mengendap-endap, takut terlihat penjaga juga takut mengganggu pesta para luwak.

Suara berisik mengagetkan di atas kami. Cahaya terang berkelebat, langit mendadak terang, kulihat kawanan luwak berlarian ketakutan. Aku menggenggam tangan Mas Momo, kaget mendengar suara demikian keras. Kulihat cahaya tersebut menukik cepat menuju desa. Tak lama kudengar suara ledakan keras dan kobaran api.

“Desa kita.” Teriak Mas Momo. Kami berlarian dengan cepat. Mendekati pintu gerbang perkebunan, kulihat banyak pegawai perkebunan yang terbangun dan berlarian ke bawah menuju desa. Terasa sangat jauh jarak dari perkebunan itu ke desa. Lima menit kami berlarian tiada henti. Bersama pegawai perkebunan menerobos pohon-pohon kopi, mencari rute terdekat menuju desa. Tidak sempat terpikirkan di benak mereka bahwa ada tiga anak kecil menyelundup masuk ke perkebunan. Di pinggir desa keadaan sudah hiruk-pikuk. Kulihat orang-orang berlarian. Kentongan bunyi bertalu-talu. Pemuda-pemuda desa membawa air dalam ember-ember.

Nafasku membeku. Belum dapat kupahami keadaan ini. Aku hanya teringat Ibu dan Ayah, ingin segera bertemu mereka. Aku, Mas Momo, dan Mas Rahmat terus berlarian mengikuti arus orang-orang. Nafasku kembali membeku ketika kudapati kerumunan itu berhenti di tempat yang sangat kukenal. Sekolahku.

Api berkobar besar di sekolahku. Dalam pemahaman terbatas yang kumiliki saat itu, aku hanya mampu menangis memanggil-manggil Ibu dan ayah. Kulihat orangtua teman-temanku menangis meraung memanggil nama anak mereka, nama teman-temanku. Para bapak berusaha masuk ke tempat yang belum terjamah api, berharap menemukan orang-orang yang mereka cintai. Airmata karena asap tebal dan airmata karena sedih bercampur menjadi satu. Kepalaku pening melihat semua pemandangan itu. Aku terjatuh, pingsan.

Esok hari aku terbangun di ruang berwarna putih. Tanganku dilingkari selang infus. Rumah Sakit Kotamadya ternyata. Kulihat wajah Ibu, Ayah dan Mas Rahmat. Terasa lega orang-orang terdekatku semua selamat.

Dari Ayah kudengar cerita bahwa sebuah pesawat penumpang jatuh diatas sekolah kami. Murid-murid sempat terbangun mendengar suara berisik, mereka berlarian keluar dari halaman sekolah. Tapi tidak cukup cepat untuk menghindar dari pesawat besar yang tiba-tiba jatuh. Sekolah kami hancur. 38 murid, 4 guru, dan 120 penumpang termasuk kru pesawat, tewas seketika.

Aku tergugu mendengar cerita ayah. Tidak dapat membayangkan sekolah kami menjadi kuburan massal. Tidak dapat membayangkan bagaimana besok aku akan bermain jika teman-temanku sudah tidak ada lagi. Aku sungguh tidak dapat menangkap semua yang berkelebatan.

“Kamu diberkati Allah. Masih diselamatkan olehNya. Meskipun caramu menerobos perkebunan tidaklah terpuji, Bapak berbaik sangka, mungkin itu jalan Allah menyelamatkanmu dan Mas Rahmat.”

“Mas Momo bagaimana Pak?”

“Momo, penjaga sekolah? Kemarin jenazahnya juga ditemukan. Di dalam kelas, diantara puing-puing pesawat. Sepertinya dia termasuk yang tidak sempat menyelamatkan diri keluar dari ruang kelas.”

“Tapi Pak, Aku ke perkebunan dengan Mas Momo. Kami minum kopi yang diambil Mas Momo dari gudang. Bahkan dia juga membawa jahe bakar untuk kopi. kami juga melihat kawanan luwak. Mestinya dia selamat, sama sepertiku. Kami bersama berlarian dari bukit menuju desa. Bagaimana mungkin Mas Momo meninggal di kelas?” Aku berkata bingung. Menatap wajah Mas Rahmat, meminta dukungannya. Ayah juga menatap Mas Rahmat minta penjelasan.

“Kita cuma berdua, Ji.” Jawab Mas Rahmat membuatku bingung. “Aku bangun karena kamu tendang-tendang kakiku. Lalu aku ikuti kamu, berjalan menuju perkebunan. Aku pingin tanya tapi kamu serius tenan. Kamu hapal semua liku-liku perkebunan itu. Termasuk tempat penyimpanan kopi. Malah kamu sudah bawa termos dan alas duduk di ranselmu. Aku kaget lihat kesiapan dan isi ranselmu. Tapi karena kamu sibuk bersenandung sendiri, kubiarkan saja kamu menikmati pemandangan dari tebing itu. Dan juga luwak-luwak itu, kamu yang memberitahuku untuk diam dan mengikuti arah sentermu. Kamu hebat sekali Ji, bisa tahu tempat luwak biasa muncul.” Mas Rahmat menceritakan pengalaman kami dengan bersemangat. Kepalaku semakin pusing karena tidak satupun ceritanya yang menyentuh kata ‘Mas Momo’.

Lalu kudengar suara berisik dari luar. Rombongan orang-orang penting masuk ke kamarku. Terlihat dari Pakaian Safari yang mereka kenakan dan kamera televisi yang mengikuti mereka. Ayahku berbisik, katanya itu Bapak Menteri Perhubungan. Menteri yang bertanggungjawab bila ada kecelakaan pesawat semacam ini.

“Ini dia Pak, dua anak yang selamat dari kecelakaan itu. Ini Rahmat kakaknya, ini Aji adiknya. Ini kedua orangtuanya.” Kulihat ketua RT kami memperkenalkan keluarga kami kepada orang yang disebut sebagai ‘Pak Menteri.’ Pak menteri lalu menjabat tangan ayahku dan tersenyum.

“Nak Aji, Nak Rahmat, Bapak minta maaf atas kesulitan yang menimpa kalian. Adalah keajaiban bahwa kalian berdua adalah peserta kemping yang selamat. Keajaiban Tuhan. Jika Bapak boleh mengabulkan permintaan kalian, tolong beritahu Bapak apa permintaan kalian yang bisa bapak penuhi?” Pak menteri tersenyum manis. Tapi aku benci padanya. Dia menyebabkan teman-temanku meninggal. Aku juga benci pada orang-orang berkamera ini. Mereka terus merekam, meski melihat kami sedang berduka.

“Bapak harus bangun kembali sekolah kami, di lokasi yang baru. Lokasi lama dijadikan tugu peringatan saja. Dan ingat Pak, sekolah kami harus gratis. Apalagi untuk kakak atau adik yang saudaranya menjadi korban.” Aku berteriak kepada Pak Mentri dengan keras. Orang-orang berkamera tersenyum melihat polahku, dan mereka tetap merekam.

“Ya, apalagi Aji?”

“Itu saja Pak. Bahkan jika Bapak memberi kami seluruh isi dunia, tetap saja teman-teman saya tidak bisa kembali. Bapak kerja saja yang benar, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi” Jawabku mereda sambil menitikkan air mata.

Bapak menteri kulihat juga perlahan membasuh sudut matanya yang basah.

– – –

Berita tentang aku masuk tivi dan berteriak pada Pak Menteri, menyebar dengan cepat. Televisi menayangkan adegan percakapanku dengan Pak Mentri. Sumbangan dan ucapan belasungkawa pun berdatangan ke desa kami. Desa yang terpencil, dimana listrik baru masuk di rumah-rumah saja. Tidak ada penerangan di jalan-jalan pada malam hari. Setiap kali aku bertemu warga desa, mereka akan berucap “Hebat Aji, berani bicara pada Pak Mentri.”

Warga desa kami bukan satu-satunya pihak yang bersedih. Selang beberapa hari, keluarga para penumpang pesawat mulai berdatangan. Ingin melihat lokasi kecelakaan dan jenazah keluarga mereka. Akses menuju desa kami memang sulit. Jalanan desa sudah lama tidak diaspal. Proses membawa jenazah keluar desa ikut terhambat. Desa kami penuh duka.

Seminggu setelah kejadian, sekolah masih libur. Proses pembersihan dan pencarian korban dianggap sudah selesai. Gedung sekolah kami dihancurkan. Perlahan dibangun sebuah prasasti di sisa-sisa reruntuhan bangunan. Di sisi lain desa, dibangun gedung sekolah kami yang baru. Konon memang sengaja diletakkan jauh dari lokasi sekolah lama, untuk menghindarkan perasaan trauma anak-anak yang akan bersekolah. Jalanan menuju desa kami mulai di perlebar dan diaspal. Listrik desa pun mulai mencukupi untuk menerangi jalan – jalan. Sementara kami bersekolah di depan Rumah Pak RT, memakai tenda. Guru-guru didatangkan dari Kota. Kali ini jumlahnya tidak hanya 4, Ada 12 guru yang mengajar kami saat ini. Rasanya senang, karena kami diperhatikan lebih ketimbang dulu. Ketika hanya ada 4 guru, satu guru bisa mengajar di dua atau tiga kelas sekaligus.

– – –

Aku menghela nafas di depan prasasti. Mengenang kejadian 25 tahun lalu. Perkebunan kopi PTPN masih ada. Prasasti untuk mengenang kejadiaan naas itu juga masih ada. Warga desa masih menaburkan bunga di prasasti setahun sekali setiap tanggal kecelakaan itu terjadi, seperti yang kulakukan saat ini. Setelah kuliah di luar kota, aku kembali ke desa ini. Bekerja di perkebunan kopi.

Malam – malam sesudah kecelakaan itu, aku kerap bermimpi tentang Mas Momo. Dia selalu tersenyum dalam mimpiku. Masih tidak dapat kurangkaikan peristiwa antara aku, Mas Momo dan Mas Rahmat. Kejadian itu masih misteri. Yang aku tahu, setelah kejadian itu nama Mas Momo selalu terangkai dalam doaku.

Setelah itu, aku pun tidak tahu harus membenci atau mencintai kopi. Belakangan kusesap kopi setiap pagi. Aku selamat karena kopi, tapi kopi selalu membawaku pada kenangan buruk yang masih sulit dilupakan.

Teman-temanku, semoga bahagia kalian disana. Amiin.


“Black as the devil, hot as hell, pure as an angel, sweet as love; Coffee” ~ Charles Maurice de Talleyrand

Advertisements

One thought on “Malam di antara pohon kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s