Standard

SAH !

Aku pulang kampung lagi. 1,5 tahun lalu aku pulang kampung. Bukan karena tidak cinta Emak-Bapak, tapi karena aku tidak tahu harus menjawab apa setiap ditanya “kapan menikah.” Dan merasa jenggah tiap Emak mempromosikan si A,B,C yang diharapnya bisa dijodohkan denganku.

Emak tidak menjemputku di bandara. Dengan taksi tidak berargo aku mengelilingi pabrik dan perkebunan Bapak, sebelum menuju rumah. Ritual untuk menghilangkan rasa bersalah karena membiarkan Bapak mengurus sendiri aset ini. Padahal dari pabrik dan kebun ini aku bisa bersekolah dengan layak.

Dalam perjalanan, mataku tertumbuk pada saung di salah satu kebun karet Bapak. Saung 5×5 meter itu dipenuhi anak usia SD. Kuminta taksi berhenti. Aku mendekati saung itu.

Belasan anak SD sedang belajar bersama. Tampaknya Bahasa Inggris. Salah satu anak mengenaliku, dan berteriak. “Kak Joniiiiiii.” Serentak seisi saung menengok kearahku.

Aku tersenyum melambaikan tangan pada mereka. Lalu munculah dia, wanita cantik berjilbab, dari kerumunan anak-anak itu. Kami saling menatap tidak percaya.

“Vio”
“Mas Joni..”
“Kamu kenapa disini Vio?”
“Aku ikut program sukarela Indonesia mengajar. Mas Joni?”
“Ceritanya panjang Vio…”

Takdir mempertemukan kami kembali. Vio, terlihat lebih dewasa dan anggun dalam balutan hijabnya. Aku merasa ada senandung simfoni dalam hati, memutar ulang kenangan kebersamaan ku dengan Vio. Cukup indah. Hatiku bergetar. “Tuhan, Aku ingin dia.” Doaku spontan saat itu juga.

– – – –

“Sah?”
“SAH!” Hadirin menjawab.
“Alhamdulillah…”

Demikianlah, akhirnya aku Joni si penakluk memulai kisah cinta sesungguhnya. Menikahi wanita yang dulu pernah kuusahakan mati-matian bisa mencintainya.

Takdir Tuhan menggariskan kami bertemu lagi. Tidak perlu kucari, cinta itu hadir sendiri. Mungkin memang dulu waktunya belum tepat.

Melihat Vio disaung itu, dikelilingi anak-anak, dan Vio tetap tersenyum sabar menghadapi mereka, adalah sebuah moment of truth. Hatiku saat itu berkata, “Ya, kamu yang kumau untuk jadi istriku, ibu dari anak-anak kita kelak.”

Aku peluk mempelaiku bahagia. Akan kami teruskan usaha Bapak disini. Vio, wanitaku yang berhati cantik bersedia tinggal dipedalaman ini. Ingin menjadi guru saja, katanya. Aku bisa membayangkan anak-anak kami kelak berlarian diantara kebun karet. Jauh dari hirukpikuk dan macetnya Jakarta.

SAH !
Kucium bibir istriku, Vio.

Advertisements

3 thoughts on “SAH !

  1. Baguuuuus, suka :p
    Sebenarnya kedua cerita ini kombinasi yg bagus.
    jadi waktu aku baca yg bagian pertama doang (yg ini belom ada),
    rasanya sedih banget, trus tiba2 bagian kedua muncul,
    dan jadi happy ending ๐Ÿ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s