Standard

Menikahlah denganku

Jumat malam, hari terakhir magang. Kami meluangkan waktu makan malam bersama. Kata Mas Joni, untuk merayakan kelulusan magangku.

Aku memandang wajah lelaki di depanku. Cukup lama hingga membuatnya jenggah.

“Hoiiiii, kenapa Vio. Pandangi muka abang sedemikian hingga, macam tak ada hari esok saja.” Godanya, melihatku sekilas lalu menyeruput minum. Ya, tiga bulan kami berpacaran, kusadari dia tidak pernah berlama-lama memandangku. Ketika ngobrol, seringkali kami duduk bersisian dengan pandangan masing-masing melihat ke depan.

“Mas Joni, Kamu pernah merasa capek menjalani hubungan ini?” Tanyaku pelan. Dia mendadak tersedak.

“Kenapa Vio, Kamu capek menjalani hubungan ini? Aku kurang baik ya sama kamu?”

“Bukan, Aku tahu Mas Joni berusaha sekuat tenaga mempertahankan hubungan ini. Tapi aku tahu Mas Joni tidak nyaman. Mas Joni bertahan karena ingin memenuhi komitmen. Tapi aku bisa merasakan dibalik kebaikan ini, Mas Joni menjalaninya dalam keadaan autopilot. Seperti melakukan sesuatu sesuai manual, mekanis, sudah terjadwal, sudah dihapal. Tidak ada letupan emosi. Tidak ada drama-drama yang mempererat hubungan kita. Hanya satu hubungan dimana Sang pria mengesampingkan egonya, berbuat sangat baik kepada wanitanya, demi tujuan apa yang aku tidak tahu. Bukan begitu mas?”

Mas Joni menghela nafas panjang. Dia menatap mataku lama (akhirnya).

“Vio, kamu baik, kamu cantik. Aku tertarik padamu. Tapi ternyata hanya sebatas itu. Setelah kamu setuju menjadi pacarku, getar-getar penasaran itu hilang. Aku tetap berusaha setiap hari menumbuhkan cinta, berusaha mengenalmu. Bersamamu aku sungguh-sungguh ingin memulai hubungan yang baik, berbeda dengan hubungan-hubunganku sebelumnya. Kalau menurutmu usahaku belum cukup, aku mohon maaf. Aku yang bermasalah. Tadinya aku berpikir, dengan mencoba serius pacaran denganmu, akan mengobati masalahku. Membuka pintu hatiku. Tapi ternyata hubungan ini hanya membuat kamu tidak nyaman. Maafkan.”

“Kita sudahi saja ya Mas? Demi kebaikan kita bersama.”

“Vio, beri aku waktu sebentar lagi. Mungkin tambahan waktu bisa membuat aku menumbuhkan getaran yang kamu maksud.”

“Aku rasa tidak mas, Cinta tidak bisa dipaksakan. Kalau memang dari awal sudah tidak ada cinta, lebih baik kita sudahi. Jalan kita masih panjang. Jangan memaksakan hubungan yang basi, padahal mungkin di luar sana ada jodoh kita yang sesungguhnya. Masih sangat mungkin kelak kita bertemu lagi dalam situasi berbeda. Situasi yang memungkinkan kita saling jatuh cinta. Bukan hanya ketertarikan fisik yang sementara.”

Mas Joni terdiam lama, menerawang. “Vio, ternyata kamu lebih dewasa dari yang kukira. Tadinya aku menganggapmu seorang anak magang, labil, manja, minta selalu diperhatikan. Hari ini aku melihat sisimu yang berbeda.”

“Tapi tetap tidak bisa menggetarkan hati Mas Joni kaaannn..” Godaku.

Mas Joni hanya mengusap kepalaku pelan. Ya, mungkin baginya aku hanya seperti adik. Bukan wanita yang diharapkannya bisa bersama mengarungi hidup.

Tersimpan dalam mimpiku, kelak dia akan berkata, “Menikahlah denganku.” Kurasa harus kupendam mimpi itu.

Aku memeluk Mas Joni erat dari boncengan motornya. Malam ini terakhir aku bisa memeluknya. Aku menangis. Sedih. Andai dia tahu aku sangat mencintainya.

“Some of us think holding on makes us strong, but sometimes it is letting go.” — Herman Hesse

Advertisements

2 thoughts on “Menikahlah denganku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s