Standard

Ini Bukan Judul Terakhir

Berapa lama umumnya yang dibutuhkan seseorang untuk move on? Sehari, dua hari, sebulan, setahun? Berkali-kali aku membolak-balik Primbon Joni si Penakluk, tidak ada satupun catatan dalam Primbon tersebut yang memaparkan cara move on dan mengobati luka hati akibat kasih tak sampai. Kecuali sebuah catatan kecil yang berbunyi bahwa ‘waktu akan membantu menyembuhkan luka’, dan ‘kehadiran orang baru akan membantu melupakan yang lama’. Hanya demikian.

Aku belum pernah patah hati, itu sebabnya tidak ada manual patah hati di primbonku. Yudita, Vita, Ellea, Anja, Fanny, dan lainnya, tidak satupun yang meninggalkan perasaan mendalam, tidak ada yang sempat meninggalkan bekas luka. Aku tidak pernah ambil pusing jika ditolak, tidak ikutan trend ‘galau’ jika diputuskan. Mudah bagiku membuka hati kembali pasca putus, walau hanya berselang satu hari. Ya, batas waktuku untuk move on, dulu hanya satu hari!

Tapi sejak menetapkan hati ingin bersama Tasya (dan tak sampai), rasanya masih sulit menerima kenyataan bahwa Tasya tidak akan bisa dimiliki. Dan yang lebih menyebalkan lagi, mendadak aku sering teringat Cinda. Kadang aku berfikir, Jika Cinda masih ada mungkin aku hanya akan mengenal Cinda sepanjang hidupku. Cinda yang lucu, memahamiku apa adanya. Aku rindu Cinda. Kukunjungi makamnya minggu lalu. Berkeluhkesah di nisannya bahwa aku ditinggal nikah. Hehe konyol, seorang Joni ternyata bisa patah hati.

Hari ini seorang anak magang datang lagi. Vio namanya. Aku tidak tertarik, sungguh. Hingga tak sengaja kulihat segelas sari tebu di kubikelnya. Ah Cinda. Tebu selalu mengingatkanku pada Cinda. Segelas tebu mendorongku menyodorkan tangan padanya. Lengkap dengan semua atribut centil Joni si penakluk anak magang unyu. “Kita coba. Semoga dia rebound girlku.” Pikirku dalam hati.

Dan sesuai prosedur standar Joni dalam penaklukan, kuajak dia makan siang, chat messenger, pulang kantor bersama, dan janjian nonton. Biasanya saja, semua mengalir. Dia lucu. Seperti Cinda. Terlebih lagi, dia bercerita tentang niatnya berjilbab. Ah Tasya, mungkin Vio kelak bisa menggantikanmu di hatiku.

Hingga beberapa hari kemudian, Vio mendadak tidak menjawab chat ku, tidak bisa ditemui, dan terakhir dia marah-marah. Nampaknya dia tahu kisah-kisah penaklukkanku. Aku berencana mengakui sejarah penaklukan yang pernah kulakukan, tapi tidak secepat ini. Acara nonton kami yang semestinya hari Jumat, batal. Jumat, sabtu, minggu, kuhabiskan hari untuk berfikir. Apa yang sebenarnya kuinginkan. Apakah ini hanya akan menjadi kisah penaklukan seperti biasanya.

Akhirnya hati kecilku menyadari, hingga kapanpun tidak akan pernah ada wanita yang benar sempurna. Mungkin Cinda dan Tasya juga memiliki banyak kekurangan. Tapi bedanya, hatiku bersedia menerima mereka. Mungkin untuk Vio, aku juga bisa berusaha begitu. Mencoba menerima Vio apa adanya, mencintai dia dengan sesungguhnya. Tidak hanya sebagai rebound girl. I’ll love her at her worst*.

Senin pagi, kuputuskan mampir membeli bunga untuk Vio. Sebuah permintaan maaf dan pernyataan cinta sudah kurangkai. Aku tidak tahu apa tanggapannya kelak. Setidaknya aku sudah mencoba. Jika cerita aku dan Vio adalah sekuel Flash fiction, semoga ini bukan judul terakhir.

– – – – –

Inspired by: @minky_monster . Another Point of view blog minky_monster

*Love you at your worst. Song by @endydaniyanto @thehermes
soundcloud

Advertisements

3 thoughts on “Ini Bukan Judul Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s