Standard

Puncak Ngapulu

Kami berada di ketinggian 5000 meter diatas permukaan laut. Penduduk lokal biasa menamai tempat ini sebagai Bukit Getser. Kadang juga mereka menyebutnya sebagai Gunung Jaya atau Gunung Ngapulu. Ya, salah satu tempat tertinggi di Indonesia, tertutupi salju. Tersembunyi, terpencil diantara fasilitas pertambangan Freeport. Tidak ada orang luar yang bisa mendekat ke fasilitas kami, termasuk karyawan dan petinggi Freeport. Kami eksklusif.

Pusat rekayasa genetika bibit pangan. Demikian nama kami jika diterjemahkan. Kelak kalian mengenalnya sebagai Doomsday seeds vault. Aku, satu-satunya peneliti dari Indonesia. Tempat ini tertutup, tidak terlacak radar. Kabarnya berada di bawah naungan Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Dari luar hanya terlihat seperti tumpukan batu di dekat gua, namun didalamnya adalah pusat penelitian mutakhir. Banyak orang mengira fasilitas ini terletak di salah satu kepulauan di Norwegia, dekat Kutub Utara. Mereka salah, terjebak rumor yang ditiupkan agar fasilitas ini tidak diketahui keberadaannya.

Kenapa bibit pangan? Sudah selesaikah penelitian rekayasa genetika manusia? Kami tidak tahu tentang itu. Yang kami tahu, otak kami senantiasa dicekoki bahwa penguasa dunia adalah mereka yang bisa mengendalikan rantai makanan dan energi minyak.

Kami mengawetkan semua jenis benih di planet ini. Kami mampu menentukan urutan gen dalam setiap bibit, sehingga kami mampu memodifikasi sifat – sifat yang kami harapkan muncul dari suatu bibit. Kami membuat berbagai temuan bibit hebat bagi kemajuan pertanian dan perkebunan dunia. Jika dulu bibit padimu hanya mampu menghidupi 10 orang dalam sekali panen, maka pakailah bibit temuanku, kamu akan mampu menghasilkan beras untuk 1000 orang. Jika dulu kamu harus menggunakan banyak pestisida agar jagungmu tidak digerogoti serangga, maka pakailah bibit temuanku, jagungmu akan menjadi jagung organik sehat yang tidak digerogoti hama, juga tidak memakai pestisida. Masih banyak lagi temuan lain yang bagiku adalah berkah bagi dunia. Aku bangga berada di sini. Memberikan sumbangsihku bagi umat manusia, meskipun kiprah kami tidak mereka diketahui.

Malam semakin larut di Ngapulu, besok jadwalku cuti bekerja. Setiap bulan kami mendapat libur lima hari. Kebijakan pusat penelitian ini memperbolehkan kami berlibur kemanapun yang kami suka, bahkan ujung dunia. Tentu dengan pengawasan ketat. Setiap aku berlibur beberapa penjaga akan menemani dari jauh. Aku dikelilingi wanita atau orang-orang lain yang bisa kuajak bersenang-senang, tapi hanya sebatas itu. Tidak ada ruang dan waktu untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya pribadi, termasuk pekerjaanku. Nampaknya keberadaan penelitian kami memiliki potensi sangat besar, sehingga sangat dijaga kerahasiaannya. Bagiku itu tidak masalah, selain bahwa mereka membayarku sangat mahal, juga karena tidak ada siapapun di dunia ini yang bisa kuajak berbagi. Aku sebatang kara. Orangtuaku berasal dari Indonesia yang mendapat lotere greencard di Amerika. Ketika aku berusia 10 tahun, mereka terbunuh oleh kelompok bawah tanah yang menentang masuknya orang-orang Asia ke Amerika. Karena isu Ras tersebut, aku ditetapkan sebagai anak negara. Sejak saat itu hidup dan pendidikanku didukung penuh oleh Amerika. Mungkin demikian cara Amerika menunjukkan belasungkawa.

Aku berjalan menyusuri ruang penelitian menuju paviliunku. Sebuah ruang kulihat terbuka, secara naluri aku hendak menutup pintu tersebut. Sepertinya ada suatu kebijakan di sini, tidak ada satu pintu yang dibiasakan terbuka tanpa penjagaan. Sampai mataku tetiba menangkap peta terpampang di layar, berhenti di tanda panah pada wilayah Sumatera Utara. Sebuah artikel tentang krisis pangan India akibat gagal panen, tersebar di meja.

India adalah salah satu proyek percontohan penggunaan bibit kami. Kami menyebutnya Revolusi hijau. Evaluasi tiap fase tidak pernah menunjukkan adanya kegagalan rekayasa genetis. Tapi artikel di tanganku berkata lain, kubaca sekilas dan aku mengendap keluar. Mungkin CCTV menangkap gambarku memasuki ruangan ini, aku hanya berharap petugas akan mempercayai ketika kubilang aku hanya ingin menutup pintu.

Otakku berputar penuh tanya. Merasa tidak terima apabila dunia menganggap krisis pangan India adalah kesalahan rekayasa genetis. Padi adalah spesialisasiku, padi yang ditanam di India adalah hasil karyaku. Bagaimana mungkin, aku sebagai pengembang tidak pernah diberi tahu tentang kegagalan ini. Aku tidak tahu harus bertanya pada siapa. Selain tidak memungkinkan kami berkomunikasi dengan pihak luar, fasilitas ini juga sangat membatasi komunikasi antar pegawainya. Aku hanya tahu Mr. George adalah direktur pusat penelitian ini, George who?

Aku berbelok ke Paviliun Raam, peneliti India yang tinggal disebelahku. Raam juga anak negara sebatang kara yang disekolahkan Amerika. Selintas kupikir, mungkin itu adalah kriteria rekruitmen kami, harus sebatang kara.

Raam sedang mandi, kunyalakan Playstation di Kamarnya. Ide melintas, kurasa PS adalah satu-satu cara meninggalkan pesan yang tidak langsung terlacak, karena tidak bersifat online. Kumainkan salah satu game, pada pencatatan nama untuk rekor tertinggi, ku isi: Krisis India, pernah dengar?

Tidak berapa lama, Raam selesai mandi dan bergabung bermain bersamaku. Selintas CCTV akan menangkap kegiatan kami bermain bersama, tidak bercakap-cakap apapun kecuali tentang permainan kami. Namun kami berbicara lewat papan skor. Cara bodoh, namun terkadang jika kamu berada di tempat tercanggih, melakukan hal yang terlihat bodoh dan sederhana justru adalah hal yang tidak terpikirkan orang lain.

Aku tidak bisa tidur, mencoba merangkum percakapan papan skor dengan Raam.

Gagal Panen India. Kelaparan dan Ratusan petani bunuh diri karena tidak bisa membayar hutang mereka.

Kita mencipta bibit terbaik.

Yayasan memberi bibit dan penyuluhan cuma-cuma. Panen India berhasil. Kepercayaan tumbuh. Petani mulai membeli bibit kita dalam jumlah banyak.

Petani berhutang untuk membeli bibit lebih banyak.

Dua tahun berlalu. Mereka mulai menyisipkan antidot. Bibit rusak yang diberikan.

Tidak hanya rusak, juga merusak ekosistem. Bibit yang mengandung zat pencemar tanah.

Tanah tidak akan bisa ditanami lagi hingga bertahun-tahun. Air yang mengalir di tanah itu juga tercemar. Terbawa ke sungai, ke laut.

Panen gagal. Petani berhutang. Tanah disita. Begitulah cara mereka menguasai perekonomian. Menguasai tanah India.

Dan mereka akan mulai menguasai pertanian Indonesia. Pikirku melayang pada peta bertanda panah. Melayang pada rekayasa genetika kelapa sawit yang sedang kukerjakan.

– – – –

Pagi hari di Ngapulu. Chopperku berangkat menjauhi pusat penelitian. Kali ini hanya menuju Bali. Waktu berlibur tiba.

Sebuah pesawat Jet menanti di Bandara komersial, mengantarku menuju Bali. Satu jam perjalanan saja mestinya. Dua pengawal menemaniku. Pesawat mendarat, juga di bandara komersial. Aku turun lebih dulu, dua penjaga dibelakangku.

10 detik aku turun, pesawat meledak. Sesuai perhitungan, ucapku. Dua pengawal berjarak 5 meter dibelakangku terjungkal terkena ledakan. Aku, menyelinap pergi dengan mudah. Sesuai perhitungan.

Dalam perjalanan, kulihat televisi menayangkan kilas berita. Ledakan dan asap tebal di Puncak Getser, Pegawai Freeport dievakuasi karena ditakutkan terjadi longsor..

Aku tertawa, sepertinya kantor pusat atau yayasan atau departemen pertahanan atau apalah yang membawahi pusat penelitian itu, terlambat mencegah penyebaran berita ledakan dan kebakaran. Aku dengan teknologi yang kumiliki, meretas dan mengunduh gambar dari kamera terluar keamanan fasilitas. mengirimnya ke salah satu stasiun televisi. Mereka kegirangan mendapat berita terkini. Meski anonim tetap ditayangkan. Semoga stasiun televisi itu tidak ditutup karena tayangan ini.

Ledakan itu, juga aku yang membuatnya. Kelemahan fasilitas canggih adalah mereka dibangun untuk melindungi diri dari serangan luar. Banyak celah untuk menyerang dari dalam. Caraku sangat sederhana, hanya meretas instalasi listrik dan membuat arus pendek pada beberapa lokasi. Berikutnya prosedur keamanan merekalah yang membuat fasilitas itu meledak dan hancur dalam hitungan menit sejak terjadi arus pendek bersamaan. Kurasa itu dilakukan untuk mengamankan semua rahasia yang tersimpan didalamnya, jika terjadi serangan.

Aku tidak tahu apakah ada korban jiwa. Apakah ada prosedur evakuasi sebelum fasilitas penelitian otomatis diledakkan. Aku juga tidak peduli apakah hasil penelitian kami terselamatkan. Dokumentasi tertulis mungkin masih tersimpan baik. Namun setidaknya membutuhkan waktu untuk membangun kembali pusat penelitian, mengulang kembali setiap fase penelitian. Setahun atau dua tahun. Kuharap itu mampu memberi jeda pada dunia, memberi kekebalan pada bumi untuk menyembuhkan diri dari senjata biologis berbentuk bibit yang Aku dan teman-temanku (tidak sengaja) buat.

Aku. Mungkin setelah ini aku tidak ada lagi di dunia. Sangat mudah bagi organisasi seperti departemen pertahanan untuk menemukanku. Tidak ada yang akan merasa kahilangan aku. Tapi semoga, setiap kali suatu fasilitas rakayasa genetika dibangun, akan ada orang-orang sepertiku yang siap meledakkannya kembali.

Semoga, suatu saat ceritaku ini membuka mata kalian, yang terjajah.

—-

:terinspirasi, intepretasi pribadi dan penyederhanaan isu di
http://globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=23503

Advertisements

2 thoughts on “Puncak Ngapulu

    • Makasih 🙂

      Itu gara2 nyasar ke pohonbodhi.blogspot.com isi post nya teori konspirasi semua.

      Terus jadi keinget jaman dulu ngantor di suatu departemen dimana ada lembaga penelitian asing juga berkantor, tengah malem aku sering liat mobil anti peluru mondar-mandir dikawal senjata api pakai seragam asing. Jadi terpikir, virus indonesia dicuri asing untuk dibuat vaksin dan dijual lagi dg mahal di indonesia brarti nyata adanya. (Yg dulu digugat mantan menkes).

      Dan jadilah crita pusat rekayasa gen *yang ngaco ini* :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s