Standard

Merindukanmu itu seru !

Ada orang-orang dalam kehidupan kita yang senantiasa mendapat tempat khusus, spesial, VIP.

Jika jauh, kita akan merindunya. Baiklah ralat, mungkin aku, bukan kita. Jika jauh, aku akan merindunya. Merindu memeluknya, mencium aroma tubuhnya yang sangat kuhapal, bercengkrama, tertawa, marah, sedih, tentang masa kini, masa lalu, masa datang. Rindu dibuatkan kopi, dimasakkan lemang duren..

Aku rindu emak. Ya emakku. Wanita cantik yang selalu tersenyum lembut. Senantiasa mengingatkanku menunaikan sholat, makan, mandi, tidur, dan tetek bengek lainnya. Wanita yang tidak pernah cemburu ketika aku alpa menelponnya karena sibuk dengan wanita lain. Wanita tempat aku berpulang, melabuhkan segala letih jiwa, berharap doa dan restunya agar kuat dan mudah aku mengarungi hidup.

Kapan terakhir aku bertemu emak? Kapan terakhir aku pulang kampung? Aisssh hampir setahun lalu. Anak durhaka macam apa aku. Jakarta – Palembang, dengan pesawat hanya satu jam. Berlindung di balik alasan padatnya pekerjaan.

“Emaaaakkk aku pulang ! Joni pulang maaaaak !!”

Emak menjemputku di bandara. Memelukku erat sepanjang perjalanan. Dari mobil pickup yang kami tumpangi, dia menyapa setiap tetangga yang dijumpai sepanjang perjalanan, sambil berteriak, “anakku pulang”. Ah emak, tetap kau cinta aku meski anakmu ini sering melupakanmu.

Malam semakin larut, aku dan emak masih bercakap-cakap. Bapak sudah tidur.

“Joni, jangan lupa ziarah makam Cinda.”

“Iya Mak, Mamak kira aku pulang karena rindu Emak. Tidaklah, aku rindu Cinda.” Jawabku kurang ajar sambil tertawa. Emak juga tertawa, tahu kalau aku bergurau.

“Kau nih, rindu Cinda boleh. Tapi tetap harus kau cari perempuan lain.” Emak seperti biasa, bisa membaca isi hatiku. “Kalau kau larut terus dalam kenangan lama, Kapan bisa emak undang teman-teman emak rayakan nikahan kau? Kapan emak timang cucu? Kapan bapakmu bisa pensiun itu, kasih pabrik, kebun karet, kebun sawitnya kau urus? Oiiiiii Joni…”

Ah emak, terkadang merindumu lebih seru. Ketimbang bertemu lalu diserbu pertanyaan menikah dan mewarisi usaha bapak. Duh, anak durhaka aku !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s