Standard

Inilah aku tanpa mu

Cinda..

Hampir 17 tahun sejak terakhir aku melihatmu. Namamu membawa ingatanku pada seragam SD kotor penuh percikan tanah. Kita berlarian di kebun tebu Wak Dullah. Sembunyi dari kejaran empunya kebun. Ketika berhasil lolos, kita pulang sambil tertawa terbahak, menyesap tebu curian. Aku kelas 3SD, dan kamu masih kelas 1, kala itu.

Kenakalan yang menyisakan gatal dan kulit merah menyiksa, terkena buku-buku tebu. Apalagi ketika sampai dirumah, mamakmu sudah sediakan sepiring tebu dalam potongan kecil-kecil. Bersih, halal, tidak pakai gatal.

“Aku menyesal mencuri tebu. Lain kali jangan ajak aku lagi.” Katamu. Membuatku merasa bersalah, dan berjanji tidak akan mengajakmu melakukan kenakalan semacam itu. Tapi janjiku tidak bertahan lama. Karena sesudah itu sederet keusilan lain kita lakukan. Cari belut di bawah rumah panggung wak Jalil yang penuh lumpur, mandi di sungai yang jauh, menyelam mengambil koin di pelabuhan Bom baru, mencari ulat pisang untuk dijual ke Mang Dodoy sebagai makanan arwananya. Semua hal yang membuat mamak bapak kita pening, harus sering membelikan seragam baru karena seragam lama terlalu kotor.

Ada juga kala dirimu sangat keras kepala. Kamu teriak tidak karuan saat pernikahan Ci’ Lala, tante mu.

“Aku juga mau nikah. Aku mau nikah sama kak Joni. Ayoo dandani aku !” Rengek dan tangis mu sembari menghentakkan kaki.

Akhirnya kamu didandanilah seperti Ci’ Lala, songket dan bunga rampai di kepala mu. “Cantik.” Pujiku. Tapi tak lama, aku jadi sebal karena demi menemanimu harus juga kupakai songket dan Teluk Belanga. “Panas.” Protesku padamu, yang hanya dijawab dengan tawa manismu.

Jadilah kita berdua ikut berada di atas panggung, menerima ucapan selamat bersama kedua mempelai. Tamu-tamu tertawa geli melihat kita. Teman-teman tak henti mengejekku. “Joni pacar Cinda, Joni pacar Cinda..” Aku berang, dan sejak itu tidak mau lagi main denganmu.

Tapi tidak lama Cinda, dua bulan saja. Setelah itu aku rindu lagi bermain dengan mu. Tapi ketika aku ke rumah mu, kamu tidak ada. Sedang di Rumah Sakit Kotamadya kata Wak mu. Demam berdarah mewabah saat itu. Kamu tidak tertolong, kembali ke rumah terbujur kaku

Aku menangis. Saat itu tidak tahu kamu akan pergi selamanya. Aku hanya ingin kamu bangun dan kita main layangan lagi. Tapi kamu tetap tertidur.

Ketika tanah mulai diturunkan di makammu, aku mulai paham bahwa dirimu tidak akan kembali lagi. Yang kuingat aku berteriak memanggil namamu keras-keras. Mamak memelukku sambil berkata, “Istigfar Joni. Kirimlah doa saja ketimbang air mata.”

Cinda..

Inilah aku tanpamu. Aku baik-baik saja. Kamu juga baik-baiklah disana. Senantiasa kukirim doa untukmu, cinta masa kecilku.

Advertisements

6 thoughts on “Inilah aku tanpa mu

    • Ga sedihhhh, cuma lagi nostalgia itu. Nanti ditambahin smiley deh dibelakang :p

      Btw aku tdnya nulis ini terlepas dr kisah Joni yg playboy, tp kamu komen kalo jgn2 ini penyebab Joni jadi playboy.. Jadi kepikiran, ‘iya juga ya.’ (Tambahin di cv nya Joni). Tengkyuu

  1. btw dian, dari kemaren2 kamu punya penyakit salah sambung partikel.
    yg mestinya disambung, malah dipisah nulisnya
    Misalnya tanpamu, kamu nulisnya tanpa mu.
    melihat mu, nama mu, rumah mu
    sering banget dan terus2an kayaknya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s