Jadilah milikku, mau?

Jadilah milikku, mau? Jadilah milikku, mau? Jadilah milikku, mau?

Terus kuulang kalimat itu dalam hati. Seperti dukun pelet merapal ajian serat hati, lengket jiwa.

Tasya, ya Tasya. Sejak melihatnya menggunakan jilbab, aku merasa jatuh cinta padanya. Ini bukan operasi penaklukan seperti yang biasa kulakukan pada para anak magang unyu kantorku, bukan. Kurasa aku sungguh jatuh hati padanya, tidak dapat dijelaskan. Masalahnya aku tidak tahu harus memulai dari mana menyatakan perasaan ini pada Tasya. Ada kala nya Primbon Joni si Penakluk tidak mampu memberi solusi, seperti saat ini misalnya. Ketika harus menaklukkan menggunakan hati.

Bagi Tasya, aku berlabel rusak. Sebelum dia berjilbab, pernah juga kutolak permintaannya pacaran denganku. Jadi apa yang harus kulakukan untuk meyakinkannya bahwa aku pria baik-baik sungguhan, yang dicarinya selama ini.

Tapi Joni tidak pernah mundur sebelum perang dimulai. Apapun pendapat Tasya tentangku, akan tetap kuminta dia jadi milikku.

Jadilah milikku, mau? Jadilah milikku, mau? Jadilah milikku, mau? – lalu kurapal lagi kalimat itu sambil berjalan menuju ruangnya.

Didepan ruang Tasya, kulihat seorang pria mencari Tasya. Tampan. Tapi tetap lebih tampan Joni lah. Naluri kompetisi ku timbul. Mungkin dia salah satu pesaing yang hendak mengucap kalimat sama pada Tasya.

“Cari Tasya, Mas? Ada keperluan apa?” Tanya ku tidak ramah.

“Mau antar contoh desain. Mbak Tasya yang order.” Jawabnya sopan, namun membuatku gerah karena merasa sainganku ini pria baik-baik.

“Di kantor ini ada art desainer. Jadi ga perlu ada outsource kerjaan ke pihak luar. Pasti ini salah paham. Silahkan keluar Mas.”

“Tapi pak..”

“Ga pake tapi. Kita ga butuh outsourcing kerjaan desain. Dan jangan panggil saya Pak, saya masih muda.” Aku murka tanpa alasan.

“Mas Jon !” Tasya datang. Aku melunak dan tersenyum padanya. “Mas Jon udah gila ya, ngomel-ngomel sama tamu. Memang Mas Jon kenal orang ini? Hayo minta maaf.” Tasya dengan Intonasi tinggi.

“Tapi Sya, kalau kamu ambil desain dari luar, lalu orang-orang seperti aku kerjanya apa?”

“Oh jadi Mas Jon mau bantu kerjain. Oke. Silakan kerjain. Nanti kita lihat desain mana yang lebih bagus. Materinya ada dimeja ku.”

“Okay dear, begini kan lebih adil untukku.” Hati ku berbunga. Satu project bersama Tasya akan memudahkan masuk ke dunia dan hatinya. “Kamu lagi kerjain client yang mana sih?”

“Client? Kita lagi bahas desain undangan nikahan aku, tiga bulan lagi.”

“…..”

Advertisements

8 thoughts on “Jadilah milikku, mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s